Pedagang Pasar Bolmut Ungkap Harga Bapok di Tengah Pandemi Covid dan Ramadhan
BOLMORA.COM, BOLMUT — Pedagang Pasar Rakyat Boroko, Kabupaten Bolmut mengaku harga Bahan Pokok (Bapok) di bulan suci Ramadhan, di tengah kondisi pandemi Covid 19 belum banyak mengalami perubahan harga.
Hal ini disampaikan oleh salah pedagang rempah di Pasar Rakyat Boroko, kepada BOLMORA.COM, Sabtu (02/5). Menurutnya harga Bapok masih relatif normal dan daya beli masyarakat pun masih cenderung stabil.
Untuk harga rempah-rempah seperti cabai, tomat, bawang merah, daun bawang dan bumbu lainnya masih normal, termasuk harga jual ayam daging dan ikan laut yang masih terjangkau.
“Cabai harganya Rp. 25.000, /kg, Tomat Rp. 8.000, /kg, Daun Bawang Rp. 5.000 /ikat, Bawang merah Rp. 22.000 /kg, Bawang putih Rp. 35.000 /kg, dan Ayam daging Rp. 30.000 /ekor serta Ikan laut Rp. 20.000 /kg, tapi semua harga itu menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat,” ungkap FO (40) pedagang rempah di Pasar Rakyat Boroko.
Dikatakan pedagang, biasanya para konsumen rempah-rempah hanya membeli sesuai kebutuhan mereka.
“Biasanya pelanggan membeli takaran pon sesuai kebutuhan mereka, itu pun ditawar pula,” ujarnya dengan nada canda.
Menurut pendapatnya, pengunjung pasar di tengah kondisi pandemi covid-19, masih seperti hari biasanya. Namun, situasinya sedikit berbeda.
“Sejak adanya himbauan pemerintah untuk mengurangi aktifitas diluar rumah karena virus corona, pengunjung pasar masih normal, hanya saja kami senantiasa tetap waspada dan menerapkan pola hidup bersih dan sehat,” imbuhnya.
Sementara itu, AM (56) tahun salah satu pembeli di pasar rakyat boroko mengatakan, harga rempah-rempah masih normal. Kalaupun ada kenaikan harga tidak terlalu signifikan.
“Dibulan suci ramadhan ini kebutuhan masyarakat akan rempah-rempah terus meningkat, dan diharapkan berbanding lurus dengan ketersediaan bahan yang diperlukan,” ucapnya.
Kami berharap kepada pemerintah melalui dinas terkait agar lebih memperhatikan ketersediaan Gas LPG Melon 3 KG, karena akhir-akhir ini sejak memasuki bulan puasa elpiji tersebut mulai langka dan sulit didapatkan.
“Jika terjadi kelangkaan Gas LPG 3 KG, maka kami akan sangat kesulitan menyiapkan makanan untuk berbuka puasa dan sahur,” tutup wanita paruhbaya ini.
(Awall).



