Taqabbalallahu minna wa minkum. Minal Aidin Wal Faizin, mohon maaf lahir dan batin!

Jagad

Harga Minyak Dunia Naik Tajam, Trump Ancam Hancurkan Infrastruktur Energi Iran dalam 48 Jam

Harga minyak dunia naik signifikan pada Senin setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan ultimatum keras kepada Iran: buka kembali Selat Hormuz dalam 48 jam atau hadapi penghancuran total infrastruktur energinya. Lonjakan harga minyak global ini langsung mengguncang pasar keuangan internasional dan mempertegas kekhawatiran atas krisis energi berkepanjangan.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,44 persen ke level $98,66 per barel pada pukul 00.15 GMT. Lebih awal di hari yang sama, WTI sempat menyentuh sedikit di atas $100 per barel – ambang psikologis yang belum terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

Selat Hormuz yang kini diblokir Iran menjadi titik paling kritis dalam krisis energi ini. Melalui jalur sempit itu, sekitar 20 persen pengiriman minyak dan gas dunia biasanya melintas setiap harinya. Blokade tersebut hampir melumpuhkan seluruh arus pengiriman minyak melalui perairan itu.

Akibatnya, harga minyak melejit drastis. Sebagai perbandingan, pada 27 Februari – sehari sebelum serangan militer AS-Israel terhadap Iran dimulai – WTI masih bertengger di $67,02 per barel dan Brent di $72,48 per barel. Kini keduanya telah melonjak jauh melampaui angka tersebut.

Harga minyak Brent Laut Utara, acuan pasar global, tercatat di level $112,17 per barel, turun tipis 0,02 persen pada sesi yang sama.

Lewat platform Truth Social-nya, Trump memposting ancaman tegas pada Sabtu malam. Ia menyatakan pasukan AS siap “menyerang dan menghancurkan” pembangkit listrik Iran – dimulai dari yang terbesar – apabila Teheran tidak membuka penuh Selat Hormuz sebelum pukul 23.44 GMT, Senin.

Iran tidak tinggal diam. Militer Teheran langsung merespons dengan menyatakan akan membidik infrastruktur energi dan desalinasi milik AS serta sekutunya di kawasan itu. Pernyataan tersebut dirilis kantor berita Fars dan mempertegas eskalasi konflik yang kian berbahaya.

Saling ancam antara Washington dan Teheran ini terjadi saat perang memasuki pekan keempat – tanpa tanda-tanda mereda.

Dampak ekonomi dari perang Israel-Iran langsung terasa di pasar saham Asia. Dua indeks utama kawasan ini rontok tajam di awal perdagangan Senin:

  • Kospi Korea Selatan terjun 4,69 persen ke level 5.509,88 poin
  • Nikkei 225 Jepang melemah 3,54 persen ke level 51.483,91 poin

Investor global bereaksi cepat terhadap ketidakpastian geopolitik yang kian memanas. Ketegangan di Timur Tengah kini bukan sekadar krisis regional – ia telah berubah menjadi guncangan ekonomi global yang nyata.

Kepala Militer Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir, mengumumkan perluasan operasi darat melawan Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon. Ia memperingatkan bahwa operasi tersebut akan berlangsung panjang dan terstruktur.

“Kami kini mempersiapkan diri untuk memajukan operasi darat yang ditargetkan dan serangan sesuai rencana yang terorganisir,” ujar Zamir pada Minggu.

Sementara itu, Iran terus menggempur infrastruktur energi di kawasan Teluk menggunakan rudal dan drone, sekaligus mengancam kapal-kapal yang berani melintas di Selat Hormuz – memperparah krisis pengiriman minyak yang sudah kritis.

Lonjakan harga minyak dunia ini mencerminkan betapa dalamnya dampak konflik bersenjata terhadap stabilitas ekonomi global. Selama Selat Hormuz tetap terblokir dan ultimatum Trump belum dijawab secara konkret oleh Iran, volatilitas harga energi internasional dipastikan akan terus berlanjut.

Pasar keuangan global kini menahan napas – menunggu apakah diplomasi atau eskalasi militer yang akan mengisi jam-jam berikutnya.

Refli Puasa

Aktif di dunia blogging sejak 2003 dan bergerak Aktif sebagai jurnalis sejak tahun 2010. "Mengamati, merespons, merekam dan menceritakan kisah" #DSAS

Berita Terkait

Back to top button