OD-SK Hadiri Prosesi Adat Tulude di Kabupaten Kepulauan Sitaro
BOLMORA.COM, ADVERTORIAL – Masyarakat Kepulauan Nusa Utara yang meliputi kabupaten Kepulauan Sangihe, Talaud dan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), menggelar upacara adat yang disebut Tulude. Upacara Tulude merupakan acara sakral yang dilakukan sebagai rasa syukur atas segala berkat terhadap Mawu Ruata Ghenggona Langi (Tuhan yang Mahakuasa) atas berkat-berkat-Nya kepada umat manusia selama setahun yang lalu.

Acara ini digelar setiap tahun oleh pemerintah dan masyarakat Kabupaten Kepulauan, tepatnya diakhir bulan Januari. Seperti yang dilaksanakan tahun 2022 ini, yang dipusatkan di Kabupaten Kepulauan Sitaro, Minggu (30/2/2022).
Meski berlangsung penuh kesederhanaan, namun suasana semarak dan kekeluargaan sangat terlihat dari setiap prosesi upacara Adat Tulude.

Pada momentum acara yang sarat budaya warisan leluhur itu, hadir langsung Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) Olly Dondokambey bersama Wakil Gubernur Steven Kandouw (OD-SK).
Dalam kesempatan itu, Gubernur Olly mengaku bangga berada di tengah-tengah masyarakat Sitaro yang punya adat istiadat dan budaya beradab. Di mana, masyarakat memiliki ketulusan menjaga warisan dan nilai-nilai leluhur.
“Ini harus dikembangkan. Sebab, Indonesia khususnya Kabupaten Sitaro memiliki adat-isitiadat dan budaya yang jauh lebih hebat serta eksotis, sehingga layak untuk dikembangkan,” kata Olly.

Gubernur periode kedua pilhan masyarakat Sulut ini pun menyerukan agar seluruh masyarakat Nusa Utara tetap menjaga dan merawat, serta tidak terpengaruh dengan hadirnya budaya asing dan modernisasi.
“Acara Adat Tulude tahun 2022 ini menjadi harapan dan penuh keberkatan. Janganlah terpana dengan gaya dari luar, karena kita punya budaya beradab yang harus dirawat dan dipertahankan,” tegasnya.

Menurut Olly, segala tuntunan dan penyertaan Tuhan harus disyukuri. Hal ini harus disadari dengan cara konstruktif serta bernilai positif.
“Merupakan sukacita melimpah ketika dapat bersama-sama menggelar adat Tulude tahun 2022 untuk memohon berkat dari Tuhan di sepanjang tahun ini. Seluruh rangkaian Tulude ini dapat dilaksanakan dengan baik, karena kehebatan Ibu Bupati Evangelian Sasingen, yang dengan cepat mempersiapkan semuanya,” sebutnya.

Di kesempatan itu pula, Olly menyampaikan bahwa dalam waktu dekat di Kabupaten Kepulauan Sitaro bakal hadir bandara dengan nama Bung Karno.
Sekadar diketahui, upacara Adat Tulude merupakan hajatan tahunan warisan para leluhur masyarakat Nusa Utara, yang merupakan wilayah di ujung utara Provinsi Sulut.
Telah berabad-abad acara sakral dan religi ini dilakukan oleh masyarakat etnis Sangihe, Talaud dan Sitaro. Sehingga tak mungkin dihilangkan atau dilupakan oleh generasi mana pun.

Dikutip dari situs budaya-indonesia.org, tradisi ini telah terpatri dalam khasanah adat, tradisi dan budaya masyarakat Nusa Utara. Bahkan tradisi budaya ini secara perlahan dan pasti mulai diterima bukan saja sebagai milik masyarakat Nusa Utara, dalam hal ini Sangihe, Talaud dan Sitaro, tetapi telah diterima sebagai suatu tradisi budaya masyarakat Sulut dan Indonesia pada umumnya. Sebab, di mana ada komunitas masyarakat etnis Nusa Utara, pasti di sana akan ada hajatan Tulude.

Tulude pada hakekatnya adalah kegiatan upacara pengucapan syukur kepada Mawu Ruata Ghenggona Langi (Tuhan yang Mahakuasa) atas berkat-berkat-Nya kepada umat manusia selama setahun yang lalu.
Pada masa awal beberapa abad lalu, pelaksanaan upacara adat Tulude dilaksanakan oleh para leluhur pada setiap tanggal 31 Desember. Yang mana, tanggal ini merupakan penghujung dari tahun yang akan berakhir, sehingga sangat pas untuk melaksanakan upacara Tulude.

Pengertian Tulude sendiri, secara harfiah adalah meluncurkan atau melepaskan sesutu hingga meluncur ke bawah dari ketinggian (lereng bukit dsb). Kemudian, kata ini mengalami perluasan makna menjadi melepaskan, meluncurkan, menolak atau mendorong dalam hal ini melepaskan tahun yang lama dan siap menerima tahun yang baru.
Dalam tradisi lama leluhur masyarakat Sangihe dan Talaud, acara tolak tahun ini diwujudkan dengan upacara di tepi pantai dengan melepaskan, meluncurkan, atau mendorong sebuah bininta yakni perahu kecil yang terbuat dari kayu latolang (sejenis kayu yang tumbuh lurus tinggi tak bercabang) dengan muatan tertentu berupa sesajian yg terdiri atas bahan pangan hasil ladang dan laut.
Perahu ini oleh tokoh adat didorong, dilepas atau dihanyutkan ke laut sebagai simbol segala sesuatu yang buruk di tahun yang akan lewat dibuang atau dihanyutkan ke laut agar tidak lagi menimpa warga desa setempat di tahun yang baru.
Jika perahu tersebut dibawa arus laut dan terdampar di pantai atau desa tetangga, maka orang yang menemukannya wajib menolak dan menghanyutkannya kembali ke laut, karena dipercaya, kalau tidak dihanyutkan lagi, maka segala malapetaka dan sakit-penyakit yang pernah menimpa masyarakat asal perahu itu, akan berpindah ke tempat di mana perahu itu terdampar.
Ketika agama Kristen dan Islam masuk ke wilayah Sangihe dan Talaud pada abad ke-19, upacara adat Tulude ini telah diisi dengan muatan-muatan ritual agama samawi berupa penginjilan.

Sedangkan tradisi kekafiran secara perlahan mulai terkikis. Bahkan, hari pelaksanaannya yang biasanya pada tanggal 31 Desember, oleh kesepakatan adat, dialihkan ke tanggal 31 Januari tahun berikutnya.
Hal ini dilakukan, karena tanggal 31 Desember merupakan saat yang paling sibuk bagi umat Kristen di Sangihe dan Talaud. Sebab, seminggu sebelumnya telah disibukkan dengan acara ibadah malam Natal, lalu tanggal 31 Desember disibukkan dengan ibadah akhir tahun dan persiapan menyambut tahun baru.
Akibat kepadatan dan keseibukan acara ibadah ini dan untuk menjaga kekhusukan ibadah gerejawi tidak terganggu dengan upacara adat Tulude, maka dialihkankan tanggal pelaksanaannya menjadi tanggal 31 Januari. Bahkan pada tahun 1995, oleh DPRD dan pemerintah kabupaten kepulauan Sangihe-Talaud, tanggal 31 Januari telah ditetapkan dengan Perda sebagai hari jadi Sangihe Talaud dengan inti acara upacara Tulude.
Dalam upacara adat tulude ini, ada berbagai konten adat yang dilakukan. Pertama, dilakukan pembuat kue adat Tamo di rumah seorang tokoh adat semalam sebelum hari pelaksanaan upacara.
Kemudian, persiapan-persiapan pasukan pengiring, penari tari Gunde, tari salo, tari kakalumpang, tari empat wayer, kelompok nyanyi masamper, penetapan tokoh adat pemotong kue adat tamo, penyiapan tokoh adat pembawa ucapan Tatahulending Banua, dan tokoh adat pembawa ucapan doa keselamatan.
Kemudian seorang tokoh pemimpin upacara yang disebut Mayore Labo, dan penyiapan kehadiran Tembonang u Banua (pemimpin negeri sesuai tingkatan pemerintahan pelaksanaan upacara seperti kepala desa, camat, bupati/wali kota atau gubernur) bersama Wawu Boki (isteri pemimpin negeri) serta penyebaran undangan kepada seluruh anggota masyarakat untuk hadir dengan membawa makanan untuk acara Saliwangu Banua (pesta rakyat makan bersama).
Waktu pelaksanaan upacara adat Tulude adalah sore hari hingga malam hari selama kurang-lebih 4 jam. Waktu 4 jam ini dihitung mulai dari acara penjemputan kue adat Tamo di rumah pembuatan lalu diarak keliling desa atau keliling kota untuk selanjutnya dibawa masuk ke arena upacara.
Sebelum kue Tamo ini dibawa masuk ke arena upacara, Tembonang u Banua (Kepala Desa, Camat, Walikota/Bupati atau Gubernur wajib sudah berada di bangsal utama untuk menjemput kedatangan kue adat ini.
(Advetorial/DKSIP/Gnm)



