Keberadaan Penyu di Kabupaten Bolmong Perlu Dilestarikan
Oleh : Agung H. Dondo Kepala Biro Media Siber Bolmora.Com di Kabupaten Bolmong)
KETIKA sedang berjalan di pesisir Pantai Bungin, di Desa Motabang, Kecamatan Lolak, Kabupaten Bolmong akhir pekan lalu, saya melihat sesuatu yang aneh di pasir. Ada bekas cakaran, dan pasir itu tampak lebih tinggi dari sekitarnya.
Saya pun penasaran dan mulai menggali di tempat bersandarnya kapal para nelayan di Pantai Bungin. Setalah kulihat, ketemulah sejumlah telur penyu. Saya pun terus menelusuri, hingga ditemukan induk penyu yang berada tidak jauh dari tempat telur tersebut.
Saya coba bertanya kepada seorang nelayan yang berada di sekitar pantai tersebut. Ali Laloan namanya, mengatakan bahwa biasanya penyu datang di kawasan pantai saat bulan purnama, dan saat badai atau hujan deras. Penyu-penyu tersebut biasanya datang untuk bertelur. Jumlahnya sangat banyak. Bukan hanya bulan purnama, tapi juga jika lautan sedang berombak besar dan badai beserta petir, seperti yang terjadi belakangan ini. Penyu-penyu ini juga akan mendatangi pulau secara bergerombol.
Perjalanan saya untuk melihat Penyu tidak berakhir di Pantai Bungin. Saya diantar Ali Laloan dengan perahunya di pulau Molosing, tepat di depan Pantai Bungin. Sebelum sampai di pulau, saya terlebih dahulu dimanjakan mata dengan pemandangan Pantai Bungin yang memiliki hamparan pasir putih yang memanjang kurang lebih 200 meter, dengan bentangan alam dan panorama yang indah. Keberadaan Pantai Bungin tentunya menjadikan perjalanan ke Pulau Molosing menjadi salah satu destinasi wisata bahari yang wajib dinikmati di Kabupaten Bolmong.
Dari Pantai Bungin menuju ke Pulau Molosing hanya perlu waktu perjalanan selama 15 menit saja, menggunakan perahu nelayan bermotor tempel, dengan tarif Rp20.000 sekali jalan. Tak hanya itu, saya juga ditawarkan memancing ikan di tengah lautan, dengan menyewa perahu. Tarif perahunya Rp200.000 untuk waktu enam jam.
Sesampainya di Pulau Molosing, tidak hanya keindahan pesona bentangan alam yang bisa dinikmati. Di situ juga menjadi tempat persinggahan para nelayan. Sehingga, para pengunjung bisa langsung membeli hasil tangkapan nelayan dengan harga yang relatif murah. Mata wisatawan juga akan termanjakan dengan sunset yang luar biasa indahnya. Gradasi warna hangat di langit yang membias di permukaan laut sungguh indah, dengan selingan keriangan anak-anak nelayan yang mandi di pantai.
Sesampinya di Pulau Molosing, Ali Laloan mengungkap jika Penyu di daerahnya banyak diburuh untuk dijual atau direbus. Terkadang dia menyelamatkan telur penyu demi sebuah kehidupan berkelanjutan salah satu hewan laut yang kini dilindungi dari kepunahannya.
Menurutnya, habitat penyu di Pantai Bungin dan Pulau Molosing tengah terancam oleh perburuan. Penyu diburu untuk dijual atau dimakan. Nasib yang sama dialami telurnya. Sehingga tak heran jika populasi penyu di pantai itu terus berkurang. Padahal dulunya banyak, tapi sekarang sangat jarang penyu datang di Pantai Bungin. Bahkan sekarang, di Pulau Molosing pun penyu hanya bisa dihitung dengan jari.
Di Pantai Bungin, penyu terancam dengan banyak predator. Ada predator alam. Namun, paling berbahaya predator manusia.
Ali berharap, penangkaran penyu bisa diadakan di sana. Agar penyu bisa diselamatkan, dan tempat itu dapat diberdayakan menjadi objek wisata. Dengan demikian, pemerintah juga diuntungkan. Karena, pasti ada pemasukan retribusi dari para wisatawan.
Sayangnya, ketika ditanya ke pemerintah daerah melalui Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bolmong Ulfa Paputungan, terkait keberadaan dan kepunahan penyu, ia mengatakan baru mengetahui kalau di Pantai Bungin dan Pulau Molosing ada penyu. Bahkan ia mengetakan belum pernah melakukan ekspansi terkait keberadaan penyu di pantai dan pulau tersebut. Padahal, Pantai Bungin dan Pulau Molosing masuk dalam pengembengan parawisata, baik dari pemerintah kabupaten maupun provinsi.
Kendati demikian, Ulfa mengaku jika tahun depan akan ada penambahan fasilitas untuk wisatawan yang datang di Pantai Bungin. Untuk saat ini, anggarannya baru di pemeliharaan di pingiran pantai, belum di Pulau Molosing.
Ulfa mengaku akan melakukan koordinasi untuk membahas rencana pengembangan wisata Pantai Bungin dan Pulau Molosing.
Kepala Bappeda Kabupaten Bolmong Yarlis Awaludin Hatam, membenarkan juka Dinas Parawisata dan Kebudayaan telah mengusulkan pengadaan prasarana wisata di Bolmong dalam RAPBD tahun 2020. Namun usulannya dalam skala luas, bukan hanya di Pantai Bungin.
Pun informasi yang diperoleh, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Utara sementara memproses kasus pembunuhan hewan yang dilindungi, seperti penyu yang diposting di sebuah akun Facebook, pada 4 Maret 2019 lalu.
Hendrik Rundengan, dari Badan Konservasi Sumber Daya Alam menyebut bahwa kasus itu sudah diteruskan ke Seksi Penegakkan Hukum LHK, supaya membantu penanganannya.
Diketahui, akun Facebook yang memposting kejadian itu adalah guru di Kabupaten Bolmong. Dalam statunya, dia menulis “Berkat melimpah. 2 (dua) ekor penyu (tuturuga)”.
Dalam postingan tersebut dua ekor penyu sudah dalam keadaan mati dan dipotong-potong. Tampak penyu tersebut sudah terpisah dari cangkangnya, dan ada foto-foto lain penyu yang sudah terpisah-pisah tersebut. Namun, pada keseokan harinya, postingan itu tampak sudah dihapus. Yang bersangkutan pun telah memberikan klarifikasi.
Postingan ini mendapat reaksi keras dari warga yang tahu bahwa penyu adalah hewan yang dilindungi, dan tak bisa dikonsumsi.(**)
Penulis Adalah Warga Kelurahan Upai, Kecamatan Kotamobagu Utara – Kota Kotamobagu, Sulawesi Utara



