Dihadang Sekelompok Warga, Tim Reskrimsus Polda Sulut “Gagal” Police Line Lahan di Pegunungan Rumagit

0
277
Upaya Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Utara (Sulut), melalui Tim Reserse Kriminal Khusus (Reskrimsus) untuk melakukan kroscek sekaligus police line terhadap lahan atas nama Welly F. Lewan, yang ada di Desa Tungoi I, tepatnya di pegunungan Rumagit, Kecamatan Lolayan,
Tampak aksi pengahdangan rombongan oleh warga

BOLMORA.COM, HUKRIM –  Upaya Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Utara (Sulut), melalui Tim Reserse Kriminal Khusus (Reskrimsus) untuk melakukan kroscek sekaligus police line terhadap lahan atas nama Welly F. Lewan, yang ada di Desa Tungoi I, tepatnya di pegunungan Rumagit, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), gagal dengan adanya aksi palang jalan oleh sekelompok warga Desa Tanoyan Selatan.

Iring-iringan kendaraan Tim Reskrimsus Polda Sulut berjumlah 10 personel yang dipimpin oleh Kanit Subdit I Kompol Prevli Tampanguma dan Kanit Subdit II Kompol Veky Bimbanaung, beserta sejumlah personel TNI, Polhut, dan juga dari pihak pertanahan itu dihadang di kompleks pasar tradisional Desa Tanoyan Selatan.

Pantauan awak media, tampak sejumlah warga yang berlagak seperti preman bayaran, menunjuk-nunjuk salah satu anggota Tim Reskrimsus, dan menyebut jika oknum anggota Tim Reskrimsus tersebut sebelumnya telah melakukan police line di lokasi tambang emas Potolo, yang berdekatan dengan lahan pegunungan Rumagit.

Loading...

“Komdan ini tuhari dabaplice line. Mar setelah itu dibuka dan ada aktivitas lagi. Nintau apa dorang pemau,” ucap salah satu warga, dengan dialeg logat Manado.

Aksi penghalangan jalan oleh warga tersebut berlangsung sekitar 30 menit. Warga meminta rombongan agar menghargai permintaan mereka, sebelum masuk ke wilayah desa agar meminta izin ke kepala desa.   

“Kalau mau lewat harus minta izin dulu ke kepala desa. Di sini ada pimpinan wilayah. Jangan sembanrangan masuk tanpa ada izin,” catus warga lainnya.

Negosiasi dengan warga tidak berhasil, bahkan situasi semakin memanas. Bahkan, sedikit terjadi ketegangan di depan rumah Ketua BPD Tanoyan Selatan Ismet Olii. Salah satu oknum warga berteriak-teriak dan sempat memukul salah satu mobil rombongan hingga pennyok. Rombongan langsung balik arah menuju rumah kepala desa untuk melapor. Namun, setibanya di rumah kepala desa yang diketahui bernama Urip Detu, sedang tidak berada di tempat.

Direskrimsus Polda Sulut melalui Kanit Subdit II Dit Reskrimsus Kompol Veky Bimbanaung, ketika dikomfirmasi mengatakan kedatangan pihaknya untuk melakukan kroscek terkait keabsahan Sertipikat Hak Milik (SHM) dan Surat Kepemilikan Tanah (SKT) lahan yang berada di pegunungan Rumagit atas nama Welly F. Lewan.

“Padahal Kita datang hanya melakukan kroscek keabsahan sertipikat lahan yang saat ini terjadi saling klaim kepemilikan, tapi dari warga tidak mengizinkan kita untuk naik ke lokasi,” ungkapnya.

Ditanya terkait giat selanjutnya yang dilakukan. Veky menyebut akan melakukan mediasi.

“Kita lakukan mediasi. Masing-masing pihak akan kita panggil, termasuk kepala desa di dua desa yang berbatasan, yakni Kepala Desa Tanoyan Selatan dan Tungoi I,” ujarnya.    

 Sekadar diketahui, lahan yang saat ini terjadi saling klaim kepemilikan bernomor SHM 00558, dengan tanggal penerbitan 29 Oktober 2013 itu sempat terjadi sengketa antara Adri Kobandaha dan Welly F. Lewan. Bahkan sengketa tersebut sampai di Pengadilan Negeri (PN) Kotamobagu. Namun, setelah menjalani beberapa kali sidang, PN Kotamobagu aknhirnya memenangkan Welly F. Lewan, dan mengembalikan haknya sebagai pemilik sah yang didukung dengan sertipikat.

Tepatnya pada Januari 2019, lahan tersebut telah dijual oleh Welly F Lewan, kepada seorang pengusaha sukses asal Kabupaten Bolmong. Seiring waktu berjalan, lahan tersebut diduga telah diserobot oleh sekelompok orang yang menamakan Koperasi Medio Potolo.

Sebelumnya juga, lahan yang memiliki kandungan emas tersebut pernah diolah oleh beberapa oknum pengusaha, untuk menggaruk material. Polda Sulut pun sudah beberapa kali melakukan police line terhadap aktivitas pertambangan digembar gemborkan berada di lokasi Potolo itu.

Ironisnya, saat ini Koperasi Medio Potolo dan sejumlah pengusaha lainnya kembali bebas melakukan aktivitas di lokasi tersebut. Olehnya, komitmen dan ketegasan Polda Sulut yang beberapa waktu lalu telah melakukan police line terhadap aktivitas yang diduga tidak berizin dan telah merambah lahan yang bukan milik koperasi itu dipertanyakan.

(Tim Redaksi)      

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here