Bolmong

Burung Maleo di Pusat Penelitian Suaka TNBNW Tambun Diberi Tanda

BOLMORA.COM, BOLMONG – Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (BTNBNW)bersama EPASS, dan Universitas Atma Jaya Yogyakarta, telah melakukan penandaan (bird banding) pada Burung Maleo yang berada di Pusat Penelitian Suaka (Sanctuary) Burung Maleo di Desa Tambun, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), Sulawesi Utara (Sulut).

Kegiatan yang dilakkukan Sabtu (22/6/2019) ini merupakan salah satu dari penelitian Burung Maleo di Lansekap Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, yang bertujuan untuk mengetahui wilayah jelajah satwa tersebut.

Yang mana tiga tahun lalu, BTNBNW telah membangun Sanctuary Maleo di Desa Tambun, sekaligus sebagai Pusat Penelitian Maleo. Sebelumnya, anak Burung Maleo yang menetas di bak penetasan semi alami, langsung dilepasliarkan.

“Namun, semenjak ada pembangunan Sanctuary Maleo, beberapa anak Burung Maleo dibesarkan dalam kandang pembesaran. Saat ini, Burung Maleo generasi pertama yang ada di kandang sudah beranjak dewasa dan akan dilepasliarkan ke alam. Untukmengetahui wilayah jelajah dari Burung Maleo tersebut, maka sebelum dilepasliarkan dilakukan penandaan (bird banding) terlebih dahulu,” ungkap Kepala BTNBNW drh. Supriyanto.

Pramana Yuda, salah satu peneliti dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta, sekaligus Presiden Indonesian Ornitologist Union, yang melakukan penandaan Burung Maleo pada kesempatan tersebut mengatakan, pada kegiatan itu telah dilakukan penandaan pada 5 ekor Burung Maleo dewasa, dengan cara memasang cincin penanda (ring bird) yang terbuat dari campuran alloy dannikel.

“Cincin tersebut diperoleh dari LIPI, dan bernomor seri Indonesian Bird Banding Scheme (IBBS). Dengan adanya cincin ini, petugas atau staf lapangan yang melihat tanda tersebut dapat mengenali bahwa individu tersebut dari Tambun. Sehigga, lokasi-lokasi di mana individu Burung Maleo yang diberi tanda terlihat oleh staf lapangan, maka dapat dipetakan dan kita dapat mengetahui wilayah jelajah dari burung ini,” jelas Yuda.

Sebelum pemasangan cincin pada Burung Maleo, terlebih dahulu dilakukan pengukuran morfometrik pada masing-masing Burung Maleo. Data ini nantinya akan dimasukkan dalam database nasional burung, yang dikelola oleh LIPI. Selain itu, pengambilan sampel darah juga dilakukan untuk uji kesehatan Burung Maleo khususnya penyakit parasite darah.

“Serangkaian kegiatan ini dimulai pada dinihari agar Burung Maleo masih mudah untuk ditangkap dan langsung dilakukan pengurukan morfometrik, banding, dan pengambilan sampel darah. Hal ini untuk mengurangi stress pada individu Burung Maleo. Sedangkan uji test sampel darah dilakukan di Laboratorium Kesehatan Hewan Manado, Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Sulawesi Utara. Dan  hasil laboratoium menyatakan bahwa semua sampel hasilnya negative atau semua Burung Maleo bebas dari parasite darah. Sehingga, Burung Maleo ini siap untuk dilepasliarkan ke alam,” papar Elisabet Purastuti, Field Coordinator EPASS Taman Bogani Nani Wartabone.

Sebagaimana diketahui, Burung Maleo adalah burung endemic Sulawesi yang dilindungi, dan habitatnya banyak berkurang karena perubahan penggunaan lahan di lokasi peneluran. Taman Nasional Bogani Nani Wartabone sendiri, adalah salah satu habitat terbesar dan penting bagi Burung Maleo. Oleh karena itu, penelitian yang dapat menunjang konservasi Burung Maleo sangat diperlukan untuk menunjang kelangsungan hidup satwa ini.

(**/editor)

Editor

Berita yang masuk dari semua Biro akan di Edit terlebih dahulu oleh Tim Editor Media Bolmora.com kemudian di publish.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button