Pantai Tanjung Ompu Terancam Hilang
BOLMORA.COM, BOLMONG – Dari objek wisata “papan atas”, pantai Tanjung Ompu di Desa Lalow, Kecamatan Lolak, Kabupaten Bolmong, kini menjadi objek wisata “degradasi”. Bahkan ke depannya terancam hilang karena masuk wilayah pertambangan batu gamping dan lempung.
Saat dikunjungi, pantai itu Sabtu (9/1/2021) sore. Suasana sepi menyeruak. Seorang pengunjung pun tak nampak. Dermaga yang jadi daya tarik pantai itu, tersisa cagak – cagak kayu yang berdiri tak beraturan di atas air. Samping pantai itu berdiri sebuah bangunan.
Tak jauh dari situ terdapat sebuah bidang tanah seluas 30 meter, berisi tiga buah gundukan pasir setinggi 10 meter. Gundukan pasir Itu adalah jejak sebuah perusahaan penambang pasir besi.
Bupati Bolmong Yasti Soepredjo Mokoagow pernah menertibkan perusahaan tersebut pada 2019 lalu. Berdirinya perusahaan pasir tersebut punya andil terhadap matinya tanjung ompu. Pasir di sana dikeruk. Aktivitas pertambangan membatasi akses masuk ke ompu. Akhirnya ompu tak lagi “disentuh” pada setiap akhir pekan atau pada hari raya lebaran. Tapi kenangan Ompu sulit dilupakan.
“Dulunya ini pantai paling top di BMR. Jalan trans sulawesi sampai macet parah gara gara orang antri ke Ompu,” kata Agung seorang warga
Warga Kotamobagu. Agus bercerita, ompu dulunya sangat indah. Pasirnya halus. airnya jernih.
“Pemandangan pun elok. Apalagi melihat tanjung samping pantai ini,” kata dia.
Agung sewaktu kecil selalu menghabiskan akhir pekan di ompu bersama keluarga. Waktu itu ke Ompu adalah kebanggaan.
“Tak lengkap rasanya jika libur tak kesana,” kata dia.
Keindahan Ompu mengundang imajinasi seorang pembuat lagu. Ia membuat lagu tentang pantai itu.
“Sampai sampai ada lagunya,” katanya.
Beberapa waktu terakhir, Ompu mulai ramai seiring penertiban pertambangan. Namun bayi yang baru lahir kembali. Tempat itu diwacanakan jadi lokasi pertambangan gamping dan lempung. Jika demikian, situs bersejarah Bolmong dapat hilang.
Menurut pemerhati sejarah dan budaya Bolaang Mongondow, Hairun Mokoginta, Tanjung Ompu memiliki histori sejarah paling penting dan utama bagi suku Mongondow. Tempat tersebut di tahun 60-an dikeramatkan
“Pada masa sebelum kerajaan Bolaang Mongondow, wilayah ini disebut Totabuan. Leluhur suku Mongondow, para Bogani yang ada di pedalaman saat mengetahui kawasan Totabuan sudah diduduki suku dari Bangsa lain langsung bergerak, dan terjadi peperangan yang menelan banyak korban jiwa. Pada waktu itu Bogani Yayubangkai dan Silagondo memimpin peperangan tersebut. Setelah suku Mongindanaw keluar dari wilayah itu, Bogani yang ada melakukan ritual sumpah dan mendoakan atau Pinongompu’an. Para Bogani berdoa supaya anak cucu Mongondow dapat hidup layak disitu,” ucap Hairun.
Bahkan Hairun mengungkapkan di lokasi tersebut ada gua yang didalamnya terdapat meja dan kursi dari batu.
“Di Tanjung Ompu itu bisa ditemukan Gua yang didalamnya ada kursi dan meja dari batu. Tapi itu bisa ditemukan saat air surut. Artinya kalau tidak ada Pinongompu’an atau Tanjung Ompu, maka tidak ada Mongondow. Disana ada sumpah dan doa atau Odi Odi. Dimana Bogani bersumpah siapa yang datang mengganggu akan kena kutukan dan selanjutnya Bogani berdoa, anak cucu akan hidup makmur. Kami sebagai pemerhati budaya dan sejarah Mongondow meminta agar Pemkab Bolmong dapat menyurat ke Gubernur dan Pemerintah pusat sehingga wilayah yang ada disitu dapat dilokalisir dari aktivitas pertambangan. Ada sekitar 50 hektar wilayah Tanjung Ompu itu yang harus di selamatkan.” pinta Hairun.
(Agung)



