Pemdes Buyat Tolak Garis Batas Wilayah Dengan Mitra

0
781
Pemdes Buyat Tolak Garis Batas Wilayah Dengan Mitra
Tampak garis batas wilayah Boltim-Mitra sudah masuk dalam pemukim penduduk Buyat. Sumber Peta : Badan Informasi Geospasial (BIG)
Advertisement

BOLMORA.COM , BOLTIM – Persoalan tapal batas wilayah antara Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) dan Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra) kembali muncul ke permukaan.

Walaupun Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 69 tahun 2016 tentang tapal batas Boltim dan Mitra sudah ditetapkan, namun masyarakat Boltim terutama Buyat Bersatu tidak menyetujui garis batas yang telah disahkan tersebut.

“Banyak kejanggalan pada penetapan tapal batas Boltim-Mitra. Sebelum penetapan, beberapa wilayah masih menjadi milik kami namun setelah keluarnya Permendagri 69 Tahun 2016 sudah menjadi milik Mitra,” Ungkap Kepala Desa Buyat Dua, Ramadan Mamangge, Jum’at (12/11/2021).

Bahkan menurut Ramadan, pada saat penelusuran batas desa bersama Badan Informasi Geospasial (BIG) pekan lalu, terlihat jelas garis batas sudah masuk dalam pemukim penduduk Buyat.

“Kami jelas menolak versi Permendagri. Dalam peta tersebut, bukan hanya wilayah hutan dan perkebunan yang diambil tapi hingga ke wilayah pemukiman juga sudah masuk Mitra. Ini kan sudah tidak bisa di kompromi lagi,” Tegas Ramadan.

Garis batas wilayah versi Pemerintah Buyat Bersatu

Pun demikian dikatakan Kepala Desa Buyat Satu Chandra Setiawan Modeong. Menurutnya, penetapan tapal batas ini jelas bertentangan dengan fakta-fakta sejarah dan bukti-bukti kongkrit yang telah pihaknya serahkan ke Pemerintah Kabupaten Boltim.

“Tahun 2002 telah dilaksanakan pengecekan titik koordinat di Gunung Dongit oleh tim dari BIG yang pada waktu itu masih bernama Bakosurtanal yang didampingi oleh pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), serta pemerintah Desa Buyat yang diwakili oleh bapak Salam Ani selaku Sekretaris Desa (Sekdes). Ketika tim berada di kaki gunung Dongit, alat pelacak titik koordinat langsung berbunyi menandakan titik koordinat telah terdeteksi. Dan penelusuran dilanjutkan pada Tahun 2004. Namun, ketika Permendagri keluar, titik koodinat di Gunung Dongit tidak disertakan. Kan aneh!,” Terang Chandra.

Dirinya melanjutkan, dari penamaan beberapa wilayah saja sudah jelas menggunakan bahasa Mongondow.

“Contohnya Tapak Bulawan, Buyayut, Lambak, Teluk Buyat, Tanjung Buyat dan masih banyak lagi yang lainnya. Lokasi dari Sungai Buyat hingga Gunung Erpak pun dahulu disebut Buyat Tengah,” Jelas Chandra.

Lebih anehnya tambah Chandra, dalam Permendagri 69 Tahun 2016 pasal 2 menyebutkan batas daerah menyusuri Tubig Buyat, namun dalam peta BIG garis batas sudah tidak lagi menyusuri sungai namun sudah masuk ke pemukim masyarakat Buyat.

“Kami berharap agar Pemda Boltim segera membentuk tim investigasi untuk menelusuri hal ini dan Bupati juga sudah menyetujuinya,” Tutupnya.

(RG)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here