Pemkot Kotamobagu Respon Cepat Isu Isolasi Karyawan PT JRBM di Sejumlah Hotel

0
895
Pemkot Kotamobagu Respon Cepat Isu Isolasi Karyawan PT JRBM di Sejumlah Hotel
Suasana rapat koordinasi Pemkot Kotamobagu dengan manajemen PT JRBM dan pengelola hotel
Advertisement

BOLMORA.COM, KOTAMOBAGU – Adanya isu puluhan karyawan PT J Resources Bolaang Mongondow (JRBM) bertatus reaktif Covid-19 yang diisolasi di sejumlah hotel di Kota Kotamobagu, tampaknya langsung menuai perhatian serius oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Kotamobagu, dengan menggelar rapat koordinasi bersama manajemen PT JRBM  dan para pemilik hotel.  

Rapat koordinasi yang digelar di Aula Kantor Wali Kota Kotamobagu, Jumat (16/7/2021) pagi tadi, dipimpin oleh Sekretaris Kota Sande Dodo, didampingi para Asisten, Kepala BPBD, Kepala Dinas Kesehatan, Kepala Diskominfo, dan Kepala Dinas Pariwisata, yang juga melibatkan Ketua MUI, perwakilan dari Polres Kotamobagu, serta perwakilan Manajemen JRBM dan parapemilik hotel yang menjadi tempat isolasi para karyawan PT JRBM.

“Rapat ini untuk menanggapi isu yang viral beberapa hari terakhir ini. Saya dapat info dari media bahwa ada sejumlah karyawan PT JRBM yang positif Covid-19, kemudian diisolasi di beberapa hotel di Kota Kotamobagu,” ungkap Sande, saat memimpin rapat.

Menurut Sande, untuk orang yang terkonfirmasi positif Covid-19 harusnya diisolasi di rumah sakit, kecuali orang tanpa gejala.

“Bisa saja diisolasi di hotel, tapi harus diterapkan protokol kesehatan secara ketat dan tidak boleh ada interaksi. Pihak hotel pun tidak boleh menerima tamu umum. Kalau masih menerima tamu dari luar tidak ada gunanya diisolasi. Sementara, kalau diisolasi di rumah, harus diawasi orang rumah,” tegasnya.

Dalam rapat tersebut, pihak Polres Kotamobagu yang diwakili Kabag Ops Kompol Johan Damopolii, turut memberikan tanggapan terkait isu isolasi karyawan PT JRBM.

Dikatakan, isolasi karyawan PT JRBM di hotel sudah menjadi isu negatif. Karena kalau isoasi di hotel savety-nya belum tentu maksimal. Bisa jadi yang diisolasi ke luar cari makan atau belanja.

“Isu ini yang beredar luas. Kami menyarankan kalau bisa ada tempat lain yang dijadikan isolasi. Kalau bisa di Lanut sana, supaya lebih baik lagi. Masyarakat tidak berfikir lain. Tapi, kembali lagi ke SOP yang diterapkan pihak JRBM,” ucap Kompol Johan.

Sementara, Manajemen PT JRBM yang diwakili Eksternal Relation Dwi Broto mengungkapkan, pihaknya memilih isolasi di hotel agar lebih aman dan bisa dikontrol.

“Sebagian besar karyawan kami ada di wilayah Bolmong Raya (BMR) khususnya Kota Kotamobagu, sehingga kami memilih melakukan isolasi di hotel. Kami pikir ini lebih aman dan bisa dikontrol setiap hari oleh dokter dan penjaga,” sebutnya.

Broto mengakui, saat ini ada 56 karyawan PT JRBM yang diisolasi di tiga hotel di Kota Kotamobagu.

“Semuanya reaktif swab antigen. Hotel yang kami gunakan untuk isolasi karyawan tidak bisa menerima tamu umum. Jadi, hanya karyawan JRBM saja. Itu yang jadi kesepakatan kami dengan pihak hotel. Untuk yang reaktif antigen, kami melakukan dua kali tes PCR. Tes pertama jika negatif akan dilanjutkan dengan tes PCR kedua. Jika positif dan tidak memiliki gejala, tetap menajalani isolasi di hotel. Sedangkan mereka yang negatif PCR dua kali tes, langsung kami izinkan pulang. Untuk yang positif hasil PCR dan memiliki gejala, kami pindahkan ke rumah sakit Pobundayan atau Siloam Manado,” jelasnya.

Dilain pihak, pengelola Hotel Tamasya yang dijadikan tempat isolasi oleh PT JRBM mengaku pihaknya tidak menerima tamu umum semenjak hotelnya digunakan sebagai tempat isolasi.

“Sudah masuk dua pekan hotel Tamasya digunakan JRBM untuk Isolasi. Kami tidak lagi menerima tamu umum, kerana kesepakatan dengan pihak JRBM. Bahkan jika ada keluarga yang datang, kami tidak izinkan bertemu. Kalaupun ada yang membawa makanan hanya sampai di lobi, nanti akan diteruskan karyawan hotel. Untuk pemberian makanan karyawan JRBM semuanya kami perlakukan dengan protokol kessehatan yang ketat. Tidak ada karyawan hotel yang kontak langsung. Kamar tidur pun dibersihkan sendiri. Pihak JRBM juga menempatkan kordinator lapangan sebagai security untuk menjaga karyawan yang diisolasi,” pungkas pengelola Hotel Tamasya.

(Tim Redaksi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here