Harga Kopra Anjlok, Petani Menjerit
BOLMORA, BOLMONG – Sejumlah petani kopra di wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong) terus menjerit. Pasalnya, harga kopra hingga saat ini terus anjlok.
Dari informasi yang dirangkum, sebelumnya pada awal tahun 2018 harga kopra mencapai Rp8 ribu per kilogram, dan pada akhir bulan Juli harga kopra turun drastis hingga menjadi Rp4 ribu per kilogram.
Petani dari Lolak Ferdi Manumpil, mengaku sampai saat ini harga kopra turun drastis. Bisa dikatakan saat ini petani lagi kesulitan, karena harga kopra turun sangat jauh. Sehingga pendapatan dan biaya pekerjaannya tidak seimbang.
“Harga kopra dalam satu ton hanya dapat Rp4 juta. Sedangkan pengolahan kelapa sampai jadi kopra, itu butuh proses yang panjang dan sulit,” ungkapnya, Selasa (31/7).
Menurut dia, jika petani hanya mempekerjakan orang untuk mengola kelapa, maka pendapatan atau penghasilan harus dibagi dua. Karena, tidak ada pekerja yang ingin dibagi tiga dari hasil penjualan kopra. Sebab kerjanya sulit.
“Pertama harus naik kelapa, kemudian setelah kelapa sudah berada di tanah harus dikumpul dan dikupas, dibelah dan panggang sampai matang. Kemudian, dipisahkan antara daging kelapanya dan tempurung. Jadi, dengan terjadinya penurunan harga seperti ini, maka kami sebagai petani tidak memiliki untung,” jelasnya.
Dia berharap agar harga kopra kembali naik. Dengan demikian, petani pun tidak kesulitan.
“Apalagi kami hanya berprofesi sebagai petani. Saya berharap agar pemerintah daerah bisa mencarikan solusi,” tambah Juanli Lumagetohe, petani asal Desa Padang, Kecamatan Lolak.
Terpisah, Kepala Dinas Perkebunan Taufik Mokoginta mengatakan, terjadinya penurunan harga kopra yang sangat jauh dari harga sebelumnya patut dipertanyakan.
“Saya berharap menteri Disperindag bisa mengendalikan harga kopra ini. Kalau tidak, maka gairah petani akan menurun,” katanya, Rabu (1/8).
(agung)



