Bupati Bolmong Turun Langsung di Lokasi Longsor PETI Desa Bakan
BOLMORA.COM, BOLMONG – Kejadian longsor di lokasi Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) Desa Bakan tepatnya di Bukit Busa, membuat Bupati Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong) Yasti Soepredjo Mokoagow, harus turun langsung melihat kondisi Tempat Kejadi Perkara (TKP). Pada kesempatan itu, bupati didampingi Sekretaris Daerah (Sekda) Tahlis Gallang, serta sejumlah perangkat daerah.
Menurut Yasti, sejak mendengar informasi terjadi longsor yang menyebabkan puluhan pekerja tambang terperangkap tersebut, yang pertama dilakukan Pemkab Bolmong sejak dari Selasa (26/2/2019) tadi malam, bersama tim dari kepolisian, TNI, Basarnas, BPBD dan kesehatan langsung turun ke lokasi, untuk melakukan evakuasi para korban.
“Yang kedua, tentunya dalam melakukan evakuasi para korban tersisa yang tertimbun longsor harus betul-betul hati-hati. Pak Kapolres juga sudah menyampaikan harus hati-hati betul mengeluarkan para, karena status tanah yang kemiringannya 90 derajat, kemudian tanah labil. Jadi musti hati-hati, jangan sampai kita salah mengambil langkah, maka semua yang di dalam yang kita perkirakan mungkin masih ada 50-an orang itu tidak bisa selamat,” ungkpanya.
Dia meminta masyarakat untuk bersabar dulu, dan percayakan kepada tim yang dibentuk sama-sama oleh pemerintah, yakni Polres, TNI, Basarnas, BPBD Bolmong, untuk melakukan langkah-langkah yang tepat.
“Tentunya sesuai dengan prosedur keselamatan. Supaya yang di dalam itu mudah-mudahan bisa keluar dengan selamat,” imbuh Yasti.
Ditambahkan, masalah tambang ini bukan kewenangan dari Pemkab Bolmong, karena seluruh perizinan yang terkait dengan tambang mineral ini, adalah dari provinsi.
“Yang punya kewenangan untuk menutup tambang itu ada di Pemerintah Provinsi (Pemprov). Jadi saya tidak bisa memberikan keterangan, karena itu bukan kewenangan kami,” tandasnya.
Sementara, untuk masyarakat yang selamat, Pemkab Bolmong punya tim kesehatan untuk menanganinya, bahkan dokternya pun lengkap.
“Pelayanan kesehatan kita siapkan di rumah sakit. Ditangani juga oleh dokter, baik dari Kabupaten Bolmong, maupun dokter dari Kota Kotamobagu,” kata Yasti.
Dikesempatan yang sama, Kapolres Kotamobagu AKBP Gani Fernando Siahaan, SIK mengatakan, saat ini sudah ada personel dari Polres yang diturunkan di lokasi.
“Ada dua peleton Sabara, satu peloton Brimob, satu peleton TNI, dan ditambah dengan 1 peloton Basarnas. Kita bersatu padu untuk melakukan evakuasi para korban yang informasinya masih banyak yang tertimbun. Informasinya masih ada sebanyak 50 orang. Kita akan menggunakan alat berat. Nanti dari Basarnas yang akan menyampaikan teknis dari penggunaan alat ini,” ungkapnya.
Menurutnya, saat ini Polres Kotamobagu membentuk posko, apabila ada keluaraga korban yang merasa dalam kejadian ini ada keluaraga di TKP ataupun yang telah meninggal dunia, dipersilakan melapor ke posko yang dibentuk di Blok C Desa Bakan.
“Ada tim dokter yang sudah kita siapkan di sana, bahkan tim indentivikasi sudah kita siapkan demi mengidentivikasi jenazah yang mungkin tidak bisa dikenali. Saat ini kita masih bersama-sama dengan masyarakat untuk melakukan proses evakuasi, karena ada informasi bahwa ada kedengaran dari suara yang ada di TKP masih perlu ada yang kita selamatkan,” pungkas Gani.
Sementara itu, Korpos Basarnas Pos SAR Kota Kotamobagu Rusmadi menambahkan, pihaknya sejak tadi malam (Selasa malam) mulai pukul 23.00 WITA sudah tiba di TKP, dan pada pukul 24.00 WITA langsung berkoordinasi dengan instansi terkait.
“Jam 12 malam kami langsung berkoordinasi dengan tim research JRBM dan instansi terkait. Kami langsung turun ke lokasi melakukan assesment terhadap korban, dan bagaimana nanti proses evakuasinya,” tambahnya.
Warga Kabupaten Boltim Jail Makalalag, yang membantu proses evakuasi saat itu mengatakan, pada pukul 14.00 WITA ada dua korban yang tertimbun di dalam PETI Bakan berteriak meminta makanan, dan oleh warga setempat langsung diberikan.
“Saat sedang melakukan evakuasi, kami mendengar suara minta makan. Suara tersebut ternyata bersal dari dalam runtuhan bebatuan. Warga pun langsung memberikan makanan. Namun korban tersebut masih sulut dievakuasi,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan dr. Sahara Albugis mengungkapkan, sampai saat ini sudah ada 27 penambang yang berhasil dievakuasi, 8 di antaranya meninggal dunia.
“Sudah ada 8 orang yang berhasil dievakuasi dinyatakan meninggal. Yang ditemukan masih hidup ada 19 orang,” ujarnya.
(agung)



