Curhatan dari Garis Depan yang Bertarung Melawan Covid-19 di RSUD Bolmut
BOLMORA.COM, BOLMUT — Semenjak krisis pandemi virus Corona (COVID-19) mewabah secara global, para tenaga medis dituntut untuk bekerja ekstra dalam menjalankan tugasnya.
Tenaga medis yang menjalankan tugas kemanusiaan terdepan mempertaruhkan segalanya, termasuk ancaman maut dalam bertarung melawan virus Corona.
Fenomena ini dirasakan oleh seluruh tenaga medis, baik berprofesi dokter dan perawat hingga para relawan yang secara ikhlas memberikan dedikasinya demi membantu para pasien yang terbaring di rumah sakit.
Sama halnya dirasakan oleh para dokter muda yang bertugas di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut). Sebagai garda terdepan penanganan COVID-19, mereka rela mengorbankan waktu, tenaga dan pikiran, hingga harus menetap di rumah sakit sebagai tempat tinggal.
“Sebagai dokter umum, kami banyak menangani pasien dengan segala kondisi. Mulai dari pasien tanpa gejala, pasien baik-baik saja hingga pasien dalam keadaan yang kurang baik, ” ujar dokter muda wanita yang akrab disapa Rahma saat menggelar jumpa pers di ruangan rapat Dinas Kesehatan (Dinkes) Bolmut, Minggu (10/05/2020).
Lanjut Rahma menceritakan, memang dalam menangani pasien, mereka harus berhadapan dengan tantangan dan segala resiko, termasuk keselamatan yang dapat mengancam kapan saja.
“Menghadapi pasien COVID-19, kami berempat pun setiap harinya bekerja selama berjam-jam dengan mengenakan APD lengkap sesuai dengan Protap Kesehatan Penanganan Covid-19, ” ungkap dr. Rahma.
Dalam menjalankan tugasnya, kata Rahma, mereka selalu mendapat dukungan dari pihak keluarga, meskipun rasa cemas dan kesedihan kerap melanda pikiran keluarga. Terlebih sudah hampir tiga bulan mereka bertugas dan tidak pulang kerumah.
“Kita tidak bisa ketemu keluarga setiap waktu. Untuk melepas kerinduan kami hanya komunikasi lewat video call dan telepon saja. Karena ada rasa was-was ketemu keluarga, takut kita carrier dan takut nularin ke keluarga juga,” tutur dr. Rahma.
Perasaan yang sama juga diungkapkan oleh dr. Fadhilla. Ada rasa keinginan untuk pulang ke rumah. Tapi rasa tanggung jawab dan meminimalisir resiko penularan baik kepada keluarga dan masyarakat harus diantisipasi. Sehingga Ia bersama teman seprofesinya harus tinggal di RSUD Bolmut dengan fasilitas yang disediakan pemerintah, agar bisa memberikan pelayanan prima setiap saat kepada pasien Covid-19.
“Kami rindu keluarga, tapi ada misi kemanusiaan yang harus kami dahulukan,” ungkap dr. Fadhilla dengan mata berkaca-kaca.
Mereka berempat kompak mengatakan, perlu kesadaran dan peran masyarakat dalam memutus mata rantai penyebaran covid-19 di Indonesia terlebih khusus di Bolmut.
“Ikuti anjuran pemerintah dengan tetap berada dirumah, berlaku pola hidup sehat dengan rajin cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, mengutamakan social dan physical distancing dan menjaga imun tubuh agar tetap sehat,” tutup dokter-dokter muda cantik yang masih berstatus lajang.
(Awall)
Editor: Wandy.



