Bolmong

Cerita Sang Kakek Transmigran Asal Bali yang Menjadi Aset Berjalan RSUD Datoe Binangkang

BOLMORA, BOLMONG – Kakek ini bernama I Ketut Giur, salah seorang yang ikut diboyong pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Datoe Binangkang, saat pindah dari Kota Kotamobagu ke Lolak, ibu kota Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong). Pihak rumah sakit telah menganggapnya sebagai aset berjalan. Kok bisa?.

Rupanya, kakek yang sudah terlihat renta dan pikun ini ternyata telah menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mengabdi di rumah sakit tertua di Bolmong Raya ini.

Rasa penasaran hingga BOLMORA.COM merangkum perjalanan hidup pria yang mengaku berasal dari kampung Transmigrasi Kembang Mertha Dumoga ini.

Meletusnya Gunung Agung di Provinsi Bali pada tahun 1963, membuat I Ketut Giur dan anggota keluarganya terpaksa mengikuti program transmigrasi ke Kabupaten Bolmong, setahun kemudian. Mereka ditempatkan di Desa Kembang Mertha, Kecamatan Dumoga. Namun kehidupan Giur kecil tidak seindah anak-anak seusianya kala itu, karena sering mengalami sakit-sakitan. Orang tuanya lalu membawa Giur ke Balai Kesehatan di Kotamobagu yang merupakan cikal bakal berdirinya RSUD Datoe Binangkang.

“Masuk ke sini (rumah sakit), kira-kira umur 9 tahun karena sakit malaria,” ujarnya saat ditemui di salah satu ruangan rumah sakit, belum lama ini.

Sejak itu katanya, dia tidak mau pulang lagi ke Desa Kembang Mertha dan memilih untuk tinggal di dalam rumah sakit karena takut sakitnya kambuh lagi.

“Saya dikasih kerja oleh dokter Teng untuk bantu-bantu di dapur,” terangnya.

Selama tinggal di dalam rumah sakit, dia pernah mengalami suasana duka yaitu ketika dapur dan ruangan tempat tidurnya terbakar, karena kompor meledak. Seluruh pakaiannya ikut terbakar dan hanya menyisakan baju di badannya.

Pihak rumah sakit saat itu lalu memberikan ruangan baru di Unit Dharma Wanita Persatuan Badan Pengelola Rumah Sakit kepadanya untuk ditempatinya. Diapun mendapatkan belas kasihan dari keluarga pasien, dokter dan perawat yang memberikan uang dan pakaian bekas untuk bisa dipakainya.

Kepala Tata Usaha RSUD Datoe Binangkang Malpin Dako mengatakan, tidak mengetahui pasti berapa usia I Ketut Giur saat ini. Meski sudah terlihat renta, I Ketut Giur sudah dianggap sebagai aset berjalan oleh pihak rumah sakit karena pengabdiannya.

“Kalau disebut aset, dia adalah aset berjalan,” ungkapnya.

Diceritakannya, I Ketut Giur memang sudah tinggal di rumah sakit sejak masih kecil karena dua kali sakit malaria. Selama berada di rumah sakit, tidak ada keluarga yang datang menengoknya sampai dia sembuh.

Karena tidak ada keluarga yang menjemput, pihak rumah sakit lalu memutuskan untuk merawat Ketut dengan memberikan pekerjaan di Instalasi Gizi, membantu mencuci sayur, membersihkan ikan dan memasak air untuk pasien. Para dokter dan perawat lalu memberinya gaji seadanya dari gaji mereka yang disisihkan.

“Jadi pihak rumah sakit kala itu langsung mengambil dia dan menganggap dia sebagai bagian dari keluarga RSUD Datoe Binangkang,” urai Malpin.

Lanjutnya, ketika rumah sakit harus pindah ke Lolak, pihaknya juga memastikan ikut membawa I Ketut Giur, meski sempat ada penolakan dari beliau yang tetap bertahan di lokasi rumah sakit yang lama.

“Beliau juga kami bawa ke Lolak, karena kalau dia disini, siapa yang nantinya memberi makan, atau kalau sakit siapa yang merawatnya?,” pungkas Malpin.

Tim BOLMORA. COM

Gunady Mondo

Aktif sebagai jurnalis sejak tahun 2010 (Wartawan UKW UTAMA: 9971-PWI/WU/DP/XI/2021/21/10/79)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button