Cerita Seorang Penambang yang Punya Cita-cita Mulia
BOLMORA, BOLMONG – Tambang emas di gunung Desa Bakan, Kecamatan Lolalayan Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong) adalah tempat penambangan emas tanpa izin (PETI) dari warga setempat mencari nafkah dan menaruh harapan untuk masa depan yang indah. Namun ketika awak medai ini mengunjungi wilayah itu, yang terlihat adalah pemandangan gersang dan pohon-pohon tandus. Kondisi itu bukan hal aneh bagi Una (48), salah seorang dari ribuan penambang emas yang sehari-harinya mengais rezeki di areal PETI tersebut.
“Di sini areal pertambangan ini tidak ada air bersih, biasanya kami membawa bekal termasuk air bersih dari kampung (Desa Bakan). Jika bekal kami habis, biasanya kami turun ke kampung untuk mengambil bekal. Kalau sedang sibuk, biasanya kami menelepon kijang (tukang antar makanan) untuk mengambil makanan di kampung. Namun, kijang di sini harganya mahal bisa sampai Rp20.000 hingga Rp30.000 sekali pergi,” ungkap Una, saat ditemui di areal tambang.
Ia mengungkapkan, karena gunung di lokasi PETI sangat tinggi dan medan yang sulit, kerap terkadang menelan korban jiwa. Makanya, korban yang jatuh karena longsor bisa menderita patah kaki, tangan atau bahkan lebih parah lagi, yaitu meninggal di lokasi tambang.
“Memang, areal tambang ini termasuk rawan. Apalagi kalau musim hujan, areal tambang ini bisa menjadi mimpi buruk bagi penambang. Di lokasi ini, sudah banyak contoh orang meninggal tertimbun tanah dan batu. Kalau saat hujan ada batu-batu jatuh, jalanan juga sulit dilalui karena licin,” terangnya.
“Memang di areal pertambangan ini sudah banyak yang meninggal dunia, tapi banyak juga yang tidak diketahui oleh masyarakat umum (tidak terexpose). Barusan yang heboh meninggal itu karena ada 6 penambang dari sini (penambang dari Desa Bakan) yang meninggal tertimbun tanah saat menambang,” sambungnya.
Lokasi PETI di gunung Desa Bakan ini memang kerap menelan korban jiwa karena kondisi alamnya yang keras. Meski sudah mengetahui dampak buruk tambang emas, Una dan ribuan warga lainnya masih ingin mengais rezeki guna mendapatkan logam mulia tersebut agar bisa menggapai cita-cita.
“Kehidupan penambang memang keras. Namun dengan kerja seperti ini, penambang bisa beli mobil, punya tempat pengolahan sendiri, ada rumah bagus, anak-anak juga bisa sekolah yang tinggi. Walau pekerjaan kami seperti ini, saya bercita-cita agar anak saya bisa sekolah sampai kuliah. Bahkan kalau bisa di jurusan pertambangan, agar anak saya bisa tahu bagimana kerasnya menjadi penambang. Tapi yang saya inginkan anak saya bukan jadi penambang seperti ayahnya, namun bekerja di kantor pertambangan yang memiliki kantor beser, seperti kantor tambang milik Freeport yang berada di Papua,” harapnya.
Sementara, Kepala Seksi Perencanaaan dan Kajian Dampak, Dinas Lingungan Hidup Bolmong, Erni Tungkagi mengatakan, penambangan emas sebenarnya memiliki dampak yang sangat buruk untuk masyarakat setempat di masa depan. Sebab, pengelolaan emas di tempat itu mengunakan bahan kimia.
“Menurut hasil penelitian, dampak terhadap kerusakan lingkungan akibat PETI mengakibatkan terjadinya pencemaran lingkungan, baik di lingkungan air maupun lingkungan tanah. Dan akibatnya akan sangat berdampak di kehidupan ke depan,” sebutnya.
(agung)



