Bolmong

Cerita Amrin dan Sania yang Terus Menunggu Anak serta Keponakannya Terjebak di Lokasi Tambang

BOLMORA.COM, BOLMONG – Kakek Amrin Simbala warga Desa Bilalang 3 Kecamatan Bilalang Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong) yang sudah berusia 75 tahun ini masih terlihat bersemangat menunggu anaknya yang diketahui menjadi salah satu korban yang belum dapat dievaluasi oleh tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, PMI, TNI, Kepolisian, dan beberapa lagi yang lainnya. Pun demikian juga dengan Sania Gaib (67), warga Pontodon Kecamatan Kotamobagu Utara yang setia menanti kabar dari keponakannya.

Bakan menjadi sorotan sejak Selasa (26/2/2019), saat salah satu lubang di tambang rakyat yang ada diperbukitan di desa itu longsor. Puluhan petambang terjebak di dalam lubang yang dikerjakan secara manual itu, termasuk Odeng, anak Amrin dan Reza Sipasi keponakan Sania.

Odeng bekerja sebagai kijang (sebutan untuk buruh angkut) di lokasi tambang yang menurut warga setempat punya potensi besar. 

“Anak saya itu pamit dari rumah Selasa siang, katanya mau kerja sebagai kijang di Bakan,” kata Amrin (1/3/2019).

Berikut Video Cerita Amrin dan Sania Menunggu Anaknya

Malamnya Amrin mendengar kabar, lokasi tempat Odeng bekerja ambruk. Dia bersama keluarganya bergegas menuju lokasi. Tak mudah untuk sampai di titik musibah. Jalan yang biasa ditempuh para petambang cukup terjal, berbatu dan licin. Tapi itu tak menyurutkan langkah Amrin untuk mengetahui kondisi anaknya.

“Sejak hari pertama saya sudah berada di lokasi. Saya sempat berkomunikasi dengan anak saya. Saya panggil-panggil namanya, dan dia menyahut,” cerita Amrin.

Tim penyelamat gabungan yang juga langsung bergerak melakukan upaya pertolongan dibantu warga setempat satu persatu mengevakuasi para korban.

Hingga Kamis (28/2) sebanyak 27 petambang berhasil dikeluarkan dari lubang, 8 diantaranya meninggal. Namun Odeng tak kunjung tak terlihat.

“Padahal posisi dia tepat di belakang Teddy, Kamis pagi itu dia masih panggil nama saya,” ungkap Amrin.

Teddy Mokoginta, adalah korban yang dievakuasi Kamis siang. Kakinya harus diamputasi karena terjepit batu besar. Tim penyelamat harus mengamputasi kakinya, sebab jika batu itu disingkirkan, khawatir material diatasnya akan ambruk dan akan terjadi musibah lebih besar.

“Tapi Teddy akhirnya meninggal juga, pas dikeluarkan dari lubang, padahal kakinya sudah dipotong. Anak saya tak tahu bagaimana nasibnya,” kata Amrin.

Hari ini Ambrin bersama warga lainnya dilarang berada di sekitar titik musibah. Tim penyelamat bersepakat mengerahkan alat berat untuk mencari korban lainnya. Tidak ada jumlah pasti, tetapi diduga masih banyak petambang yg terjebak di dalam termasuk Odeng.

“Apapun kondisinya, kami keluarga berharap bisa melihat Odeng untuk terakhir kali, meski dia sudah meninggal,” harap Amrin.

Sementara Sania juga sangat mengharapkan agar keponakannya Reza bisa segera ditemukan.

“Keponakan saya Teddy sudah ditemukan kemarin padahal dia bersama-sama dengan Reza, tapi sampai saat ini Reza belum ada kabar. Mudah-mudahan dengan dimulainya pencarian menggunakan alat berat, para korban segera didapatkan termasuk Reza,” ujar Sania.

(me2t)

Editor

Berita yang masuk dari semua Biro akan di Edit terlebih dahulu oleh Tim Editor Media Bolmora.com kemudian di publish.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button