Kepsek SDN 2 Upai Diduga Lakukan Pungli
BOLMORA, KOTAMOBAGU — Sejumlah warga Kelurahan Upai, Kecamatan Kotamobagu Utara, meminta agar Wali Kota Kotamobagu Tatong Bara, mencopot Kepala Sekolah Dasar Negeri (SDN) 2 Upai. Pasalnya, selain dinilai arogan, ternyata di dalam sekolah tersebut terdapat adanya pungutan liar (Pungli). Hal ini terungkap saat awak media mendatangi sejumlah pedagang yang berada di lingkungan sekolah tersebut. Para pedagang menuturkan, mereka diminta membayar iuran sebesar Rp4 ribu hingga Rp5 ribu per hari.
“Setiap hari kami harus membayar iuran dan disetorkan ke sekolah melalui guru yang ditunjuk oleh kepsek. Jika tidak membayar, kami diancam tidakdiperbolehkan berjualan dan akan dikeluarkan dari lingkungan sekolah,” ungkap salah satu pedagang yang namanya tidak mau dipublis, saat ditemui di sekolah tersebut, Kamis (1/2/2018) siang tadi.
Pedagang itu mengakui, bukan hanya mereka saja, bahkan penjual jamu dan bakso goreng yang sering datang setiap hari berjualan di sekolah itu, juga dimintai iuran.
“Kalau mas bakso dan mba jamu juga dimintakan iuran yang sama seperti saya,” ujar ibu paruhbaya itu.
Ia menerangkan, pemberlakuan untuk membayar iuran tersebut sudah berlagsung lama.
“Awalnya hanya Rp2 ribu, tapi sudah empat bulan ini iurannya naik. Kata mereka (pihak sekolah) iuran ini untuk kebersihan,” jelasnya.
Selain pungutan kepada pedagang, para siswa pun diberikan denda sebesar Rp5 ribu, jika tidak hadir di sekolah.
“Iya, kami harus bayar denda sebesar Rp5 ribu untuk satu hari, jika tidak hadir (alpa),” kata seorang siswi, saat bersua dengan awak media siang tadi.
Diketahui, terdapat tiga pedagang yang berada di dalam sekolah mengaku membayar Rp4000 iuran per hari, dan satu orang membayar Rp5000. Jika dihitung dalam sehari, iuran yang di setor para pedagang ke sekolah sebesar Rp 17 ribu. Dengan demikian, dalam sebulan iuran pedagang yang masuk ke Sekolah senilai Rp408 ribu.
Sayangnya, upaya konfirmasi kepada kepsek SDN 2 Upai Sa’ban Harajati, belum berhasil dilakukan. Ditemui di sekolah, kata sejumlah guru sedang berada di luar. Ditelepon tidak diangkat, di sms pun tidak dibalas.(me2t)



