Kecam Pembakaran Kantor Organisasi Wartawan di Aceh Tenggara, PWI Minta Kapolri Segera Turun Tangan

0
198
Kecam Pembakaran Kantor Organisasi Wartawan di Aceh Tenggara, PWI Minta Kapolri Segera Turun Tangan
Kondisi kantor PWI Aceh Tenggara (Sumber Foto: KanalInspirasi.com)

BOLMORA.COM, JAKARTA – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) mengecam tindakan brutal dan aksi main hakim sendiri yang dilakukan orang tak dikenal, yang membakar Kantor PWI Aceh Tenggara di Kutacane, Aceh, Kamis (1/8/2019) dini hari.

Pembakaran terhadap kantor organisasi wartawan terbesar dan tertua di Indonesia itu, merupakan bentuk ancaman terhadap kemerdekaan pers dan teror terhadap wartawan. Untuk itu, PWI mendesak Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian, untuk memerintahkan Kapolda Aceh dan jajarannya agar bertindak cepat mengusut kasus tersebut.

Selain itu, PWI juga kembali mengimbau kepada pihak-pihak terkait untuk tetap menghormati hukum dan tidak menghalangi kerja wartawan dengan cara melakukan teror. Apabila ada pihak-pihak yang keberatan atas suatu karya jurnalistik, sebaiknya menempuh jalur hukum atau menyampaikan hak jawab kepada media yang memberitakan.

“Saya kira, tindakan main hakim sendiri, tindakan teror dalam bentuk pembakaran kantor PWI Aceh Tenggara, apa pun itu alasannya tidak bisa dibenarkan. PWI mengecam tindakan barbar tersebut, dan meminta bapak Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian, untuk memastikan jajaran kepolisian mengusut tuntas kasus ini,” ujar Ketua Umum PWI Atal S. Depari, di Jakarta, Kamis (1/8/2019).

PWI pusat telah meminta masukkan dari PWI Provinsi Aceh terkait kasus pembakaran kantor PWI Aceh Tenggara tersebut. Dari laporan tersebut, PWI Pusat berharap polisi cepat mengusut kasus ini, dan mengungkap pihak-pihak yang terlibat dan motif di balik pembakaran itu.

Sebelumnya, PWI Pusat juga telah meminta polisi untuk segera mengungkap kasus pembakaran rumah wartawan Serambi Indonesia, Asnawi Luwi, di Kutacane, Aceh Tenggara.

Rumah Asnawi Luwi, diduga dibakar orang tak dikenal, Selasa (30/7/2019) sekitar pukul 02:00 waktu setempat. Asnawi Luwi selama ini dikenal sebagai wartawan yang kritis dalam membuat berita, terutama terkait kasus illegal logging dan proyek-proyek bermasalah di Aceh. 

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu. Tetapi, rumah Asnawi Luwi ludes dilalap si jago merah. Polisi dari Polres Aceh Tenggara telah melakukan penyelidikan dan penyidikan atas kasus tersebut

Teror Wartawan Aceh

Teror terhadap pekerja pers di Kabupaten Aceh Tenggara mengarah kepada tindakan brutal dan barbar dan tidak bisa didiamkan.

PWI Aceh meminta kepada Kapolda Aceh untuk menurunkan aparatnya, mengusut tuntas dan menangkap para pelaku teror tersebut.

Teror terhadap wartawan dilakukan oleh orang tak dikenal, dengan berupaya membakar kantor PWI Aceh Tenggara di Kutacane, Kamis dinihari. Sehari sebelumnya, OTK diduga juga membakar rumah dan mobil milik wartawan Harian Serambi Indonesia, hingga hangus dan tinggal puing.

Aldin NL, Sekretaris PWI Aceh, mengatakan, tindakan para peneror itu sudah di luar batas kemanusiaan, dan mengarah kepada tindakan barbar.

“Kami minta Polda Aceh untuk membantu Polres Aceh Tenggara mengungkap kasus pembakaran kantor PWI dan pembakaran rumah wartawan Harian Serambi Indonesia.” 

Aldin mengimbau, bila ada masyarakat yang keberatan dengan suatu pemberitaan di media massa, dapat menggunakan Hak Jawab melalui saluran yang dibenarkan oleh Undang-undang. Wartawan, kata Aldin, dalam menjalankan tugasnya, dilindungi oleh Undang-undang Nomor: 40 tahun 1999, tentang Pers.

“Wartawan itu bekerja secara profesional dan mempedomani kode etik. Jadi, bila ada yang keberatan dengan pemberitaan media, silahkan menggunakan Hak Jawab, bukan dengan cara barbar. Kami mengecam keras segala tindakan teror,” lugasnya.

Menurutnya, semakin jelas indikasinya bahwa pembakaran rumah wartawan Harian Serambi Indonesia, dan pembakaran kantor PWI Aceh Tenggara, terkait dengan pemberitaannya.

“Sasarannya memang ditujukan kepada wartawan sebagai pribadi dan organisasi,” cetus Aldin.

Informasi dari pengurus PWI Aceh Tenggara, selama ini wartawan di Kutacane. Aceh Tenggara kritis terhadap sejumlah masalah, seperti illegal loging, galian C hingga kasus kasus hukum lainnya. Diduga aksi pembakaran di rumah wartawan Serambi Indonesia Asnawi Luwi, dan kantor PWI Aceh Tenggara ada relevansi dengan kerja-kerja jurnalis di daerah itu.

PWI Aceh juga sudah melaporkan peristiwa pembakaran itu ke PWI Pusat, dan pusat minta polisi harus ungkap siapa pelaku di balik pembakaran itu.

(**/Tim Redaksi)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here