KPU Janji Perbaiki Kekurangan pada Debat Publik Pertama
BOLMORA, POLITIK – Banyaknya kritikan dan berbagai masukkan dari berbagai kalangan terkait beberapa kekurangan dalam pelaksanaan debat publik kandidat calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Bolmong, yang digelar Selasa (24/1/2017) lalu, bertempat di Gedung Bagas Raya SMK Yadika, Desa Kopandakan II tersebut, tampaknya membuat Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bolmong harus berbenah, guna menutupi beberapa kekurangan, pada debat publik pasangan calon tahap pertama itu.
Adapun beberapa hal yang dikritisi seperti, pendukung kedua paslon tidak diberi kesempatan beberapa menit untuk sorak sorai dengan yel-yel. Selain itu, moderator juga membatasi jika ada tim penggembira yang terlalu aktif, bahkan memberi penegasan bisa dikeluarkan.
“Yang lain soal posisi awak media saat meliput. Seharusnya awak media berada di samping kiri atau kanan. Kemudian banyaknya kursi kosong dalam ruangan,” kritik salah satu pengamat politik yang hadir saat debat tersebut.
Tak hanya itu, lelaki berkulit so matang yang tak mau menyebutkan namanya tersebut juga mengkritisi juga soal moderator.
Menurutnya, moderator juga mungkin bisa diambil yang lain, yang bukan basic akademisi saja.
“Kalau saya perhatikan jalannya debat publik tersebut mirip model kuliah umum debat saja Moderator dan panelis, akademisi semua. Seharusnya ada unsur profesional yang dilibatkan,” cetusnya.
Terkait dengan sejumlah kritikan tersebut, olehnya KPU langsung melakukan evaluasi untuk perbaikan debat publik tahap dua, yang akan dilaksnakan, Senin (30/1) nanti.
Komisioner KPU Daendels Somboadile, mengaku akan lebi baik lagi pada debat tahap dua nanti. Semua masukan dan saran akan dibenahi, terutama pengamanan kepolisian yang terlalu ketat, namun tak sesuai dengan kondisi acara. Apalagi, banyak undangan resmi dari KPU yang tak bisa masuk.
“Kami akui, memang banyak kekurangan pada pelaksanaan debat publik tahap pertama. KPU banyak mendapat komplain dari undangan yang tak bisa masuk, karena pengamanan ketat,” ujar Daendels, ketika dihubungi awak media ini, Kamis (26/1/2017).
Diakuinya juga pada saat debat pertama banyak kursi kosong. Bahkan ada yang menunggu di luar, ada pula yang langsung pulang.
“Kondisi itu dikarenakan, pengamanan membatasi pukul 02:00 WITA, sudah tak boleh ada yang masuk lagi. Tapi saya kira tak perlu seperti itu. Saya saja seorang komisioner, diperiksa semua tas saya. Masa saya penyelenggara akan merusak kegiatan ini. Padahal sudah saya bilang,” ungkap Daendels.
Selain itu, jalannya acara tak sesuai jadwal yang ditentukan, terutama soal waktu. Baik panelis maupun moderator tak menjalankan sesuai jadwal.
“Untuk moderator pun memang kurang membangun suasana,” ucapnya.
Bahkan menurut Daendels, pemaparan visi misi maupun tanya jawab dengan pasangan calon Yasti-Yanny dan SBM JiTu, tak sesuai tema. Tema sentral Hukum, Politik dan Tata Kelola Pemerintahan, malah hanya sendikit yang disentil.
“Visi misi terlalu meluas. Saat tanya jawab, seharusnya jawab saja singkat padat jelas sesuai tema. Tapi ada memang yang menjawab tak sesuai,” kata dia.
Terkait euforia pendukung para calon, Daendels menyebut masih wajar. Moderator saja yang kurang memberi ruang bagi mereka untuk melakukan yel-yel dukungan.
“Terkait titik kumpul massa di luar gedung, akan bicarakan lagi dengan keamanan. Namun kami mengapresiasi kepada pasangan calon yang datang tepat waktu, sesuai jadwal pukul 13:00 WITA, kami langsung mulai. Intinya, banyak yang kami evaluasi di acara debat pertama. Semoga pada debat publik tahap kedua nanti, hal seperti sebelumnya terjadi tidak terjadi lagi,” pungkas Daendels.(gun’s)



