Farida Serukan “STOP Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak”

0
905
Farida Serukan “STOP Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak”
Foto bersama uasi sosialisasi Pencegaran Kekerasan Dalam Rumah Tangga

BOLMORA.COM, BOLMONG – Kekerasan terhadap perempuan dan anak adalah fakta yang tidak terbantahkan terjadi di Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong). Mirisnya, kasus ini mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Melansir dari data Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PP dan PA) Bolmong, di bulan ke-7 tahun 2020 saja Kabupaten Bolmong sudah mengoleksi 101 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Angka ini jauh berbeda dari tahun lalu yang hanya mengoleksi 52 kasus, sampai akhir tahun. 

Selain jumlah yang tinggi, hal yang paling menyedihkan adalah tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak adalah menyangkut pelaku dan lokasi kekerasan yang terjadi.

Dari data yang dihimpun menunjukan, pelaku tindak kekerasan terbanyak adalah orang-orang terdekat. Seperti ayah, suami, kakek, paman, tetangga bahkan pacar korban. Kasus terjadi tidak hanya kekerasan fisik, namun juga kekerasan seksual sampai pada penelantaran.

Hal ini terungkap dalam sosialisasi Pencegahan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) sejak dini, Kamis (19/11/2020), di ruang rapat lantai dua kantor Bupati Bolmong yang digelar oleh Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kementerian PP dan PA) RI, dan Pemkab Bolmong. 

“KDRT merupakan kejadian yang merusak sendi-sendi utama ketahanan keluarga dengan korban terbanyak perempuan dan anak. Dampaknya pun juga akan terbawa dalam siklus kehidupan dan tumbuh kembang anak dalam rumah tangga. Oleh karena itu, meskipun sulit pencegahan KDRT bisa dimulai dari keluarga itu sendiri,” ujar Kepala Dinas PP dan PA Bolmong Farida Mooduto, saat membawakan materi.

Menurutnya, Faktor dominan penyebab KDRT bersifat kolektif atau multy factors. Oleh karena itu, solusi yang diperlukan juga terdiri dari banyak faktor dan perlu melibatkan banyak pihak. Misalnya kesiapan dalam membangun rumah tangga, kedewasaan calon pengantin, kesiapan ekonomi, pengetahuan masing-masing pasangan, lingkungan keluarga, lingkungan sosial, budaya dan lain-lain. Farida juga menambahkan KDRT menyerupai lingkaran sebab akibat yang kompleks dan rumit namum memiliki dampak yang cukup signifikan pada anak. 

“Anak yang tumbuh dan berkembang dalam keluarga yang mengalami KDRT cenderung akan meniru ketika mereka dewasa. Anak perempuan yang melihat ibunya dipukul pleh ayahnya, dan ibunya diam saja tidak melapor atau melawan, maka anaknya cenderung melakukan hal yang sama ketika dalam berumah tangga, ia mengalami KDRT,” papar Mama Ipan Sapa akrabnya.

Perlu menjadi perhatian bahwa, untuk mengatasi kekerasan terhadap perempuan membutuhkan upaya yang serius dibidang hukum dan budaya. Besar harapan Farida melalui kegiatan ini peserta dapat memsosialisasikan secara luas kepada tetangga dan kerabat tentang ajakan ‘Stop Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak’.

“Serangkaian upaya terus kami lakukan untuk mencegah KDRT, mulai dari keluarga dan anak-anak. Besar harapan agar sosialisasi ini memberikan pemahaman pada generasi muda tentang potensi, pencegahan, dan dampak dari KDRT, serta pemahaman tentang pentingnya ketahanan keluarga. Selain itu, keterlibatan laki-laki juga menjadi hal yang tidak boleh terlewatkan dalam hal pencegahan KDRT. Seluruh elemen masyarakat harus berkolaborasi dalam pencegahan dan penghapusan KDRT sedini mungkin,” pungkasnya.

Menurutmya, aspek yang harus diperhatikan adalah bagaimana memulihkan perempuan dan anak yang emnjadi korban kekerasan , sebeb proses pemulihan bagi perempuan dan anak bukanlah hal yang mudah, terlebih yang mengalami kekerasan seksual, akan membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk memulihkannya. 

“Kebutuhan utama bagi perempuan dan anak yang menjdi korban yakni, kebutuhan medis, layanan hukum dan layanan pemulihan pisikis,” tuutpnya, sembari menyuarakan Stop Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak.

(Agung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here