Taklukkan 1.600 Proyek Dunia, TerraSight AI Polimdo Naik Podium di China

BOLMORA.COM, SULUT – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan Politeknik Negeri Manado (Polimdo) di panggung internasional. Tim pengembang TerraSight AI sukses meraih juara 3 dunia dalam kompetisi inovasi teknologi internasional yang berlangsung di Xuzhou, Tiongkok.
Tim yang terdiri dari Rudolf Estephanus Golioth Mait, S.T., M.T., IPM., yang juga menjabat Wakil Direktur Bidang Kemahasiswaan dan Alumni (Wadir III) Polimdo, bersama Fardi Kalumata, S.ST., M.T., dan Steven Kamurahan, M.Ars., berhasil mengungguli ribuan proyek dari berbagai negara.
Prestasi bergengsi ini menjadi bukti bahwa inovasi anak bangsa, khususnya dari Sulawesi Utara, mampu bersaing dan mendapat pengakuan di tingkat dunia.
Dalam konferensi pers di ruang rapat Kantor Pusat Polimdo, Selasa (3/11/2026), Mait menyebut pencapaian tersebut sebagai kebanggaan besar sekaligus penegasan peran pendidikan vokasi dalam melahirkan inovasi teknologi yang aplikatif dan berdaya saing global.
“Ini mempertegas peran Polimdo sebagai dunia pendidikan vokasi dalam menghasilkan inovasi teknologi yang aplikatif, relevan dengan kebutuhan industri serta memiliki daya saing global,” ujar Mait.
Ia menambahkan, keberhasilan TerraSight AI diharapkan menjadi pemantik semangat bagi seluruh keluarga besar Polimdo untuk terus memperkuat budaya inovasi, riset terapan, kewirausahaan, serta memperluas kolaborasi internasional.
“Jadi juara 3 ini bukan sekadar penghargaan, tetapi bukti bahwa karya anak bangsa yang ada di Politeknik Negeri Manado, lebih khusus daerah Nyiur Melambai Sulawesi Utara, mampu tampil dan mendapatkan pengakuan di panggung inovasi internasional,” tegasnya.
Pencapaian tersebut juga mendapat pengakuan dari pihak penyelenggara di China terhadap karya inovasi yang dipresentasikan tim Polimdo.
Sementara itu, Steven Kamurahan mengaku sempat tidak menyangka ketika menerima informasi bahwa proyek yang mereka presentasikan berhasil menembus tiga besar dunia.
Pasalnya, kompetisi tersebut diikuti sebanyak 1.600 proyek dari berbagai negara. Dari jumlah itu, 635 proyek berasal dari luar China.
“Yang masuk di China untuk seluruh dunia itu ada 1.600 proyek, yang dari luar China ada 635 proyek. Dari 1.600 itu kami berada pada peringkat 12. Kami mengikuti dua kali seleksi, dan yang lolos hingga tahap presentasi tinggal delapan peserta,” ungkap Steven.
Perjalanan menuju podium juara tidak berlangsung mudah. Tim Polimdo harus melewati berbagai tahapan seleksi dan menghadapi sejumlah kendala sebelum akhirnya memastikan posisi ketiga dunia.
Menariknya, saat memasuki ruang presentasi, seluruh peserta tidak diperkenankan membawa perangkat komunikasi maupun alat bantu elektronik, termasuk laptop dan jam tangan.
Artinya, tim TerraSight AI harus mengandalkan sepenuhnya penguasaan materi, kemampuan teknis, keahlian, serta pemikiran mereka sendiri untuk meyakinkan dewan juri.
Bahkan, lima pertanyaan yang diajukan para juri berhasil dijawab dengan baik oleh tim Polimdo dalam waktu yang terbatas.
Keberhasilan ini menjadi catatan istimewa bagi Polimdo sekaligus membawa nama Sulawesi Utara semakin diperhitungkan dalam persaingan inovasi teknologi internasional.
TerraSight AI bukan hanya mengharumkan nama institusi pendidikan vokasi di daerah, tetapi juga membuktikan bahwa kreativitas dan kemampuan sumber daya manusia Indonesia mampu menembus persaingan global.
Untuk diketahui, penerapan teknologi tersebut memiliki potensi besar bagi sektor pertambangan, konstruksi, dan pembangunan infrastruktur. Melalui data volume tanah yang diperoleh secara berkala, perusahaan dapat mengevaluasi capaian pekerjaan, mengawasi pergerakan material, serta menyusun perencanaan operasional berdasarkan kondisi aktual di lapangan.
(Jane)



