Bolmut

Cerita Pilu Korban Banjir Bandang Desa Pangkusa

BOLMORA.COM, BOLMUT – Dampak pasca banjir masih menyisakan pilu di hati Susianto, warga Desa Pangkusa, Kecamatan Sangkub, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut). Lelaki paruh baya itu tak henti memandangi kediamannya yang porak-poranda akibat terjangan banjir bandang yang terjadi pada Rabu (4/3/2020) sekira pukul 01.00 WITA dini hari menjelang subuh.

Setiap harinya, lelaki 68 tahun itu bersama sang istri, berjuang membersihkan sisa-sisa lumpur yang masih melekat di beberapa bagian rumah mereka.

“Bersih-bersih rumah dari pas mulai surut. Sekitar tanggal 5 Maret 2020 lah mulai surutnya,” kata Susianto kepada Bolmora.Com, Minggu (8/3/2020).

Sekeliling rumah Susianto masih dikepung lumpur setinggi mata kaki. Bahkan, ada titik tertentu yang lumpurnya masih sebetis orang dewasa. Masih teringat jelas dibenak Susianto detik-detik saat banjir bandang mulai menerjang rumah yang dihuninya bersama istri dan anak keduanya. Tidak ada persiapan yang dilakukan karena dirinya tak menyangka banjir bandang bakal terjadi.

“Kami sempat terjebak di dalam rumah, tapi selang beberapa saat kemudian saya bersama warga lainnya saling membantu untuk menyelamatkan diri bersama keluarga ke lokasi yang lebih aman,” ungkapnya.

Sesaat pandangan ayah dua anak itu kembali sayu. Dia kembali teringat harta bendanya yang dikumpulkan selama bertahun-tahun, yang lenyap hanya dalam hitungan beberapa detik bersama kedahsyatan banjir bandang yang menerjang.

“Rumah rusak, barang elektronik rusak, hewan ternak berupa sapi dua ekor hanyut, serta hasil panen padi sawah sebanyak 40 karung yang siap digiling menjadi beras ikut terbawa arus, walau saya berhasil menyelamatkan 5 karung di antaranya,” keluh lelaki yang sehari-hari bekerja sebagai petani.

Di tengah kondisinya yang terpuruk, Susianto dan warga terdampak lainnya saat ini bertahan dengan bantuan yang disalurkan oleh pemerintah dan para relawan. Salah satunya kebutuhan makan sehari-hari.

“Dapat nasi bungkus, mie instan, aqua gelas, pakaian bekas dan barang lain yang bisa membantu saya dan keluarga, beserta warga senasib untuk bertahan hidup,” paparnya.

Susianto juga sangat membutuhkan air bersih untuk keperluan sehari-hari, terutama membersihkan sisa-sisa lumpur yang masih tertinggal. Air bersih saat ini sulit diperoleh lantaran sungai dan sumur sudah tercemar lumpur.

Tak banyak yang diharapkan Susianto, selain bisa beraktivitas kembali seperti sedia kala. Ia bersama istri ingin secepatnya kembali bertani demi menyambung roda perekonomian rumah tangga.

“Harapannya hanya agar bisa pulih lagi, saya bisa bertani lagi. Kalau begini kondisinya, kita jadi serba kesulitan,” tandasnya.

Diketahui, Susianto adalah warga transmigrasi yang berasal dari Jawa Timur, Kabupaten Jember. Dirinya ikut program transmigrasi pada usia 20 tahun, sempat mengenyam pendidikan di SMA Bintauna, dan menikah dengan sesama warga transmigrasi.

Pernikahannya dikaruniai dua orang anak. Yang sulung perempuan sudah menikah dan ikut suaminya. Yang bungsu laki-laki masih tinggal bersama kedua orang tuanya.

(Awall)

Editor

Berita yang masuk dari semua Biro akan di Edit terlebih dahulu oleh Tim Editor Media Bolmora.com kemudian di publish.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button