Tanpa Perdes, Sangadi Bakan Diduga Lakukan Pungli ke Setiap Warga yang Masuk PETI

0
491
Tanpa Perdes, Sangadi Bakan Diduga Lakukan Pungli ke Setiap Warga yang Masuk PETI
Sangadi Desa Bakan Hasanudin Mokodompit
Advertisement

BOLMORA, BOLMONG – Keberadaan pos penjagaan untuk melakukan pungutan liar (Pungli) ke pekerja Pertambangan Tanpa Izin (PETI) yang berada di jalan perkebunan Desa Bakan, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), ternyata bisa meraup ratusan juta setiap bulannya.

Dengan pendapatan yang cukup banyak itu, sontak mendapat sorotan dari salah satu warga Desa Bakan. Menurut warga, pihak Pemerintah Desa (Pemdes) tidak pernah menyampaikan total penghasilan dari pos tersebut. Bahkan penjagaan pos penagihan diduga telah sepenuhnya melibatkan keluarga Sangadi Desa Bakan Hasanudin Mokodompit.

“Semenjak adanya pos pungli di jalan akses masuk ke PETI itu, yang katanya hasil pendapatan untuk pembangunan Masjid di desa, sampai saat ini tidak jelas. Hasilnya saja kami tidak ketahui berapa. Selain itu, pengelolaan pos kebanyakan dari keluarga Sangadi Desa Bakan,” ungkap warga yang enggan namanya dipublis, Sabtu (22/9/2018).

Terpisah Sangadi Desa Bakan Hasanudin Mokodompit, membenarkan adanya pungutan bagi para pekerja yang masuk ke PETI.

“Memang ada biaya masuk lewat pos penagihan. Setiap orangnya dibebankan biaya Rp5.000, dan itu kecil dibandingkan yang mereka dapat dari pengelolaan PETI,” ucapnya saat dihubungi, Minggu (23/9/2018).

Dikatakan juga bahwa, keberadaan pos tersebut sudah lewat musyawarah Pemdes Bakan, Tokoh Masyarakat dan warga. Menurutnya, dilakukan penagihan biaya masuk untuk pembangunan Masjid di desa.

“Uang yang diberikan para pekerja dari Desa Bakan dan luar desa, untuk pembangunan tempat ibadah. Walaupun itu sudah dikatakan pungli, tapi ini demi kepentingan pembangunan di desa. Apalagi dampak dari PETI ke depan yang merasakan adalah warga saya. Yang mana, sudah merusak lingkungan, tapi kami dapat apa?. Dan ini sudah lewat musyawarah,” kilah Hasanudin.

Dijelaskan, untuk pendapatan per hari Rp4 juta. Itu, kata Sangadi yang sudah menjabat dua tahun ini, tidak setiap harinya, tergantung mereka yang masuk ke PETI.

“Ada pekerja yang sampai berminggu-minggu di PETI, ada juga yang setiap harinya. Jadi pendapatan tidak menentu, hanya jika ramai bisa Rp4 juta setiap harinya, ada juga yang Rp2 sampai Rp3 juta setiap harinya,” bebernya.

Dilanjutkannya bahwa, keberadaan pos tersebut sudah tujuh bulan terakhir, dan pendapatan dari Pungli itu sudah mencapai Rp700 juta.

“Semua pendapatan itu kami pusatkan untuk pembangunan Masjid, dan saat ini kami sedang membangunan pagar di keliling Masjid,” terang Hasanudin.

Dia juga membantah jika ada keterlibatan keluarganya yang menjaga pos tersebut.

“Jadi kami pakai sistem setiap RT yang menjaga, dan itu bergantian. Jika kata mereka semuanya keluarga saya, itu sama sekali benar, karena semua yang terlibat adalah masyarakat,” tegasnya.

(agung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here