MengIntip Desa Coklat di Kabupaten Bolmong

0
654
MengIntip Desa Coklat di Kabupaten Bolmong
Waktu itu, saya datang di masa buah coklat masih muda. Saya disapa hangat oleh seorang warga bernama Amir. Dia berkata saya salah datang. Jika datang di musim panen, pasti saya akan melihat tanaman coklat dijemur di depan semua rumah warga

Oleh: AGUNG H. DONDO (Kepala Biro Media Siber Bolmora.Com di Kabupaten Bolmong)

DERETAN pohon coklat menyambut kedatangan saya kala memasuki Desa Konarom, Kecamatan Dumoga Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong). Di desa berpenduduk 900 jiwa ini, pohon coklat ada di mana-mana. Mulai dari pekarangan, kebun, belakang rumah, hingga puncak bukit.

Waktu itu, saya datang di masa buah coklat masih muda. Saya disapa hangat oleh seorang warga bernama Amir. Dia berkata saya salah datang. Jika datang di musim panen, pasti saya akan melihat tanaman coklat dijemur di depan semua rumah warga.

Tak bisa dimungkiri, Desa Konarom dikenal sebagai desa “coklat”. Berdasarkan data yang diperoleh dari kantor Kecamatan Dumoga Barat, hampir 90 persen warga Konarom adalah petani coklat. Harga coklat yang cukup tinggi, yakni mencapai 30 ribu per kilo, membuat petani Konarom hidup sejahtera.

Secara kasat mata, terlihat rumah warga desa tersebut semuanya terbuat dari beton. Beda dengan rumah desa sekitar, yang sebagiannya terbuat dari kayu. Pemukiman bersih, drainase tertata rapi, bahkan sepeda motor dan mobil parkir di depan rumah atau garasi. Ini mengisyaratkan bahwa masyarakat di desa ini hidup sejahtera. 

Pengakuan Roni Kobandaha, salah satu pegiat tanaman coklat, kebanyakan warga Konarom sudah naik haji. Demikian anak-anak mereka sekolah di perguruan tinggi. Semua itu karena hasil dari coklat.

Roni termasuk pelopor tanaman coklat di desa itu. Ia menuturkan, dulunya desa itu miskin. Warga umumnya bertani sawah. Kisah Roni bertanam coklat juga dimulai dari keinginannya bangkit dari kemiskinan.

Ia bercerita kalau sebelumnya dirinya hanya sopir Bentor (Becak Motor). Namun, dia berpikir harus mengubah nasib. Tak mungkin terus hidup seperti itu. Sebelumnya dia sempat berpikir, kalau jadi petani mau tanam apa. Akhirnya, dia mencoba untuk menanam coklat.

Pilihannya tidak salah. Dompetnya langsung penuh. Beberapa kali panen saja dia langsung dapat membeli mobil. Ia pun menetapkan menanam coklat sebagai jalan hidupnya, dan terus meningkatkan ilmu tentang tanaman coklat. Bahkan, Roni tak segan-segan menimba ilmu ke Sulawesi Selatan, guna belajar tentang bagaimana menanam dan memelihara tanaman coklat.

Sukses dengan diri sendiri, ia kemudian membagikan ilmunya ke warga Desa Konarom, tentang bagaimana memelihara tanaman coklat supaya hasilnya baik. Ia menjadikan contoh keberhasilan dirinya. Roni terus bertekad meluaskan virus pengalaman menanam coklat. Pelatihan diberikannya di mana-mana, meski terdakang susah meyakinkan warga lainnya untuk menanam coklat. Perlahan, warga desa mulai tertarik untuk menanam coklat. Ekonomi masyarakat pun mulai meningkat. Mereka mampu bangkit dari kemiskinan.

Dengan berkelakar Roni membeber, dulunya kepala desa susah menagih pajak karena warga sangat miskin. Tapi kini kepala desa juga susah, tapi susahnya berbeda. Warga sangat rajin bayar pajak.

Saat ini, kehidupan Roni terbilang mapan. Rumahnya cukup besar. Punya beberapa mobil. Dia punya usaha penjualan bibit coklat yang terus berkembang. Rasa-rasnya, dia mau mundur dari pekerjaannya sebagai PNS, karena hasil dari menanam coklat lebih menjanjikan.

Pun demikian dengan Fadal Mamonto, yang tidak lain adalah Kepala Desa Konarom. Dia terbilang sukses sebagai petani, dengan memiliki lahan coklat beberapa hektare. Pendapatannya per bulan dari hasil tanaman coklat berkisar Rp7 jutaan. Sebab, tanaman coklat panennya bisa tiap bulan, tergantung perawatannya.

Awal mula Fadal jadi petani adalah keinginannya untuk mengubah hidup. Menanam coklat dipilihnya karena tertarik dengan penghasilan besar para petani coklat lainnya.

Menurutnya, selesai sekolah dia berpikir apa yang bisa dilakukan dan mendapatkan uang banyak. Kemudian ia memilih menanam coklat.

Tanaman coklat pun mengubah hidupnya. Fulus bertambah. Strata sosialnya meningkat. Hingga akhirnya ia menjadi kepala desa.

Dikatakannya, rata – rata warga Desa Konarom adalah petani coklat. Dari hasil coklat, warga bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi. Karena coklat pula, warga berkali-kali melaksanakan Umroh.

Ia menyebut, tantangan untuk tanaman coklat adalah pupuk dan anti hama. Tanaman ini sangat manja. Jadi perawatannya harus dengan sebaik-baiknya.

Saat ini, pupuk dan anti hama harganya lumayan mahal. Olehny, ia berharap ada bantuan dari pemerintah daerah. Jika ada bantuan dari pemerintah daerah, saja bisa keuntungan mereka bisa lebih besar, karena ada komponen biaya yang terpangkas.

Mahmud, petani lainnya juga bercerita. Tanaman coklat dibawa oleh para transmigran asal Bugis. Mereka kemudian memperkenalkan buah itu kepada warga sekitar. Namun kami saat itu skeptis. Semua berpikir buah apa itu?. Ia sendiri pernah membuang buah tersebut, karena jelek dilihat. Tak disangka puluhan tahun kemudian, ternyata buah tersebut jadi hal paling penting dalam hidupnya. Buah colat ini pun membuat Mahmud dan sekeluarganya selamat dari kemiskinan.

Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Bolmong Taufik Mokoginta, menyebut tanaman coklat adalah primadona baru di Bolmong. Harganya yang bagus mendongkrak kesejahteraan petani. Ia mencontohkan, petani coklat di Desa Konarom. Sekali panen selama 10 hari, pendapatan bisa mencapai Rp4 juta. Jika dihitung dalam sebulan, pendapatan itu lebih tinggi dari gaji para pejabat eselon II di lingkungan instansi pemerintah.

Taufik menyebut, petani coklat di Desa Konarom memiliki tingkat kesejahteraan yang lebih baik dibanding petani lainnya. Sekarang ini, tanaman coklat di desa itu seluas 6.000-an hektare. Pihaknya berencana mengembangkannya hingga mencapai 25 ribu hektare.

Masalah yang dialami petani saat ini adalah kurangnya pengetahuan mengenai cara menjemur coklat. Hal itu menyebabkan kualitas coklat memburuk. Untuk itu, Dinas Perkebunan terus memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai cara budidaya tanaman coklat yang baik. 

Menurut Taufik, wilayah Desa Konarom dan Dumoga bersatu memang ditargetkan jadi wilayah sentra tanaman coklat. Secara keseluruhan, wilayah Bolmomg dibagi jadi beberapa sentra perkebunan. Coklat di Dumoga, Cengkih di wilayah Lolayan, Kopi di Passi dan Kelapa di Kecamatan Sangtombolang.

Kepala Bappeda Kabupaten Bolmong Yarlis Hatam juga mengatakan, pengembangan tanaman coklat menjadi salah satu prioritas pertanian di Bolmong. Karena, terbukti dapat mensejahterakan petani.(**)

Penulis Adalah Warga Kelurahan Upai, Kecamatan Kotamobagu Utara – Kota Kotamobagu, Sulawesi Utara

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here