Mie Ojo, Kuliner Favorit di Kota Kotamobagu

0
139
Mie Ojo, Kuliner Favorit di Kota Kotamobagu
Tampak warga Motoboi Kecil saat membuat Me Ojo

BOLMORA.COM, KOTAMOBAGU — Mie Ojo ternyata masih menjadi kuliner favorit di kotamobagu. Hampir semua kantin dan cafe di kotamobagu menyediakan makanan ini sebagai salah satu kuliner khas Kotamobagu.

Seperti industri mie ojo milik Nurlina Damopolii (37), yang terletak di Jalan Gembira Kelurahan Motoboi Kecil Kecamatan Kotamobagu Selatan. Menurutnya, usaha yang Ia beri nama Mie Ojo Putri Garuda ini sudah dikenal luas oleh masyarakat Kotamobagu, bahkan luar kotamobagu

Nurlina menceritakan, tempat pembuatan mie ojo yang berukuran kurang lebih 7×7 meter ini mulanya adalah sebuah warung. Kemudian dialihfungsikan menjadi kantin kecil.

Karena kualitas dan rasa mie yang Ia buat cukup banyak peminat, sehingga akhirnya Linda memutuskan untuk memperluas usahanya dengan menjadi distributor mie ojo yang akan dijual di setiap kantin maupun cafe-cafe yang ada di Kotamobagu.

“Kurang lebih sudah tujuh tahun saya mulai membuat Mie Ojo ini. Awalnya saya usaha warung, kemudian usaha kantin. Nah, karena banyak warga yang memesan mie ojo ini, sehingga saya putuskan untuk lebih baik menjadi pengusaha mie ojo saja yang akan dijual di setiap tempat-tempat usaha di Kotamobagu,” cerita Mama Fitri, sapaan akrabnya.

Sudah banyak pelanggan yang Ia miliki, tak tanggung-tanggung, Dirinya mampu menghabiskan empat karung tepung dalam sehari untuk memenuhi permintaan pelanggannya. Sebab, para pelanggannya tidak hanya dalam kota saja, namun juga datang dari luar Kotamobagu.

“Yah, memang permintaan dari banyak, ada yang dari Gorontalo, Manado hingga daerah tetangga lainnya. Nah, untuk mempertahankan pelanggan itu, maka permintaannya harus dipenuhi. Dibantu Kakak saya itu bisa menghabiskan sedikitnya Empat sak tepung untuk memenuhi kebutuhan pelanggan,” ujarnya

Dari usaha tersebut, Ibu Dua anak ini mampu mencetak pendapatan kurang lebih Rp 400 ribu setiap harinya. 

“Harganya kan per kilogram itu 11 ribu, sedangkan dalam satu sak terigu itu terdapat 33 kilogram, jika dikalikan empat sak, lumayanlah buat tambah-tambah penghasilan suami,” ujarnya

Meski begitu, Nurlina masih mengharapkan bantuan dari pemerintah untuk memperluas usahanya.

 “Tentu masih banyak yang kurang disini, seperti mesin campur. Waktu itu juga saya sudah masukan proposal sesuai instruksi dari dinas perindustrian, namun hingga sekarang bantuannya belum ada, sehingga saya berharap bantuan berupa mesin tersebut dapat diberikan oleh pemerintah untuk mengembangkan usaha ini,” harapnya.

(**/Me2t)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here