SISTEM MODUL UNTUK PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

0
SISTEM MODUL UNTUK PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
Wahyu Setiyastuti
Advertisement

Oleh: Wahyu Setiyastuti, S. Ag.

(Guru Pendidikan Agama Islam SD Negeri 1 Pasirmuncang Kecamatan Purwokerto Barat, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah)

ISTILAH ‘’MODUL’’ dikumandangkan pertama kalinya di Indonesia, dalam suatu forum rapat antara 8 Proyek Perintis Sekolah Pengembangan di Cibulan, Bogor pada bulan Februari 1974 (ST. Vembriarto, 1981 : 20).

Yang dimaksud dengan pengajaran modul ialah pengajaran yang sebagian atau seluruhnya didasarkan atas dasar modul. Ada kemungkinan seorang tenaga pengajar mengutamakan metode tradisional akan tetapi menyelipkan dan memanfaatkan salah satu atau beberapa modul, ada yang menggunakan suatu rangkaian modul yang lengkap untuk suatu mata kuliah dan akhirnya ada pula yang memberi kesempatan kepada siswa untuk mengadakan pilihan dari sejumlah besar modul yang tersedia.Para pendidik yang sangat meyakini keampuhan pengajaran modul ini meramalkan bahwa masa mendatang seluruh kurikulum yang disipliner maupun indisipliner akan disajikan dalam bentuk modul yang dapat memberikan program yang sesuai dengan kebutuhan setiap siswa atau mahasiswa. (S. Nasution, 1982 : 205)

Untuk lebih memahami konsep pengajaran modul marilah kita perhatikan suatu kelas yang sedang mempelajari hal tanaman jagung menggunakan metode pengajaran modul. Pagi-pagi sebelum pelajaran dimulai, dengan bantuan beberapa siswa, guru membawa enam batang jagung yang lengkap. Sebatang pohon jagung lengkap digantungkan di papan tulis. Lima batang lainnya dipotong pendek-pendek. Sebuah jagung diletakkan di atas meja guru, sedang sisanya dipotong kecil-kecil sebanyak jumlah siswa, guru berkata,’’Marilah kita teliti pohon jagung di papan tulis ini. Masalah yang harus kamu pecahkan adalah yang telah ditulis pada buku kecil yang segera akan dibagikan kepada kamu sekalian. Dalam buku kecil ini tertulis langkah yang harus kamu lakukan dalam penelitian ini. Kalian dapat menulis jawaban pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam kertas yang tersedia. Bila ada di antara kalian yang menemui kesulitan dan memerlukan bantuan, tunjukkanlah jarimu; saya akan datang membantu, sekarang mari kita mulai!.’’ Modul dibagikan, juga lembar kerjanya, lantas siswa membaca modul, siswa sibuk dengan tugasnya, mengamati jagung yang ditulis di modul, menuliskan jawaban di lembar kerja. Guru sama sekali tidak ceramah, kecuali singkat pada awal pembelajaran saja.

Siswa mengerjakan tugasnya dan mengoreksinya sendiri hasil kerjanya. Bila ada yang salah, siswa dapat membaca lagi buku modulnya dan menemukan sendiri jawabannya sampai jam pelajaran berakhir. Kepada mereka guru membagikan  buku modul lain yang lebih singkat, lengkap dengan lembar kerjanya Buku itu mungkin berisi cara menghitung banyaknya produksi jagung yang dihasilkan oleh petani dari berbagai luas bidang kebunnya menurut berbagai kondisi. Modul tambahan (pengayaan) hanya diberikan kepada siswa yang berhasil menyelesaikan modul inti yang berisi tentang tanaman jagung, mereka lebih cepat sebelum pelajaran berakhir dan sebelum teman-temannya selesai. Guru berperan dan bertugas sebagai fasilitator saja; atau dengan kata lain siswalah yang lebih aktif dalam mengelola kegiatan belajar. Dalam pengajaran modul asas individual jelas diterapkan, analisis tujuan, pembuatan frame, asas kerja sendiri kelihatan sekali dipertimbangkan.

Biasanya pengajaran modul menggunakan multy media. Dengan melalui modul siswa dapat mengontrol kemampuan dan intensitas belajarnya. Modul dapat dipelajari di mana saja. Lama sebuah modul tidak tertentu, dapat beberapa menit, dapat pula beberapa jam dan dapat dilakukan tersendiri atau diberi variasi dengan metode lain (H. Muhammad Ali, 1987 : 110)

Pendidikan Agama Islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa dalam meyakini, memahami, menghayati dan mengamalkan agama Islam melalui kegitan bimbingan, pengajaran atau latihan dengan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan Nasional (GBPP. PAI, 1994 : 1)

Dalam Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam di SD Negeri 1 Pasirmuncang kecamatan Purwokerto Barat kabupaten Banyumas; Penulis mencoba mengkolaborasikan sistem belajar tradisional dengan sistem belajar menggunakan modul karena berdasarkan pengamatan Penulis masalah Pendidikan Agama Islam merupakan masalah penanaman Akidah Akhlak di mana anak telah mendapatkan pendidikan Agama tidak hanya dari bangku sekolah, namun dapat dari keluarga, lingkungan sekitar tempat tinggal anak di mana untuk saat ini banyak kegiatan pengajian maupun semacan Diniyah atau Taman Pendidikan Al Quran; maka siswa tidak banyak mengalami kesulitan belajar mandiri di luar mata pelajaran lainnya.

Penggunaan modul tetap disesuaikan dengan tingkatan kelas. Bagi siswa tingkatan rendah yakni dari kelas 1 sampai dengan kelas 3; modul dibuat sesederhana mungkin menyesuaikan tingkatan kemampuan anak; karena banyak di antara siswa yang belum begitu mahir membaca dan memahami kosa kata yang sulit. Modul yang disusun lebih banyak berupa gambar dengan kosa kata sederhana. Siswa tetap membutuhkan bantuan Penulis sebagai pembimbing sekaligus fasilitator bagi siswa.

Untuk siswa tingkatan tinggi yakni dari kelas 4 sampai dengan 6 modul dibuat lebih bervariasi; namun tetap tidak menyimpang dari materi yang harus dipelajari oleh siswa. Penggunaan beberapa alternatif media/ alat peraga/ alat bantu berupa ilustrasi gambar atau tayangan visual (film) yang relevan dapat juga digunakan dalam Proses Belajar Mengajar.

Kreatifitas dan kerja sama dari berbagai pihak tetap sangat dibutuhkan dalam pembelajaran menggunakan modul ini untuk memotivasi belajar siswa agar tercapai hasil pembelajaran yang diharapkan; serta akan lebih baik apabila ditetapkan metode-metode serta dilengkapi media yang variatif dan dapat menumbuhkan kemandirian belajar siswa sehingga akan menjadikan proses dan hasil belajar yang lebih baik lagi.(**)  

*Penulis adalah Guru PAI SD Negeri 1 Pasirmuncang Purwokerto Barat kabupaten Banyumas, propinsi Jawa Tengah yang punya hobi menulis, pernah menerbitkan artikel di surat kabar di Jawa Tengah, menulis antologi Cerita Anak bersama teman-teman satu profesi dan dalam proses penulisan Novel Anak di Program Penulisan buku solo Komunitas Anak Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here