Sepenggal Kisah Penambang PETI Maut Bakan yang Bertaruh Nyawa Demi Keluarga
BOLMORA.COM, BOLMONG — Bukan rahasia lagi di Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong) mengoleksi beberapa lokasi Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI). Meski harus melewati perbukitan yang terjal, hutan, hingga sungai arus deras, namun para penambang tetap nekat bertaruh nyawa menuju lokasi tambang tersebut. Dan rata-rata dalam pengelolaan tambang menggunakan bahan kimia berbahaya.
Dari beberapa lokasi PETI yang populer di Kabupaten Bolmong, PETI yang berada di Desa Bakan lah yang paling populer, dan akhir-akhir ini, lokasi itu memang begitu populernya.
Sampai-sampai beberapa penambang disana menyebut lokasi itu sebagai “PETI Maut”. Mengapa demikian? Rupanya penamaan itu didasari dari kerap terjadi kecelakaan yang membuat banyak penambang kehilangan nyawa karena tertimbun di lokasi tersebut.
Di balik banyaknya kejadian memilukan di tempat tersebut, publik pun dibuat penasaran – mengenai apa yang membuat para penambang nekat ambil risiko membuat lubang di dalam tanah – yang mereka tahu kapan saja bisa menimbun para penambang.
Bagi masyarakat di Desa Bakan dan beberapa desa tetangga di Kecamatan Lolayan, tambang merupakan ladang rezeki. Mayoritas warga di Kecamatan Lolayan berprofesi sebagai penambang tradisional, selain berkebun.
Masyarakat di Kecamatan Lolayan percya tanah pegunungan mengandung emas yang melimpah. Hal inilah yang membuat warga marak membuat pertambangan, meskipun kebanyakan ilegal.
“Kalau jadi penambang di sini sehari bisa dapat 500 ribu sampai 1 juta, karena emas di gunung-gunung sini melimpah, apalagi di tambang yang sebelumnya memakan puluhan penambang di situ lebih bagus lagi,” kata seorang penambang dari Desa Bakan yang tak mau disebutkan namanya.
Ia juga mengaku tidak terlalu memikirkan mengenai risiko yang ada di lokasi PETI, karena bekerja sebagai penambang bisa mendatangkan uang yang banyak dengan mudah.
“Kalo berkebun penghasilannya sedikit. Jadi tidak ada pilihan lain selain masuk lokasi tambang, ini semua untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Semua pekerjaan pasti ada resikonya,” ungkap dia.
Dijelaskannya, para penambang di sana pada umumnya bekerja berkelompok. Di masing – masing lubang terdapat 10 – 20 orang bahkan lebih.
“Kebanyakan warga yang ikut nambang emas di Bakan biasanya dilakukan secara berkelompok. Jadi tidak sendiri – sendiri. Kalau sudah di dalam lubang apapun yang terjadi kami hanya bisa pasra,” ujarnya
Sebelum pertambangan ilegal mulai ramai di wilayah itu, perusahaan pertambangan PT. JRBM sudah terlebih dahulu mengais emas di pegunungan tersebut. PT. JRBM juga menguasai sebagian besar wilayah pertambangan, termasuk berdekatan dengan lokasi tambang yang kerap terjadi longsor.
Masalah penambangan liar di Kabupaten Bolmong memang sudah sangat kritis. Sabab, bukan hanya mengakibatkan kerusakan lahan atau hilangnya pemasukan untuk daerah dan negara, namun yang lebih fatal lagi dapat meregang nyawa banyak warga.
(Agung)



