Pemuda Bolmong Raya Mulai Minati Profesi Barista

0
223
Barista Ini Berhasil Bikin Kedai Sendiri
Foto bersama Kepala BKD Bolmong Rio Lombone dan para Barista

BOLMORA.COM, BOLMONG – Profesi sebagai Barista (Pembuat Kopi) kini mulai diminati oleh kalangan pemuda di Bolaang Mongondow Raya (BMR).

Profesi Barista melepaskan mereka dari jerat kemiskinan. Terlihat para Barista muda tampil dalam Festival Kopi yang dihelat Badan Keuangan Daerah (BKD) Bolmong, Senin (2/12/2019) di halaman kantor Pemkab Bolmong.

Dari pantauan Bolmora.com, Para barista muda ini terlihat cekatan mereka membuat kopi. Sekilas gaya mereka mirip profesional. Dengan gerakan akrobatis, seorang Barista muda terlihat mengaduk-aduk gelas berisi kopi dan menuang isinya ke gelas lain dengan gerakan akrobatis.

Loading...

“Rasanya tak kalah dengan di hotel berbintang,” kata Ale penikmat kopi yang mampir

Dari penuturan Fazri Olabu Barista asal Lolak mengatakan ia masuk ke dunia barista karena ingin mengubah hidup.

“Saya ingin punya kerjaan dan pada akhirnya menciptakan pekerjaan bagi orang lain. Saya pilih barista,”ucapnya

Sayang tak ada mentor Barista di wilayahnya. Namun ia tak patah semangat.

“Saya belajar dari Youtube serta internet,” kata dia.

Belajar secara otodidak, ia mengaku alami kesulitan luar biasa. Menjadi Barista ternyata sangat sulit.

“Sulit sekali, perlu kepintaran, kesabaran dan seni, saya hampir saja menyerah,” kata dia.

Kekuatan mimpilah yang membuatnya dapat menjadi barista. Perlahan, dia dapat berkarir sebagai barista hingga membuka usaha sendiri.

“Saya buka kedai sendiri di Lolak nama kedai saya yaitu Kedai Nafisah, dengan begitu saya bisa bekerja dan menciptakan pekerjaan bagi orang lain,” kata dia.

Ia menyebut terdapat banyak pemuda Lolak yang ingin berkarir sebagai Barista. Keuntungan finansial Barista menarik mereka.

“Mereka ingin mengubah nasib, tak mau berjemur di sinar matahari sambil petik padi, mereka ingin maju dan jadi barista adalah pilihan mereka, itu karena mereka semua tahu Kopi,” kata dia.

Alvist pemuda lainnya yang masih berumur 21 tahun mengaku merantau ke Manado untuk belajar Barista.

“Awalnya saya suka minum kopi, lantas ada teman yang katakan kalau kau mau mengubah hidup jadilah barista,” kata dia.

Alvist harus belajar susah payah menjadi Barista.Ia meniti karir dari bawah.

“Saya ini dari waiter kemudian naik pelan pelan, sangat berat,” katanya.

Menurutnya Barista adalah ilmu yang sulit. Paling sulit adalah menentukan campuran. 

“Itu adalah penentunya,” kata dia.

Kerja kerasnya terbayar. Dia kini bekerja sebagai barista di salah satu rumah kopi di Kotamobagu dan mempunyai penghasilan yang cukup

“Saya sudah bisa hidupi diri sendiri dan terpenting bisa berkarya,” katanya.

Ia mengaku terus berupaya meningkatkan kemampuan diri. Dirinya sudah berhasil menghasilkan resep sendiri.

“Saya terus belajar di internet tentang teknik membuat kopi,” kata dia.

(Agung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here