Abu Sayyaf Eksekusi Sandera Asal Kanada
Abu Sayyaf Eksekusi Sandera Asal Kanada
Bolmora, Internasional – Sebelumnya diberitakan, kelompok Abu Sayyaf selain menyandera Hall, ada juga sandera asing yang diancam dieksekusi bernama Kjartan Sekkingstad asal Norwegia. Pengumuman dari Abu Sayyaf itu juga berlaku untuk sandera perempuan asal Filipina, Marites Flor. Adapun pengumuman tersebut diberi batas waktu untuk melakukan penebusan sandera asing berakhir sampai dengan hari senin (13/6/2016) pukul 15.00 sore.
Kabar barunya, Kelompok Abu Sayyaf dilaporkan telah melakukan eksekusi mati terhadap seorang sandera asing. Eksekusi ini dilakukan setelah batas waktu yang diberikan Abu Sayyaf kepada pemerintah yang warganya mereka sandera untuk membayar tebusan, telah lewat.
Melansir The Star, yang mengutip The Philippine Inquirer pada Senin (13/6/2016), sandera yang dieksekusi oleh Abu Sayyaf diketahui bernama Robert Hall, seorang warga negara Kanada.
Pelaksanaan eksekusi ini disampaikan langsung oleh juru bicara Abu Sayyaf Abu Raami. Melalui sambungan telepon kepada The Philippine Inquirer, Raami menuturkan pihaknya telah mengeksekusi Hall, dan tubuh Hall akan ditemukan di suatu tempat di kota Jolo pada hari Senin.
Keluarga dari sandera asal Kanada yang dieksekusi oleh Abu Sayyaf di Filipina menyampaikan mereka setuju dengan kebijakan pemerintahnya yang menolak membayar tebusan, Selasa (14/6/2016).
Kematian kedua dari warga Kanada yang dieksekusi oleh Abu Sayyaf yaitu Robert Hall (sebelumnya yang dieksekusi pertama kali adalah John Ridsdel) menuai kecaman keras dari Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau.
Trudeau juga menegaskan walaupun Pemerintah Kanada sangat mengutuk keras eksekusi tersebut namun mereka tetap tidak akan membayar uang tebusan. Trudeau menuturkan, jika Pemerintah Kanada membayar tebusan tersebut dapat mendorong terjadinya penculikan lagi ke depannya.
Dilaporkan, keputusan dari Pemerintah Kanada tersebut didukung oleh keluarga dari Robert Hall.
“Keluarga kami walaupun berada di waktu yang kelam setuju sepenuhnya dengan kebijakan Kanada untuk tidak membayar tebusan,” tutur keluarga Hall dalam sebuah pernyataan, sebagaimana dikutip dari Reuters, Rabu (15/6/2016).
“Kami berdiri tegak dengan cita-cita yang membangun negara ini; (yaitu) karakter yang kuat, ketahanan semangat dan menolak untuk mengalah dengan permintaan (mereka orang-orang) yang buruk,” tambah pernyataan tersebut.
Sementara itu, Angkatan Bersenjata Filipina sejauh ini masih mencoba memverifikasi pernyataan Raami terkait eksekusi Hall. Juru bicara Komando Mindanao Barat, Mayor Filemon Tan, menyatakan pihaknya masih menunggu laporan dari pasukan yang berada di lapangan mengenai hal ini.
“Saya tidak bisa mengkonfirmasi atau menyangkal hal itu. Kami belum mendapatkan laporan dari unit kami di lapangan. Saya akan memberikan informasi terbaru segera setelah kami mendapatkan data atau laporan dari unit di lapangan,” kata Tan.
Editor : Ady



