Oleh : Sofyanto
(Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan, Hukum dan Ekonomi Terapan)
Demam game pokemon go cukup membuat heboh negeri ini sampai begitu santer dibicarakan media massa dua minggu belakangan, diduga fenomena ini telah merebak dan melanda ke hampir seantero dunia sejak dirilis tanggal 6 Juli 2016 oleh perusahaan Niantic selaku pemilik. Jika mengais data laporan Android Authority, tak main-main 10 juta pengunduh secara real time dikabarkan sudah mendownload aplikasi game yang berbasis GPS ini dan diperkirakan jumlahnya itu terus bertambah. Tak ayal akibat maraknya pemberitaan soal pokemon go ini, lengkap dengan dibumbui berbagai pernak pernik peristiwa unik, lucu (semisal perburuan pokemon di daerah pekuburan) bahkan sampai yang berujung meregang nyawa telah memancing reaksi sejumlah pejabat pemerintah, TNI/Polri dan politikus untuk angkat bicara.
Saya cukup terhibur dengan rupa-rupa peristiwa fenomena pokemon go ini, seolah-olah telah terjadi kudeta sebagaimana di negara Turki. Mungkin karena kudeta itu juga Kapolri yang baru dilantik Jenderal Tito Karnavian mengeluarkan surat telegram rahasia Kapolri nomor STR/533/VII/2016 tertanggal Selasa (19/7/2016) yang intinya melarang para anggota polisi bermain game pokemon saat menjalankan tugas. Tak mau ketinggalan, pihak istana kepresidenan pun ikut-ikutan kebakaran jenggot dengan menempel selebaran larangan bermain pokemon di pintu masuk ruangan pers (nasional.kompas.com) istana kepresidenan.
Ada apa sebetulnya dengan fenomena pokemon go ini sampai para petinggi negara pun harus uring-uringan berjamaah mengumbar celoteh ? Padahal kalau dipikir-pikir, game yang satu ini tidak jauh bedanya dengan game genre adventure lainnya semisal clash of clan yang juga kerap dimainkan para penggila game online. Mungkinkah ini ada kaitannya dengan penggunaan GPS serta kamera handphone pada aplikasi ini sehingga dianggap berbahaya dan dicap modus baru kegiatan spionase internasional ?
Pembaca, bisa jadi dan sangat masuk akal persepsi seperti itu, tapi sejauh yang diketahui itu belum terbukti secara meyakinkan. Jika diusut berdasar latar belakang pengembang game pokemon ini maka rasa khawatir itu bisa dikatakan spekulasi sesat, saudaraku ini murni sebuah bisnis. Pasalnya perusahaan Niantic selaku pengembang game pokemon mengalami kemunduran pendapatan sejak game nintendo kurang lagi diminati.
Wajar saya katakan jika kemudian kiblat pengembangan permainan game pun bergeser, mengalami reinkarnasi dan berubah ke pola berbasis lingkungan seperti game pokemon ini. Kalau bukan demikian tafsirnya, terus apa wahai para analis kawakan. Faktanya memang game sejenis belum pernah ada. Artinya terdapat celah monopoli pasar yang terbuka lebar dan itu sudah pasti uang dengan nilai menggiurkan ada dalam genggaman.
Diperkirakan kehadiran game pokemon ini akan memberikan pundi-pundi pemasukan ke perusahaan niantic kurang lebih 30 persen. Suatu angka yang cukup fantastik dimana akan memperkuat kembali pondasi posisi keuangan perusahaan yang lagi terenggah-enggah. Terbukti sebagaimana yang dirilis harian kompas com dengan tajuk pemberitaan “tiap menit pokemon go raup untung Rp. 143 juta”
Lepas dari soal untung itu, bermain sebuah game akan tidak pernah lepas dari rasa penasaran. Ini menjadi semacam fardu kifayah yang wajib ada dan dilaksanakan, begitulah kira-kira ketika kita mulai memainkan game pokemon go yang ber-genre petualangan. Berburu monster pokemon di setiap penjuru tempat hampir pasti mengasyikan,katakanlah sebagai sebuah wisata, tidak peduli apakah itu di pekuburan keramat para leluhur, kamar mandi, pertokoan, mall, atau bahkan lingkungan istana kepresidenan kepala negara. Bahkan seorang Pramono Anung sendiri saking penasarannya, ikut-ikutan menjajal aplikasi ini dan jujur menuturkan bahwa monster pokemon memang cukup banyak bertebaran di lingkungan sekitar istana kepresidenan.
Jadi, dalam cara pandang bisnis, fenomena pokemon go merupakan sebuah cara untuk mencuri perhatian dan mencuri hati penikmat permainan game. Klaim oknum pejabat pokemon di cap game setan dengan asumsi sifatnya dianggap sangat mengganggu kurang tak dapat diterima, itu omong kosong belaka yang cuma menunjukkan kedangkalan berpikir. Ayolah tak perlu para pejabat teras pemerintahan maupun petinggi negara harus ikut-ikutan mengurus soal pokemon go lantas mengumbar sejumlah pernyataan miris ke publik sedangkan seluk beluk di balik fenomena pokemon go itu sendiri tidak di mengerti.
Akibat campur tangan para pejabat dengan setumpuk pernyataan publik justru makin heboh dan balik meningkatkan rating kepopuleran pokemon go. Apalagi ini diperparah dengan keterlibatan media yang begitu mendramatisir situasi dan kondisi, maka jadilah fenomena pokemon menjadi trending topik dan bahan pembicaraan hangat di media sosial. Saya berkeyakinan tinggi tidak lama lagi fenomena pokemon akan meredup dan berganti lagi dengan isu baru yang setara menggigitnya di khalayak ramai.
Akhirnya, saya mau bilang stop pejabat berkomentar soal pokemon go, cuma membuat gaduh. Itu bukan masalah serius, fokus saja urus kepentingan masyarakat yang masih banyak terbengkalai. Bukankah juga lewat aplikasi game ini, justru masyarakat akan semakin mengenal dekat lingkungan sekitarnya sendiri yang mungkin selama ini kurang diperhatikan.(**)



