✨Marhaban Ya Ramadhan 1447 H / 2026

Internasional

Starlink Turunkan Orbit Ribuan Satelit Usai Nyaris Bertabrakan

Kepadatan Orbit Bumi Meningkat, Risiko Tabrakan Antariksa Kian Nyata

Perlombaan antariksa memasuki fase baru. Kali ini, bukan negara yang memimpin, melainkan korporasi teknologi. SpaceX, perusahaan antariksa milik Elon Musk, mengambil langkah drastis dengan menurunkan ketinggian hampir 4.400 satelit Starlink setelah insiden jarak dekat dengan satelit China pada Desember lalu.

Keputusan itu diambil setelah sebuah satelit yang diluncurkan dari Pusat Peluncuran Jiuquan, China barat laut, melintas sangat dekat dengan satelit Starlink. Jarak keduanya dilaporkan hanya sekitar 200 meter, memicu kekhawatiran serius soal keselamatan orbit rendah Bumi. SpaceX kemudian menurunkan orbit satelit dari 550 kilometer ke 480 kilometer.

Menurut Wakil Presiden Teknik SpaceX, Michael Nicolls, insiden itu terjadi karena minimnya koordinasi lintasan dengan satelit yang sudah ada. Peneliti China menyebut data orbit baru dibagikan kurang dari 14 menit sebelum momen pendekatan terdekat, membuat ruang respons menjadi sangat sempit.

Bukan Insiden Pertama, Risiko Makin Besar

Ini bukan kejadian tunggal. Pada 2021, dua satelit Starlink juga sempat mendekati Stasiun Luar Angkasa China, memaksa kru melakukan manuver darurat. Kini, penurunan orbit besar-besaran oleh SpaceX justru memicu perdebatan baru. Sejumlah ilmuwan memperingatkan bahwa kesalahan kecil dalam koordinasi dapat memicu tabrakan berantai yang menghasilkan puing antariksa dalam jumlah masif.

Kekhawatiran itu diperkuat oleh kajian ilmiah terbaru tentang Sindrom Kessler, teori yang menggambarkan reaksi berantai tabrakan tak terkendali di orbit. Studi yang terbit Desember 2025 menyimpulkan bahwa satelit di orbit lebih tinggi dan berperiode panjang lebih sulit dikendalikan dan berisiko lebih besar memicu kecelakaan.

Nicolls berargumen, orbit yang lebih rendah justru mempercepat peluruhan satelit rusak dan memangkas peluang tabrakan. Langkah ini dinilai sebagai upaya mitigasi sekaligus sinyal itikad baik SpaceX. Namun, para ahli menegaskan risiko tetap ada tanpa regulasi global yang lebih ketat.

Orbit Bumi Kian Padat, Ilmuwan Waspada

Kepadatan orbit Bumi meningkat tajam. Selain Starlink, proyek lain seperti Amazon Project Kuiper, Blue Origin Tera, Eutelsat OneWeb, dan program Qianfan milik China terus menambah satelit di Low Earth Orbit (LEO). Situasi ini mempersulit observasi astronomi dan memperbesar ancaman tabrakan.

Masalah tak berhenti di sana. Laju peluncuran yang agresif juga menyorot emisi roket, polusi saat satelit kembali ke atmosfer, serta risiko puing jatuh ke Bumi. Sejumlah ilmuwan bahkan mengingatkan potensi bahaya bagi penerbangan komersial jika sampah antariksa tak dikelola serius.

Kesimpulannya jelas: langkah SpaceX mungkin tepat untuk saat ini, tetapi tanpa kerangka internasional yang kuat, orbit Bumi berisiko berubah menjadi jalur berbahaya yang padat dan sulit dikendalikan.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button