Kelompok Lestari Desa Kinomaligan Lakukan Penanaman Pohon di Kawasan TNBNW

0
461
Kelompok Lestari Desa Kinomaligan Lakukan Penanaman Pohon di Kawasan TNBNW
: Kepala Balai TNBNW bersama Kepala Resort Dumoga Barat dan Kepala Desa saat melakukan penanaman pohon

BOLMORA.COM, BOLMONG – Meski dalam suasana bulan puasa, namun tidak menyurutkan niat Kelompok Lestari dan Resort Dumoga Barat, untuk melakukan penanaman pohon dalam rangka pemulihan ekosistem kolaboratif di Kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW) yang secara administratif masuk wilayah Desa Kinomaligan, Kecamatan Dumoga Tengah, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong) Sulawesi Utara (Sulut).

Diketahui, Desa Kinomaligan merupakan salah satu desa penyangga TNBNW yang masuk dalam Resort Dumoga Barat, SPTN II Doloduo, TNBNW.

Yang mana, Desa Kinomaligan dan Werdhi Agung Selatan berbatasan langsung dengan TNBNW, dan sebagian dari wilayah ini telah lama dibuka oleh masyarakat dari kedua desa tersebut untuk dijadikan kebun. Pembukaan kebun di kawasan ini menyebabkan debit air di sekitar lokasi menjadi tidak stabil. Pada waktu musim kemarau debit air kecil, dan pada musim hujan bisa menyebabkan banjir. Oleh karena itu, dalam upaya untuk mengatasi keterlanjuran pengelolaan oleh masyarakat, maka Balai TNBNW telah menawarkan program pemulihan ekosistem kolaboratif kepada masyarakat., dengan cara masyarakat melakukan penanaman pohon jenis tertentu, yang memiliki potensi hasil hutan bukan kayu/HHBK dan juga memiliki nilai ekologis.

Guna mewujudkan hal tersebut, Resort Dumoga Barat sebagai unit terkecil dari Balai TNBNW, bersama EPASS telah melakukan pendekatan dan diskusi dengan Kelompok Lestari di Desa Kinomaligan, untuk menyampaikan pentingnya pelestarian TNBNW. Selanjutnya bersama dengan kelompok masyarakat, membicarakan langkah-langkah ke depannya. Antara lain seperti penanaman pohon di kawasan yang terbuka dengan jenis nantu, cempaka, pala dan kemiri. Sebab, pohon jenis nantu dan cempaka merupakan jenis yang mempunyai manfaat ekologis. Sedangkan kemiri dan pala dipilih oleh mayarakat, karena juga memiliki potensi HHBK.

Penanaman pohon oleh Kelompok Lestari bersama BTNBNW, Sangadi dan EPASS di kawasan TNBNW

Kepala Resort Dumoga Barat Vence Momongan, menyampaikan bahwa, dengan adanya kegiatan pemulihan ekosistem kolaboratif ini, masyarakat dapat memanfaatkan hasilnya mulai 5 tahun ke depan. Di mana buah kemiri dan pala sudah mulai dapat dipanen dan diambil hasilnya oleh masyarakat sendiri.

“Di sisi lain, fungsi ekologis untuk kawasan TNBNW juga akan mulai pulih kembali. Untuk mendukung kegiatan ini, Resort telah mengedrop 1.500 bibit ke lokasi penanaman, yaitu di daerahTayeb. Hal ini adalah upaya minimal resort untuk mendukung pemulihan ekosisitem secara mandiri oleh masyarakat,” terang Vence.

Di sisi lain, Kelompok Lestari yang terdiri dari 15 anggota telah sepakat untuk mulai melakukan penanaman pada bulan Ramadhan ini. Agar kerja pada bulan suci ini diberikan berkah melimpah pada desa mereka. Bahkan, sejak hari Senin lalu Kelompok Lestari telah memulai membuat lubang penanaman.

Ketua Kelompok Lestari Djaini Mokotubong mengatakan, sejak awal terbentuk Kelompok Lestari telah berkomitmen untuk mendukung upaya pelestarianTNBNW, dengan melakukan penanaman pohon.

“Masyarakat menyadari pentingnya kelestarian TNBNW, karena padata hun 2006 lalu terjadi banjir besar di DesaKinomaligan. Oleh karena itu, masyarakat ingin mengembalikan kembali fungsi hidrologis TNBNW dengan melakukan penanaman pohon. Walaupun saat ini baru 15 orang yang terlibat, namun dapat menjadi stimulant untuk masyarakat atau kelompok lain untuk mengikuti kegiatan penanaman,” ungkap Djaini pada awal penanaman yang dilaksanakan bersama dengan BTNBNW, aparat Desa Kinomaligan dan Werdhi Agung Selatan, serta Project EPASS, Rabu (15/5/2019).

Sementara itu, Kepala Balai TNBNW Supriyanto, dalam kegiatan penanaman ini menyampaikan, melalui 10 cara baru kelola kawasan konservasi, maka masyarakat diposisikan sebagai subjek dalam pengelolaan kawasan dan mempertimbangkan prinsip-prinsip HAM. Sehingga dalam penyelesaian masalah dan upaya pelestarian TNBNW, didahului dengan dialog dan komunikasi dengan masyarakat.

“Pemulihan ekosistem kolaboratif ini merupakan salah satu upaya resolusi konflik yang mengedepankan masyarakat sebagai pelaku dalamu payapelestarian TNBNW, dengan didukung oleh Balai TNBNW,” jelasnya.

Adapun program pemulihan ekosistem kolaboratif secara mandiri ini merupakan hasil penerapan Resort Based Management (RBM) secara menyeluruh di Balai TNBNW. Sistem kelola ini memastikan petugas hadir di lapangan dengan target yang jelas, salah satunya anjangsana.

“Kegiatan ini secara rutin meningkatkan frekuensi komunikasi antara petugas dan masyarakat. Sehingga, peran masyarakat dalam kelola kawasan dapat dibangun. Hal ini juga merupakan modal sosial untuk pengelolaan kawasan yang lebih efektif,” sambung Supriyanto.

Sekadar diketahui, TNBNW dengan luas 282.008,757 hektare ini telah ditetapkan sebagai kawasan taman nasional sejak tahun 1993, berdasarkan SK Menhut Nomor.724/Kpts-II/1993. Oleh karena itu, kawasan ini merupakan daerah tangkapan air daerah Bolmong, dan memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, sehingga menjadi penyangga kehidupan masyarakat khususnya di daerah Kabupaten Bolmong.

Selain itu, E-PASS (Enhancing the Protected Area System in Sulawesi for Biodiversity Conservation) atau ‘Peningkatan Sistem Kawasan Konservasi di Sulawesi untuk Konservasi Keanekaragaman Hayati’ adalah proyek hibah GEF diinisiasi sejak tahun 2011 oleh Kementerian Kehutanan bersama UNDP, dan dilaksanakan berdasarkan Naskah Perjanjian Hibah yang ditandatangani oleh Sekjen Kementerian Kehutanan, Country Director UNDP Indonesia dan Kementerian Keuangan pada akhir Maret 2015. E-PASS berkegiatan di tiga lokasi di Sulawesi, yaitu di Cagar Alam Tangkoko, Taman Nasional Bogani Nani Wartabone dan Taman Nasional Lore Lindu.

Tujuan proyek E-PASS adalah untuk membantu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam memperkuat sistem kawasan konservasi di Sulawesi untuk merespon berbagai ancaman terhadap keberadaan sumber daya hayatinya.

­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­(Tim Redaksi)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here