Desa Ekowisata Kapitu Bangkit, Manengkel Solidaritas Perkuat Ekonomi Hijau dan Konservasi Pesisir
Dari ancaman eksploitasi pesisir hingga gerakan ekonomi berkelanjutan, Desa Ekowisata Kapitu menjadi contoh nyata kolaborasi masyarakat dan LSM lingkungan

Desa Ekowisata Kapitu tumbuh di tengah tantangan besar wilayah pesisir Sulawesi Utara. Provinsi ini memiliki 627 desa pesisir yang membentang di sepanjang 2.395,99 kilometer garis pantai, mencakup daratan Sulawesi dan 287 pulau kecil di sekitarnya. Fakta itu menunjukkan betapa kuat ketergantungan masyarakat “Bumi Nyiur Melambai” terhadap laut dan sumber daya alamnya.
Sayangnya, praktik eksploitasi masih terjadi. Sebagian oknum menggunakan bom dan racun untuk menangkap ikan. Hutan mangrove ditebang demi kayu bakar dan material bangunan. Aktivitas destruktif ini mengancam ekosistem sekaligus mata pencaharian warga pesisir.
Di tengah kondisi tersebut, Desa Ekowisata Kapitu di Kecamatan Amurang Barat tampil sebagai model perubahan berbasis konservasi dan ekonomi berkelanjutan.
Manengkel Solidaritas Pimpin Transformasi Desa Ekowisata Kapitu
Ketua LSM lokal Manengkel Solidaritas, Sella Runtulalo, memimpin langsung pendampingan masyarakat dalam membangun Desa Ekowisata Kapitu berbasis pelestarian lingkungan.
Manengkel Solidaritas merupakan organisasi non-pemerintah yang dinamis dan berkomitmen mengembangkan proyek ekologis berbasis komunitas. Organisasi ini berdiri secara resmi pada 2015 di Manado, Sulawesi Utara, berangkat dari konsep yang telah dirintis sejak 2011.
Manengkel Solidaritas lahir dari keprihatinan para ilmuwan kelautan lokal terhadap degradasi ekosistem pesisir dan laut yang semakin mengkhawatirkan. Dari kegelisahan itu, lahirlah gerakan konkret yang menyatukan konservasi dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Misi mereka jelas: menginspirasi dan memberdayakan masyarakat lokal agar hidup harmonis dengan lingkungan laut dan darat melalui praktik berkelanjutan.
Pendampingan Ekonomi Hijau di Desa Ekowisata Kapitu
Dalam mengembangkan Desa Ekowisata Kapitu, Manengkel Solidaritas tidak hanya memberi edukasi. Mereka melakukan pelatihan, pendampingan teknis, serta membentuk kelompok pengelola mangrove.
Tujuannya tegas: meningkatkan ekonomi warga dari hasil pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Dengan cara itu, masyarakat otomatis menjadi pelindung utama mangrove, terumbu karang, dan hutan pesisir.
Kelompok mangrove yang telah dibentuk kini mampu memproduksi berbagai olahan berbahan dasar mangrove, seperti:
- Kerupuk mangrove
- Sirup mangrove
- Teh mangrove
- Seduhan mangrove
Produk tersebut akan dipasarkan melalui Cafe Mangrove yang sedang dirancang sebagai pusat promosi dan penjualan hasil UMKM desa.
Lima Program Strategis Penguatan Desa Ekowisata Kapitu
Untuk mempercepat pengembangan Desa Ekowisata Kapitu, Manengkel Solidaritas menyiapkan lima program utama:
1. Perpanjangan Jembatan Mangrove
Jembatan sepanjang 10 meter akan diperluas menjadi 60 meter. Infrastruktur ini akan memperkuat daya tarik wisata sekaligus menjadi sarana edukasi lingkungan.
2. Pembangunan Study Center
Fasilitas ini akan menjadi pusat pembelajaran dan pertukaran informasi mengenai konservasi laut dan darat.
3. Pembangunan Cafe Mangrove
Cafe ini akan menjadi etalase produk olahan mangrove sekaligus pusat ekonomi kreatif desa.
4. Toilet Umum dan Fasilitas Penunjang
Pembangunan fasilitas dasar bertujuan meningkatkan kenyamanan wisatawan.
5. Rumah Bibit Mangrove
Rumah bibit akan mendukung program rehabilitasi dan menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir.
Dukungan Pemerintah dan Komitmen Desa
Bupati Minahasa Selatan, Franky Donny Wongkar SH, mengapresiasi komitmen Manengkel Solidaritas dalam membangun Desa Ekowisata Kapitu berbasis konservasi.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Pariwisata Minsel Evert Kawalo, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Roy Sumangkud, serta Hukum Tua Desa Kapitu Alva Winokan.
Alva Winokan menyatakan dukungan penuh terhadap program ini. Ia menegaskan pemerintah desa akan terus menyosialisasikan pentingnya menjaga lingkungan agar kesadaran kolektif masyarakat semakin kuat.
Konservasi dan Pemberdayaan Jadi Program Inti
Program inti Manengkel Solidaritas mencakup konservasi laut dan darat serta pengembangan komunitas yang inklusif. Organisasi ini bergantung pada dukungan individu dan mitra untuk memastikan keberlanjutan dan dampak jangka panjang dari setiap program.
Melalui pendekatan partisipatif, Desa Ekowisata Kapitu kini bergerak menuju desa mandiri berbasis ekonomi hijau. Konservasi bukan lagi beban, melainkan peluang.
Transformasi ini membuktikan bahwa ketika masyarakat diberdayakan dan alam dijaga, kesejahteraan dapat tumbuh tanpa merusak masa depan.
- Laporan Kecelakaan Kerja PT KJL Kapitu Masuk DPRD Minsel, Korban Minta RDP dan Hak Dipenuhi
- Kembangkan Potensi Wisata, Bupati Bolsel Tinjau Lokasi Ekowisata Mangrove
- Wabup Bolsel Lirik Wisata Bahari dan Ekowisata Mangrove Kota Pariaman



