Seperti Sebuah Sinyalamen Politik, Bila Jokowi dua Periode, Olly pun Demikian

BOLMORA.COM, POLITIK — Dari puluhan Provinsi di luar Pulau Jawa, Sulawesi Utara (Sulut) yang dipimpin Gubernur Olly Dondokambey dan Wakil Gubernur Steven Kandouw menjadi daerah pertama yang dipilih oleh Presiden Jokowi untuk kunjungan perdana pasca ditetapkan pemenang Pilpres bersama tokoh santri priangan an-Nahdyiin KH. Maruf Amin.
“Seperti sebuah sinyalamen politik, bila Jokowi dua periode, Olly pun demikian,” ucap Ketua organisasi sayap Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di bidang keislaman Baitul Muslimin (Bamusi) Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) Arman Lumoto, S.Ag, M.Pd.I, pada media Bolmora.com, Senin (19/10/2020).
Tetapi bukan itu maksud yang ingin dibahas. Fokusnya, tentang ide Proklamator Soekarno yang diakomodasi dalam Nawacita dan direalisasikan Olly untuk membangun pariwisata.
“Di Manado, ibu kota Sulawesi Utara (Sulut), ada jembatan Soekarno, juga jembatan Megawati. Sulut seperti warna Soekarnois. Olly sendiri merupakan pentolan PDIP yg merupakan partai revolusi-integrasi PNI yang didirikan Soekarno dgn pikiran-pikiran partai nasionalis lainnya di era “Orde Lama”, lanjut Lumoto.
Menurutnya, Sulut ditangan Olly meraih capaian fantastis sebagai The Rising Star Destination Of The Year 2019. Sebuah penghargaan pemerintah pusat atas keberhasilan Sulut yang menyumbang kenaikan kunjungan wisata manca negara ke Indonesia dengan jumlah cukup signifikan. Peningkatannya mencapai 600 persen.
“Pencapaian ini bisa diraih Sulut berawal dari ide Olly yang mampu menerjemahkan pemikiran Soekarno dalam Nawacita serta didukung kekuatan dan kepiawaian lobi-lobi politik di level pusat. Bukan saya yg mengatakan itu, tapi Jokowi,” ungkap Lumoto.
Dalam Nawaksara Soekarno yang dipahami Olly dalam Nawacita Jokowi mengusung gagasan kemandirian ekonomi daerah. Soekarno menguraikan ide pembangunan ekonomi selalu bertalian dengan politik dan kebudayaan. Tiga fondasi ini yang kemudian dikenal dengan Trisakti Bung Karno.
Dengan dasar pemikiran itu, Olly melihat Sulut punya pariwisata sebagai modal terbesar memperkuat kemandirian ekonomi, politik dan kebudayaannya. Ketika Jokowi beritikad mendorong pariwisata nasional, cepat-cepat Olly memainkan peran politik melobi semua pihak sampai ke ruang Jokowi.
“Olly merasionalisasi potensi wisata Sulut dan berhasil. Belum setahun pasca dilantik sebagai Gubernur Sulut, tepatnya tanggal 4 Juli 2016, Olly sukses melobi dan membangun sistem penerbangan perdana manca negara dari Manado ke Tiongkok dan negara-negara sekitarnya. Momen ini disebut banyak pihak sebagai sejarah kebangkitan pariwisata Sulut,” jelas Lumoto.
Apa buktinya? Tak lama. Dalam tiga tahun, Sulut meraih The Rising Star Tourism dengan peningkatan kunjungan wisata mencapai 600 persen. Bila selama ini, Indonesia hanya mengandalkan pintu masuk Bandara Bali dan Jakarta, kini mendapatkan Sulut sebagai locus baru yg tak kalah hebat. Sulut dikatakan sebagai Bali baru di Indonesia.
“Karena bukti itu, presiden mau menopang Sulut. Daerah pinggiran utara Indonesia ini jadi sorotan nasional di tengah persaingan daerah-daerah maju di kawasan nusantara. Pariwisata Sulut bak anak emas bagi Indonesia,” sebut Lumoto.
Ia menambahkan, saat kedatangannya baru-baru ini ke Sulut, Jokowi pun memuji kinerja Olly. Sebagai bentuk dukungannya, pemerintah pusat siap menggelontorkan anggaran dengan jumlah besar untuk perluasan terminal bandara menjadi 56.000 m2 dan perpanjangan runwey yang menunjang pendaratan pesawat berbadan besar.
Jokowi juga siap membangun tol dari Bandara ke Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pariwisata di Minahasa Utara, juga perbaikan pelabuhan bitung untuk mendukung ekspor-impor. Sementara Taman Nasional Pulau Bunaken (TNBP) menjadi destinasi wisata andalan nasional.
“Masa depan cerah kini ada digenggaman Sulut dengan sektor pariwisatanya. Namun ibarat menentukan masa depan manusia, semua pilihan kembali kepada setiap warga. Lanjutkan pembangunan Olly dengan gagasan Soekarno, Nawacita dan pariwisatanya atau kembali menyeka air mata, terserah Anda.!” pungkas Lumoto yang juga mantan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bolmut.
(Awall)



