9 Siswa MTs N 1 Kotamobagu Diperiksa Polisi, Berikut Penjelasan Kepsek

0
9 Siswa MTs N 1 Kotamobagu Diperiksa Polisi, Berikut Penjelasan Kepsek
9 Siswa MTs Negeri 1 Kotamobagu saat diperiksa polisi terkait dugaan bulliying
Advertisement

BOLMORA.COM, HUKRIM – Sebanyak 9 orang siswa MTS Negeri 1 Kotamobagu diperiksa Polres Kotamobagu, terkait dugaan kasus perundungan atau bullying terhadap korban BT (13) yang menyebabkan meninggal dunia.

Kepada sejumlah wartawan, Kepala sekolah (Kepsek) MTs Negeri 1 Kotamobagu Intan Safitri Mokodompit mengatakan bahwa, anak-anak yang terlibat dalam kasus dugaan bullying itu sudah diundang oleh kepolisian.

“Sebelumnya mungkin berbagai media sosial menyebut sembilan anak membuly, mengikat kaki, mengikat kepala, dipukul dan ditendang. Kami tegaskan itu tidak benar. Kejadiannya nanti diberikan keterangan lengkap oleh kepolisian,” kata Safitri, Senin (13/6/2022).

Baca: Diduga Korban Bully, Seorang Siswa Madrasah di Kota Kotamobagu Meninggal Dunia

Dia menjelaskan, kesembilan anak tersebut diperiksa Polisi masih sebagai saksi.

“Saat ini, sembilan siswa tersebut sedang dimintai keterangan sebagai saksi. Tersangka atau pelaku itu belum ada penetapan, dan kami sepenuhnya menyerahka kepada pihak kepolisian,” ungkapnya.

Safitri juga menyampaikan permohonan maaf dari pihak MTS Negeri 1 Kotamobagu, karena sudah lalai sehingga peristiwa tersebut terjadi di lingkungan sekolah.

“Kami menyampaikan turut berduka cita kepada keluarga korban, dan kami sebagai guru pendidik mohon maaf. Kami lalai dan di luar kontrol. Memang, dihari Senin hingga Sabtu tidak ada laporan yang membully atau berkelahi, ataupun sesuatu yang terjadi di luar biasanya, karena tidak ada laporan, hingga kami tidak tahu kejadian ini,” bebernya.

Baca juga: Dinas P3A Kota Kotamobagu Lakukan Pendampingan Terhadap HM Korban Bullying

Sebelumnya, informasi didapat dari pihak keluarga, kejadian perundungan tersebut terjadi pada Rabu (8/6) di sekolah usai korban mengikuti ulangan. Saat itu, korban BT pergi ke Masjid untuk salat Zuhur. Saat hendak mengambil air wudhu, tiba-tiba ada orang yang menutupi bagian muka korban menggunakan sajadah. Setelah itu, korban diduga dianiaya di bagian perut, dan korban langsung meringis kesakitan. Setelah pulang sekolah dan tiba di rumah, korban pun langsung mengeluh sakit di bagian perut. Mendengar keluhan tersebut, pihak keluarga dan orang tua melarikan korban ke RSUD Kota Kotamobagu. Setelah dilakukan pemeriksaan di RSUD Kota Kotamobagu, korban selanjutnya dirujuk ke RSUD Prof Kandouw Malalayang, Manado, pada Sabtu (11/6/2022), karena ada kelainan usus. Meski sudah dilakukan tindakan medis, namun nyawa korban tidak tertolong, hingga korban meninggal dunia Minggu (12/6/2022).

(R3/Gun)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here