Sebuah Resensi Imajinatif Puisi (Bagian 1)
Oleh: Hamri Manoppo
Siang itu saya menikmati perjalanan istimewa, Kopandakan-Buyat yang jauhnya kurang lebih tujuh puluh kilometer biasanya dengan waktu tempuh rata-rata satu setengah jam, saya kemas dalam tempo lima belas menit, menggunakan ‘pesawat’ imajinatif. Kali ini saya tidak merasakan dinginnya udara tepi danau mooat. Tak sempat mencium aromacdaun cengkih yang ceria. Tak sempat memandang tanah gundul bekas sergapan tambang. Dan, tanpa was-was dengan liukan-liukan tajam, serta jurang dan ngarai yang menganga. Karena benak saya terfokus pada ‘Rumah Sastra’ Jamal di desa Buyat.
Sayup kudengar nyanyian ombak pantai Lakban, riuh cericit burung-burung di pulau Kumeke. Ah, indah benar perjalanan imajinasi melintasi lembah ibu kota Tutuyan. Memasuki desa Buyat takjub kupandang singgasana Jamal yang auranya menjulang hingga kelangit. Riak kecil danau Luak dan pantul bayang bukit Torotakon, petani dan penambang bergelayut di tepi jalan, mengais rezeki menyambung hidup. Benar, saat aku tiba seorang lelaki gagah berdiri sambil berkedip mata pertanda keakraban saat dia bertandang ke rumah telah terjaga. Saat mata beradu dengan para pesohor negeri ini: Rendra, Sutardji, Emha Ainun Najib atau Taufik Ismail, misalnya.
Aku mendorong daun pintu yang terangkai dari imajinasi kata, sebuah mahligai indah temurun dari darah Gorontalo-Minahasa, lalu menancapkan tekad sastra di bumi Totabuan. Aku berdecak kagum dengan jerih-payahnya membangun ‘Rumah Sastra’. Sebuah rumah impian, perpustakaan abadi, jati diri harkat dan nilai kehidupan. Aku bahkan lupa mengucap salam, karena mataku sigap melucuti seluruh rumah. Fondasi dan lantainya kata-kata, tiang-tiangnya naskah teater dan drama, atapnya pias-pias puisi, dindingnya lukisan dan foto-foto indah, lemarinya gundukan novel, dapurnya panggung kehidupan. Ah, Jamal kita sedarah. Sejiwa.
Saat dekat lemari mataku tertuju pada kitab “TOROTAKON” sebuah buku baru kau antar padaku di malam tak terduga itu. Lalu aku membuka helai demi helai, empat puluh delapan puisi membawaku hingga jauh melampaui cakrawala. Pada puisi pertama, aku bertanya karena Iverdixon Tiningku berkata dalam pengantarnya: Jamal punya multi talenta, sastrawan-fotografer. Mengecap puisi ‘Sepenggal Desember’ terasa jamal baru mulai membangun rumah. Saya teringat sastrawan besar dari Amerika, Edgar Allan Poe berkata bahwa “puisi adalah misteri”. Minimya kata-kata kongkrit sebagai ketakutan memberi kritik konvensional menjadikan sebuah puisi menjadi misteri. Bayangkan saat Chairil berkata, “aku ini binatang jalang” lalu ia tutup dengan “aku mau hidup seribu tahun lagi”, (BERSAMBUNG)
Penulis adalah Budayawan yang tinggal di Desa Kopandakan I, Kecamatan Kotamobagu Selatan – Kota Kotamobagu, Provinsi Sulawesi Utara



