Sebuah Referensi Imajinatif Puisi (Bagian Terakhir)
OLEH: Hamri Manoppo
Jamal memainkan ‘figuratif’ kata mewarnai puisi-puisinya, layaknya ia memainkan kamera. Klik sana, klik sini. Yang abadi sudah. Seperti puisi “Sepenggal Desember”, tercetuslah beragam diksi sederhana namun memiliki kesan mendalam; buih laut – beduk subuh – burung dan gunung – secangkir teh – menyimpan luka – air mata, ditutup dengan cericit anak ayam keriangan. Puisi pertama ini memang ‘misteri’ seperti hanya ditangkap dengan memindah-mindahkan kamera. Ah, Jamal aku tertantang membedah rumahmu.
Memasuki puisi kedua aku mulai menemukan Jamal. Keseimbangan antara kata-kata figura dan kata-kata kongkrit mulai berimbang. Aku mulai merasakan; berapa harga kicauan burung-burung — yang makin terhimpit di sela-sela ketiak kota. (Torotakon, 2017: 2). Di sinilah Jamal berkata; “di rimbunan mana para penyair menemukan puisi yang bersembunyi.
Pada puisi ketiga, ‘Tanjakan Atoga’ secara tegas Jamal berkata; “sebab Inde’ Dou dan para Bogani tentu kecewa menyaksikan cucu cicitnya belum juga puas melukai belukar — dan tiap hari lalai memaknai kebaikan semesta”. Penyair memang peka dengan berbagai tingkah laku manusia yang merugikan berbagai pihak. Penggergajian kayu tentulah merusak alam jika tidak tertata dgn baik.
Pada puisi “Torotakon” Saya menemukan jiwa seorang Jamal yang menjadi “Orang Buyat”. Asli. Jamal berhasil menangkap impresi sebuah danau kecil saat kita memasuki gerbang Buyat. Hampar kebun kelapa, petani, sawah, serta bukit Torotakon membangun imajinasi yang besar, bahkan tembus hingga ke lobang tambang emas. Sebab ”Ketika musim panen menjelma ritual gigit jari/ lambaian janur melemah di pucuk lidi/ seperti denyut senja di rumah-rumah sepi. Jamal prihatin dengan petani karena jauh sebelum panen mungkin padi telah dibeli tengkulak. Bahkan tambang yang dikelola secara tradisional disambutnya dengan kata-kata ”di kakimu para penambang/ menggali maut dari liang nafasnya sendiri/ para penunjang kadang tumbang/ dan tak bisa lari”.
Pada puisi ‘Tutuyan 2016’, Jamal membeber kritik-kritik menarik tentang kehidupan perekonomian Boltim. Sebagai Ibu Kota hampir semua sisi puisi ini berbicara, bahkan secara menyeluruh kekayaan bumi tanah Boltim masih jauh dari kesejahteraan yang diinginkan. Pasar yang belum ada, penerangan kota, nelayan yang gelisah, anak yang putus sekolah, lobang tambang ribuan tapi yang berhasil hanya satu dua. Sebenarnya naluri keprihatinan Jamal, juga sudah menyeruak dalam ‘Torotakon’–puisi pamungkas yang dijadikan judul antologi puisi ini.
Lalu, ketidakpuasan Jamal ia “ledakkan” dalam “Pesan Sebuah Pena”. Mari kita nikmati penggalannya; “bapak bupati/ dengan penamu sendiri/ coretlah semua draf kompromi/ yang ditawarkan para pencuri/ tulislah sangsi bagi pejabat lupa diri/ buatlah rumus-rumus penawar ambisi”. Lewat puisi inilah Jamal berbisik kepada penguasa.
Menikmati Puisi-puisi Jamal dalam buku ini, semakin ke dalam semakin tergambar bahwa ia datang ke Boltim tidak sekedar berpeluang. Ia belajar menguasai geografisnya, ia menelusuri mitos-mitos dan legenda-legenda leluhur, ia berusaha menyelami peradaban. Ia mencatat nama-nama bersejarah : Inde’ Dou, Pondabo, para Bogani, serta sejumlah mitos-mitos. Imajinasi ‘kameranya’ sungguh jeli. Kata-kata ‘reporter radionya’ bertutur indah. Lukisan-lukisannya menggambar nyata.
Jamal muncul dalam khasanah sastra Indonesia dengan gayanya. Perhatikan uraian mitosnya; ”ada isyarat belum kukenali/ membawaku ke sini/ di timur negeri Bogani/ pada sebuah malam sebelum purnama/ Pondabo datang di mimpiku…,” Demikian pula dengan penyelaman penyair tentang keindahan alam, Jamal melihat beberapa Tanjung di Boltim serta tempat yang inspiratif seperti tergambar dalam puisi “Tanjung Woka”, Tanjung Bubuan”, “Hikayat Sebuah Sungai”, Di Timur Ratatotok”, “Dengarlah Denyut Teluk Ini”. Jamal merangkainya dengan menyisipkan misteri makna dalam dunia puisi.
Sebagai seniman, Jamal juga prihatin dengan para tokoh ternama yang terlupakan, kita lihat pada puisinya, “Pendekar Yang Kini Rebah”, atau “Kisah Perupa Yang Terlupa”, perhatikan keprihatinannya pada sosok yang dianggapnya guru, “ Yong, jemarimu semakin ringkih mencengram tube/ tapi semangat di lenganmu masih sigap menampik irama kusam/ di wajah zaman /di wajahmu /gambar sepi setia dibuahi malam/.
Melengkapi isi buku ini sebagai petualangan seni, Jamal mengabadikan kota Frangfurt Jerman. Satu selipan menarik dalam buku ini. Ia tentu tak membandingkan kota besar ini dengan peradaban desa Buyat, dia hanya berceloteh di akhir puisi ini dengan kata-kata: “lalu kutulis segala angan di perahu kertas/ dan kularungkan pada tepi sebuah sungai di museumsufer/ berharap kita kan menjemputnya bersama/ nanti di muara kali jengkol”.
Terlepas dari puisi-puisi lain yang ia kemas secara imajinatif di tempat lain, serperti gunung gamalama, serta beberapa cafe tempat dia menikmati uap kopi dan teh hangat ada puisi yang menarik lainnya dengan judul “Frase-Frase dari Langit” yang ditulisnya berulang-ulang hingga lima kali. Disinilah aku menemukan jamal secara paripurna. Ia bermain gelombang radio, bermain lensa, bermain pena, bermain kuas dan kanvas; multi telenta! “Den, rupanya kau masih tangguh/ menelan radiasi ultaviolet/ tersebab kekasih coba menukar/ gelombang radio yang kau tancapkan penuh peluh/ dengan aurora dari langit baru di hatinya”. Jamal juga mengingat katamsi, Iverdixon, serta sejumlah orang yang menjadi inspirator bagi dirinya saat menulis puisi.
Bertandang ke “Rumah Sastra” Jamal di Boltim, dalam kurun waktu singkat memang saya senang, walaupun belum setara waktu bertandang ke rumah Rendra, Taufik Ismail dan lali-lain yang pernah kulalui lima belas tahun lalu. Mengapa? Jamal muncul dengan dimensi banyak talenta. Kepekaan seni yang menyebar pada fotografer, pelukis, penyiar, bersastra terasa susah untuk menuju karya yang paripurna. Jika semua talenta itu fokus pada satu saja, saya yakin Jamal akan jauh lebih sempurna. Ia harus memilih mana yang paling utama. Sastrawan saja terkadang masih memilih fokus ke penyair atau prosais apalagi talenta Jamal yang bagai empat dimensi. Seorang penyanyi yang berbakat juga bermain filem terkadang harus berfokus pada satu saja, dan itu yang membuat dia lebih sukses.
Hanya dengan fokus lebih ke puisi, Jamal akan lebih sempurna dengan puisi yang struktur fisik dan jiwa jadi seimbang. Puisi tak sekedar pintar bermain metafora, serta berbagai diksi bahasa, tetapi tema dan tujuan selalu menjadi kepuasan bagi kita jika dimengerti oleh penikmat. Kehebatan kamera, kepiawaian menyiar, tergambar jelas pada “misteri-misteri puisi Jamal”. Kendatipun demikian patutlah saya bersyukur karena sempat bertandang ke “Rumah Sastra” jamal di Boltim. Saya bangga dengan talentanya yang ‘empat dimensi’ itu, mungkin sosok Jamal adalah salah satu Sastrawan Indonesia yang harus mensyukurinya. Baiklah…, Assalamualaikum, saya pamit Jamal, mohon maaf jika ada tingkah tamu yang keliru. Puisi memang misteri. Lain waktu saya datang dengan puisi yang lain dalam “Torotakon”. Sebab Buyat adalah kampung leluhurku juga, ayah Ibu saya Barumbung Modeong. Dan akhirnya, tentu tidak berlebihan rasanya jika saya mengatakan; membaca antologi puisi “Torotakon” berarti anda akan mengenal Jamal sekaligus Boltim.(**)
Penulis adalah Budayawan yang tinggal di Desa Kopandakan I, Kecamatan Kotamobagu Selatan – Kota Kotamobagu



