Tatong : Sekretaris Bisa Gantikan Kadis
BOLMORA, KOTAMOBAGU – Wali Kota Kotamobagu Tatong Bara, menegaskan bahwa Sekretaris di masing-masing Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang ada di lingkup Pemkot Kotamobagu bisa menggantikan posisi Kepala Dinas atau Badan dan Bagian yang sudah mulai lamban melaksanakan tugasnya.
“Pantauan saya, banyak di antara Sekretaris yang mampu dan sudah pantas untuk melaksanakan amanah sebagai seorang pimpinan di SKPD,” kata Tatong, saat membuka kegiatan In House Training Sekretaris SKPD di lingkup Pemkot Kotamobagu, yang digelar di Hotel Sutanraja, Rabu (14/9/2016) lalu.
Dalam sambutannya, di kegiatan yang diprakarsai oleh seluruh Sekretaris SKPD se-Kota Kotamobagu tersebut, wali kota menyampaikan terima kasih kepada seluruh Sekretaris, karena dengan inisatif sendiri dan dengan anggaran sendiri bisa menggelar kegiatan itu.
“Saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para Sekretaris SKPD yang sukses menggelar kegiatan ini. Saya harapkan ke depan kalian bisa menggantikan pipinan di instansi tempat kalian bertugas,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Kota (Sekkot) Kotamobagu Tahlis Gallang, yang dipercayakan memberikan materi pada kegiatan itu mengatakan, hal penting yang dibahas terutama tentang penekanan revolusi mental ditingkatan Sekretaris.
“Kegiatan ini murni inisiatif mereka. Pihak Pemkot sama sekali tidak menyediakan dana. Mereka berinisiatif menggelar In House Training melalui swadaya mereka sendiri. Kenapa mereka harus melakukan itu?, karena mereka memaklumi fungsi seorang Sekretaris adalah sebagai roh dalam organisasi, roh administrasi dan semua proses administrasi pasti lewat Sekertaris,” jelas Tahlis.
Menurutnya, baik tidaknya penataan administrasi sangat ditentukan oleh seorang Sekretaris, sehingga yang paling utama dalam In House Training adalah revolusi mental yang dibagi dalam tiga bagian.
“Pertama Integritas (menyangkut kepribadian yang bersangkutan, apa yang ada di dalam pikirannya dia lahirkan dalam bentuk ucapan dan seperti itulah tindakannya). Kedua, etos kerja (semangat untuk melakukan pekerjaan tanpa mengharapkan sesuatu nilai lebih dari satu pekerjaan), dan ketiga gotong royong (kebersamaan, dan ini ditanamkan agar mereka merasa bagian dari sistem, mereka sebagai penghubung yang mengetahui bagaimana mengkomunikasikan antara bawahan dan pimpinan, serta bagaimana mengakomodir semua bawahan supaya terlibat dalam satu proses pekerjaan),” papar Tahlis.(me2t)



