Dialog KLA Mengantarkan Umat agar Tidak Tersesat

0
299
Dialog KLA Mengantarkan Umat agar Tidak Tersesat
Kegiatan Dialog Kerukunan Lintas Agama
Advertisement

BOLMORA.COM, BOLMONG – Kantor Kementerian Agama (Kemenang) Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), melaksanakan kegiatan dialog Kerukunan Lintas Agama (KLA) Bolmong Tahun 2019. Bertempat di Aula MTsN 1 Bolmong Lolak. Kamis (15/8/2019).

Kegiatan dialog yang diikuti 23 tokoh lintas agama (Islam, Kristen, Hindu) tingkat kecamatan ini, menghadirkan 3 narasumber yakni Kepala Kantor (Kakan) Kemenag Bolmong, Drs Tavip Pakaya. Ketua FKUB Bolmong, Dra Hj Ulfa Paputungan. Dan Ketua Badan Pekerja Wilayah GMIBM Kec Lolak, Pendeta Grace Palit.

Kakan Kemenag Bolmong Drs Tavip Pakaya menyampaikan, tujuan kegiatan ini untuk mengantarkan umat tidak tersesat, mewujudkan hidup yang damai jasmani rohani, dunia akhirat.

“Tujuan kegiatan ini agar umat tidak tersesat, dan mempererat kerukunan, toleransi antar umat beragama dengan pemerintah, dengan mendiskusikan isu-isu keagamaan terkini, termasuk berbagai ancaman dan tantangan dalam mewujudkan kerukunan di Bolmong,” katanya.

Ia juga mengatakan, kerukunan adalah cita-cita setiap manusia dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kebhinekaan yang menjadi ciri khas Indonesia jangan sampai terkoyak apalagi atas nama agama.

“Tokoh-tokoh agama dan penyuluh harus mampu memberi pembinaan terhadap umat bagaimana agama menjadi penuntun dan pemersatu, bukan pemecah belah. Untuk menjadi rukun ideologi harus sama yakni pancasila,” imbaunya

Sementara itu Ketua Forum Kerukunan Antar Umat Beragama (FKUB), Dra Hj Ulfa Paputungan yang memfasilitasi kerukunan melalui dialog bekerjasama dengan Kemenag mengungkapkan, Kerukunan diharapkan jangan hanya di atas kertas, namun harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

“FKUB bertekad memperbanyak kegiatan lintas agama mulai dari pemuda hingga tokoh-tokoh agama serta mendukung pendirian rumah ibadah dengan memberikan rekomendasi pendirian rumah ibadah,” ujarnya.

Senada Pendeta Grace Palit mengungkapkan, ego dan eksklusifisme dalam beragama harus dilepaskan demi persatuan, kerukunan dan toleransi.

“Saling menghargai dalam perbedaan. Karena dadri awal manusia diciptakan memag sudah berbeda-beda, namun saling bergantung satu dengan lainnya. Agama jangan dijadikan alat (dieksploitasi) untuk kepentingan lain,” tutupnya.

(Agung) 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here