Viral!, Ibu Guru Cantik Ini Rela Tempuh Medan Ekstrem Setiap Hari Demi Mengajar
BOLMORA.COM, BOLMONG – Menjadi guru adalah pekerjaan yang mulia. Sebab, seorang guru memberi ilmu dan juga membimbing generasi penerus bangsa supaya dapat membawa nama baik keluarga juga negara. Tak hanya mulia, pekerjaan ini juga dinilai cukup menantang karena membutuhkan kesabaran, usaha, juga pengorbanan.
Kisah kali ini datang dari seorang guru SMP berusia 25 tahun, Vionita Levicha Salmon. Vionita adalah seorang guru matematika yang mengajar di Sekolah SMP 8 Dumoga Timur tepatnya di Desa Ikarad, Kecamatan Dumoga Timur, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong).
Seorang ibu guru cantik ini mengalami banyak orang karena dedikasinya di dunia pendidikan terbilang sangat tinggi. Vionita rela bangun sangat pagi untuk mempersiapkan perjalanannya yang cukup panjang ke tempatnya mengajar.
Ia harus menempuh perjalanan pagi sepanjang 8 kilometer untuk sampai ke tempat di mana murid-muridnya menunggu. Medan jalan terjal di desa tersebut tak membuat niatnya untuk mengajar surut. Baginya, meski kelelahan selama perjalanan selalu terbayar ketika melihat murid-murid tersenyum di setiap harinya. Walaupun kadang ia khawatir bisa saja terjatuh saat menaiki kendaraan bermotor menuju sekolah, tapi ia menikmati pekerjaannya.
Vionita sendiri merupakan warga Desa Kanaan, Kecamatan Dumoga Timur. Setiap hari ia harus menempuh perjalanan melewati berkilo-kilo meter jalan rusak, yang paling berbahaya ketika hujan, sebab jalan menjadi lumpur dan kadang ada longsor. Bahkan kadang, ia harus menunggu agar hujan redah sehingga jalan yang ia lewati bisa dilalui.
Vionita merupakan mahasiswa lulusan Universitas Negeri Manado Tahun 2015. Kemudian ia mencoba peruntungannya dengan mengikuti ujian calon pegawai negeri sipil (CPNS) Kabupaten Bolmong 2018 silam. Ia pun lulus, dan meminta ditempatkan di Desa Ikarad untuk mengabdi di sekolah tersebut.
Dalam situasi darurat Covid-19, tantangan Vionita lebih bertamba. Sebab, di saat semua orang dianjurkan untuk bekerja di rumah atau Work From Home (WFH), dirinya pun dituntut tetap bekerja dan harus melakukan proses belajar mengajar di rumah muridnya masing-masing.
“Dimasa pandemi seperti ini, setiap hari saya mengajar dengan door to door ke rumah-rumah murid untuk mengajar,” kata Vionita.
Ia juga mengatakan, kerap menjumpai muridnya di kebun karena tidak berada di ruma.
“Kalo keadaan seperti ini para murid biasanya di kebun, sering kali saya ke kebun untuk mengajar dan memberi tugas oada murid saya,” ujarnya.
Meskipun begitu Vionita mengaku bangga karena profesinya sebagai guru yang bekerja di pelosok desa terpencil merupakan pekerjaan yang tak bisa dilakukan setiap orang.
(Agung)



