PUISI HARI IBU
Oleh: Jamal Rahman Iroth
Ibu, ini puisi kedua kutulis untukmu.
Puisi pertama masih terpahat di lipatan-lipatan daong balacae, cakar bebek, kumis kucing, dan kuncup daun pisang.
Dulu ketika suhu badanku meninggi bagai teror di sekujur jiwamu, kau balut raga ini dengan daun-daun yang telah dilumuri kasih itu.
Hari ini, aku bersyukur masih melihat senyummu menghirup wangi keringatmu, mengeja binar matamu ketika cakalang sous, kangkong cah bunga popaya, mujair woku blanga dan ayam semut buatanmu kusantap bersama segenap keriangan dalam bejanamu.
Sementara ayah, kini lebih sering berbaring, kau setia menjaga dan beri semangat, padahal kutahu kaki dan pinggangmu menyimpan keletihan yang sama bahkan lebih.
Ibu, ini puisi kedua ingin kutulis tanpa hasrat membagus-baguskan diksi, rima dan segala metafora telah kuhanyutkan di derasnya kuala anis, melintasi loreng dan naruung, menyapa sejengkal kenangan serupa lumut di batu tiga dan jembatan kuwil
Ibu, selamanya akan terus kudekap kisahmu, kisah kita tentang harapanmu menempel di seragam sekolahku, tentang nada-nada makaaruyen mengiring upayamu ajari aku memetik dawai kehidupan.
Kini aku yakin, letih bahkan getir takkan pernah sanggup menelanmu.
Derita kan pergi dan berganti hingga terbukti ketegaran bukan hanya milik batu karang.(**)



