Dapat Cendera Mata dari PT Conch, Sukardi Malah Bingung Ditanya Soal Gratifikasi

0
Dapat Cendera Mata dari PT Conch, Sukardi Malah Bingung Ditanya Soal Gratifikasi
Tampak Sangadi Solog saat menerima souvenir dari PT Conch

BOLMORA.COM, BOLMONG – PT Conch North Sulawesi Cement (CNSC), diduga melakukan gratifikasi kepada Sangadi Desa Solog Sukardi Paputungan.

Pabrik semen yang berlokasi di Desa Solog tersebut memberikan cendera mata berupa ukiran kayu dengan hiasan lukisan panda kepada Sukardi.

Sebagaimana dikatahui, ketentuan mengenai gratifikasi diatur dalam Undang-undang 31/1999 dan Undang-undang 20/2001 Pasal 12, disebut gratifikasi adalah pemberian dalam arti luas yang meliputi pemberian uang tambahan (fee), hadiah uang, barang, rabat (diskon), komisi pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lainnya. Dengan demikian, cendera mata termasuk gratifikasi.

Selanjutnya dalam Undang-undang Nomor: 20/2001 menjelaskan, setiap gratifikasi yang diperoleh pegawai negeri atau penyelenggara negara adalah suap. Tetapi, ketentuan ini tidak berlaku apabila penerima gratifikasi melaporkan gratifikasi yang diterimanya kepada Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK) selambat-lambatnya dalam waktu 30 hari kerja, terhitung sejak tanggal gratifikasi tersebut diterima.

Dalam hal ini, Sangadi termasuk penyelenggara negara. Dugaan gratifikasi tersebut terungkap ketika Sukardi dengan polosnya memposting sebuah foto di akun medsosnya. Tampak dalam foto, Sukardi dan seorang lelaki berseragam biru muda, mirip seragam PT Conch, memegang sebuah cendera mata ukiran kayu dengan hiasan lukisan panda. Saat itu, Sangadi didampingi istrinya.

 “Kunjungan Mr Lee dari Conch, dalam rangka silaturahmi,” begitu ditulis akun tersebut.

Sukardi saat dikonfirmasi wartawan, mengakui jika dirnya menerima cendera mata itu.

“Mereka datang hanya sekedar silaturahmi saja, karena mungkin saya sangadi baru. Soal cendera mata yang mereka berikan, saya sendiri belum tahu apa maksud pemberian mereka,” ungkapnya.

Sukardi mengaku belum sebulan menjabat sangadi. Ia dilantik 19 Desember 2019. Saat disebut pemberian PT Conch bisa mengarah ke gratifikasi, Sukardi tampak kebingungan.

“Saya belum paham dengan yang begitu (Gratifikasi), jadi saya cuma terima begitu saja,” jelasnya.

Sementar itu, menurut Randy Lobud dari Unit Pengelolah Gratifikasi (UPG) Inspektorat Bolmong bahwa dari KPK, gratifikasi itu adalah menerima pemberian.

Menurut Pasal 12B ayat (1) Undang-undang Nomor: 31/1999 jo Undang-undang Nomor: 20/2001, berbunyi setiap gratifikasi kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dianggap pemberian suap, apabila berhubungan dengan jabatannya dan berlawanan dengan kewajiban atau tugasnya.

“Sangadi termasuk penyelenggara atau pejabat,” katan Randy.  

Ia juga menyarankan kepada oknum sangadi yang menerima souvenir agar melaporkan ke pihak Inspektorat Bolmong.

“Jika sangadi belum tahu prosesnya, silakan ia mengunjungi kantor Inspektorat. Nanti kita akan bimbing kalau dokumen apa yang akan disiapkan,” imbaunya.

Nelly dari PT Conch, ketika dikonfirmasi lewat WA mengatakan, sovenir yang diberikan sebagai tanda silaturahmi. Sebut dia, hal itu sudah jadi budaya perusahaan.

“Gratifikasi yang diberi itu kerajinan tangan tradisional China, yang dalam hal ini panda menjadi ciri khasnya, sekalian mengenalkan kerajinan tangan dari China,” terangnya.

(Agung) 

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here