PLN Cabang Kotamobagu Terancam Dipolisikan, Tagihan Listrik Sudah Dibayar Tapi Meteran Tetap Dibongkar

BOLMORA, KOTAMOBAGU – Gerakan pemutusan dan pembongkaran meteran listrik yang dilakukan oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) Cabang Kotamobagu, Jumat (3/8/2018), mendapat protes keras dari beberapa warga Kota Kotamobagu. Salah satunya adalah Fritz Junius Dilapanga, yang tidak lain adalah Sangadi Desa Tabang, Kecamatan Kotamobagu Selatan. Dirinya bahkan mengancam akan mempolisikan PLN Cabang Kotamobagu.
“Tagihan listrik saya sudah dibayar kemarin sebelum saya berangkat ke Gorontalo, tapi hari ini petugas PLN masih membongkar meteran di rumah saya. Atas perlakuan ini, saya merasa keberatan karena saya anggap ini pencurian,” ungkapnya.
Menurutnya, hal yang dilakukan pihak PLN adalah tindakan yang sewenang-wenang tanpa konfirmasi.
“Harusnya jika tidak ada orang di rumah, lakukan upaya konfirmasi dahulu kepada tuan rumah, bukan tanpa permisi langsung mencabut meteran. Slogan listrik pintar, tapi jangan tujuannya membodohi masyarakat/pelanggan,” ujar Junius.
Di lain pihak, Asisten Manager PLN Cabang Kotamobagu Leo Manurung, ketika dihubungi BOLMORA.COM menerangkan, pemutusan dan pembongkaran pihaknya ada sekitar 500-an pelanggan per hari, tidak mungkin menghubungi seluruh pelanggan, tetapi sebelumnya sudah ada Tata Usaha Pelanggan (TUL) atau lembar pemberitahuan pelaksanaan pemutusan/pembongkaran yang dijalankan.
“Tangggal 2 Agustus sore dicetak sekitar 500-an TUL pemutusan dan pembongkaran bagi pelanggan menunggak. Pelanggan tersebut termasuk dalam daftar itu, dan TUL pemutusan diserahkan ke seluruh petugas. Pagi tadi pukul 07.30 WITA, seluruh pegawai jalan melakukan Mapalus pemutusan serta pembongkaran, pegawai tiba di lokasi dan menyampaikan salam, tetapi tidak ada yang ke luar dari rumah, dan akhirnya pihak kami melakukan pembongkaran kwh meter. Nanti pada sore hari ada informasi bahwa pelanggan sudah melakukan pembayaran tunggakan kemarin malam pukul 19:31WITA, dan sore tadi juga dilaksanakan penyambungan kembali,” terang Leo.
Atas kejadian tersebut lanjutnya, PLN mohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi.
“Kami akan berupaya agar tidak terjadi hal-hal seperti ini berulang kembali. Perlu dukungan juga dari seluruh pelanggan dengan menjadikan rekening listrik sebagai prioritas setiap bulannya, dan seluruh pelanggan dapat membayar rekening listrik setiap awal bulan agar tidak masuk kategori menunggak dan dicetak perintah pemutusan atau pembongkaran, sehingga membantu finansial PLN dalam beroperasi untuk menjaga kontiniunitas pasokan tenaga listrik di wilayah Bolmong Raya.
Pemutusan dan pembongkaran rampung akan dilaksanakan secara konsisten ke depannya mengingat wilayah Bolmong Raya masuk kategori Area dengan pelanggan menunggak tertinggi se-Regional Sulawesi,” urai Leo.
(me2t)



