Modal 6 Kilo Benih Jagung, Petani di Kotamobagu ini Bisa Hasilkan 3,5 Ton Setiap Panennya

0
86
Modal 6 Kilo Benih Jagung, Petani di Kotamobagu ini Bisa Hasilkan 3,5 Ton Setiap Panennya
Sudirman Kabonte saat berdiskusi dengan Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kota Kotamobagu, Fenty Dilasandi Mifta usai kegiatan Gerakan Aksi Panen Raya Jagung Nusantara. Rabu (29/9/2021).
Advertisement

BOLMORA.COM, EKBIS — Sudirman Kabonte adalah salah satu petani Jagung yang mendapat apresiasi dari Pemerintah Kota Kotamobagu. Apresiasi ini diberikan karena kualitas hasil panennya dinilai baik. Sehingga lahan perkebunannya terpilih menjadi percontohan di wilayah Kelurahan Mongondow, Kecamatan Kotamobagu Selatan, Kota Kotamobagu.

Ia mengaku, sudah sekian tahun menggeluti dunia pertanian. Dari berbagai jenis komoditi, jagung menjadi salah satu tanaman andalannya. Disamping mudah perawatannya, keuntungan yang didapat hasilnya cukup lumayan.

“Profesi petani sudah saya geluti sejak tahun 1990. Tapi, bertani jagung di Kelurahan Mongondow baru mulai merintis pada tahun 2015, ” ujar Sudirman.

Menurut Sudirman, Jagung adalah komoditi yang menjanjikan apabila dikelola dengan maksimal. Contohnya lahan yang Ia miliki. Meski luas lahannya hanya tiga perempat hektar, tapi bisa menghasilkan 3,5 ton setiap panennya.

“Hasil kemarin, saya panen jagung sebanyak 3,5 ton pada posisi bulan Mei 2021, ” ujar Sudirman saat mengikuti Gerakan Aksi Panen Raya Jagung Nusantara bersama Wali Kota Kotamobagu Ir. Hj. Tatong Bara di Perkebunan Mongondow, Rabu, 29 September 2021.

Dia mengatakan, untuk mendapat hasil yang maksimal hanya butuh perawatan sederhana, dengan selalu menjaga kebersihan area lahan, ditambah pupuk sebagai penyuburnya.

“Kebersihan dan pemakaian pupuk menjadi faktor yang sangat penting dalam perawatan komoditi Jagung, ” terangnya.

Mengenai pupuknya sendiri, kata Sudirman, tidak bisa terlambat. Sebab pupuk adalah unsur penentu untuk bisa menghasilkan panen Jagung yang maksimal.

Sehingga itu, dirinya selalu mempersiapkan stok pupuk sebelum datang masa tanam. Karena jika tanaman terlambat pupuk, hasilnya tidak akan maksimal dan terancam gagal panen.

“Biasanya seminggu sebelum tanam jagung, saya terlebih dahulu membeli pupuk, agar saat masa tanam kita tidak lagi kerepotan mencari pupuk. Jangan saat masa tanam baru sibuk mencari pupuk. Hasil panennya bisa rugi akibat terlambat pupuk, ” ungkap Dia.

Sementara untuk masa panennya, normalnya memakan waktu kurang lebih 100 hari, ataupun lebih. Dan saat ini, Ia sedang persiapan untuk masa panen.

“Ini sedang persiapan panen kedua di tahun ini. Mungkin paling lambat minggu depan. Dan kalau dilihat dari kondisi jagung, Insya Allah hasilnya bisa lebih banyak sedikit dari panen sebelumnya, ” pungkas Sudirman.

(Wandy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here