Kotamobagu
Warga Motoboi Besar Gelar Tradisi Kuliner Binarundak
BOLMORA, KOTAMOBAGU – Para Perantau di Kelurahan Motoboi Besar Kecamatan Kotamobagu Timur memiliki cara tersendiri untuk merayakan Idul Fitri yakni dengan menggelar tradisi bakar Binarundak atau yang lebih dikenal dengan Nasi Jaha.
“Tradisi ini sengaja digelar karena sebagai ajang silaturahmi bagi para perantau yang mudik ke kampung halaman,setelah sekian lama tidak bertemu,” ungkap Zulfan Pombaile, Lurah Motoboi Besar.
Menurutnya,memeriahkan perayaan Idul Fitri di kampung halaman dengan berkumpul bersama ratusan perantau lainnya dan menggelar tradisi bakar Binarundak secara massal menjadi sangat mengakrabkan tali persaudaraan.
“Tradisi ini sudah dilaksanakan beberapa tahun belakangan ini dan digelar setiap hari ke-empat Idul Fitri, dengan membakar Binarundak di jalan depan rumah secara berkelompok,” ujar Julfan.
Muhamad Golonggom,salah satu warga perantau asal Motoboi Besar menerangkan, Tradisi tersebut sangat baik untuk merekatkan kembali tali silaturahmi bagi sesama perantau dan warga lainnya, terlebih bagi yang sangat jarang pulang ke kampung halaman.
“Saat ibi banyak kebudayaan yang hilang karena terglgerus oleh perkembangan zaman dan tradisi ini kami jaga terus agar tetap ada,” terangnya.
Wali Kota Kotamobagu Tatong Bara sendiri menyambut baik tradisi Bakar Binarundak dan sangat mendukung kegiatan tersebut.
“Saya sendiri baru tahu dari warga disini bahwa Binarundak atau Nasi Jaha mengandung Filosofi tersendiri yaitu untuk mempererat tali solaturahmi. Beras Ketan mengandung arti perekat persaudaraan, Rempah-rempah menggambarkan keaneka ragaman suku budaya adat istiadat dan agama yang ada di Kotamobagu,sedangkan Daun Pisang dan Bambu sebagai simbol persatuan yang dibakar pada Api sebagai bentuk semangat persaudaraan. Oleh karenanya,Pemkot sangat memberikan apresiasi atas tradisi ini,” ujar Tatong.
Diketahui,sedikitnya 1000kg Beras Ketan dan 500 biji Kelapa dihabiskan pada tradisi Binarundak tersebut.(me2t)



