Harga Minyak Dunia Melonjak 8 Persen, Ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz Guncang Pasar Energi Global

Harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari 8 persen pada perdagangan Senin pagi akibat eskalasi ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz. West Texas Intermediate menembus $104,8 per barel sementara Brent crude menyentuh $102,7 per barel dalam hitungan menit. Kecemasan investor terhadap gangguan pasokan energi melalui jalur pelayaran paling strategis di dunia memicu gelombang kepanikan di pasar komoditas global.
WTI Tembus $104 dan Brent Lampaui $102, Lonjakan Terjadi Hanya dalam 10 Menit
Data perdagangan pukul 07.19 waktu Asia pada 13 April 2026 mencatat lonjakan harga minyak yang sangat dramatis. West Texas Intermediate melesat ke level $104,8 per barel, naik $8,24 atau setara 8,53 persen dalam 10 menit terakhir. Brent crude sebagai patokan harga minyak internasional ikut melejit $7,54 atau 7,92 persen ke posisi $102,7 per barel. Kecepatan lonjakan harga itu mencerminkan betapa paniknya investor merespons perkembangan situasi di Timur Tengah.
Sementara itu, Murban crude justru bergerak berlawanan arah dengan tergelincir 1,47 persen ke level $98,16 per barel. Gas alam turut menguat 2,15 persen ke posisi $2,705 seiring meningkatnya permintaan energi alternatif. Divergensi pergerakan harga antar komoditas ini mencerminkan kompleksitas dinamika pasar energi global saat ini. Trader global berlomba menyesuaikan posisi portofolio mereka menghadapi ketidakpastian geopolitik yang terus berkembang.
Brent futures di Intercontinental Exchange dan kontrak WTI di New York Mercantile Exchange kompak melonjak tajam. Investor agresif memasukkan premi risiko Timur Tengah yang jauh lebih tinggi ke dalam kalkulasi harga kontrak berjangka. Langkah itu mencerminkan kekhawatiran serius bahwa konflik AS-Iran berpotensi meluas dan mengganggu aliran minyak secara struktural. Pasar berjangka kini memperhitungkan skenario terburuk sebagai basis penetapan harga jangka pendek.
Selat Hormuz Jadi Episentrum Kecemasan, Serangan Rudal dan Drone Perkeruh Sentimen Pasar
Selat Hormuz kembali menjadi titik panas yang menentukan arah pergerakan harga minyak dunia. Perairan strategis itu menanggung hampir 20 persen pasokan minyak dan gas global setiap harinya. Serangkaian pertukaran serangan rudal dan drone di kawasan tersebut memaksa trader mewaspadai potensi gangguan aliran energi. Ketidakpastian itu langsung mendorong investor memindahkan dana ke instrumen komoditas energi sebagai aset lindung nilai.
Ketidakjelasan dampak gencatan senjata AS-Iran terhadap aktor-aktor regional lain semakin memperkeruh sentimen pasar. Sejumlah kelompok bersenjata di kawasan Timur Tengah berpotensi memanfaatkan situasi ini untuk memperluas lingkup konflik. Trader memantau setiap perkembangan diplomatik dan militer secara real-time sebagai dasar pengambilan keputusan. Akibatnya, volatilitas harga minyak diprediksi tetap tinggi selama ketidakpastian geopolitik ini belum terselesaikan.
Para analis menegaskan bahwa persepsi ancaman saja sudah cukup memicu fluktuasi harga yang tidak proporsional. Kondisi ini terutama terjadi setelah berbulan-bulan produksi produsen besar berjalan stabil tanpa gangguan berarti. Setiap sinyal bahwa ekspor minyak dari produsen Teluk berpotensi terhambat langsung memicu reaksi pasar yang berlebihan. Fenomena ini mencerminkan betapa sensitifnya pasar energi global terhadap faktor geopolitik di era ketidakpastian ini.
Biaya Asuransi Tanker Melonjak, Volatilitas Harga Minyak Diprediksi Berlanjut Jangka Pendek
Dampak ketegangan Selat Hormuz kini merambat ke sektor logistik dan asuransi maritim secara signifikan. Perusahaan asuransi global menaikkan premi untuk kapal tanker yang berencana melintas di kawasan Teluk secara drastis. Kenaikan biaya asuransi itu langsung menambah beban operasional perusahaan pelayaran dan berpotensi memperlambat arus pengiriman minyak. Hambatan transportasi ini memperpanjang rantai dampak negatif ketegangan geopolitik terhadap pasar energi global.
Berbagai upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan AS-Iran terus berlangsung di berbagai forum internasional. Namun demikian, pasar energi global tetap berada dalam kondisi waspada tinggi dan belum menunjukkan tanda-tanda menenangkan diri. Setiap pernyataan dari Washington maupun Teheran langsung memicu reaksi harga yang tajam di bursa komoditas. Kondisi itu menempatkan pasar minyak dalam siklus volatilitas yang sulit diprediksi dalam waktu dekat.
Analis memperingatkan bahwa gangguan kecil sekalipun di jalur Selat Hormuz bisa memicu lonjakan harga yang jauh lebih ekstrem. Produsen besar seperti Arab Saudi dan UEA memang berkapasitas menambah produksi, namun logistik distribusinya tetap tergantung pada keamanan selat tersebut. Oleh karena itu, resolusi diplomatik yang cepat menjadi satu-satunya cara efektif menstabilkan pasar energi global. Selama ketegangan AS-Iran belum mereda, harga minyak dunia dipastikan terus bergejolak dan menekan perekonomian global.
- AS Gelar Operasi Militer Buka Selat Hormuz, Iran Ancam Respons Keras atas Klaim Kapal Perang AS
- Harga Minyak Dunia Naik Tajam, Trump Ancam Hancurkan Infrastruktur Energi Iran dalam 48 Jam



