Site icon Bolmora.com

Cerita Warga di Kecamatan Dumoga Timur Saat Terjadi Tarkam, Pekerja dan Pengusaha Mengaku Rugi

Cerita Warga di Kecamatan Dumoga Timur Saat Terjadi Tarkam, Pekerja dan Pengusaha Mengaku Rugi

Tampak petugas keamanan saat membersikan sisa-sisa kayu pasca keributan atar dua kampung

BOLMORA.COM, BOLMONG – Tawuran antar kampung (Tarkam) antar desa yang terjadi di Kecamatan Dumoga Timur, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong) sampai saat ini belum juga kunjung usai.

Penelusuran Bolmora.Com, tarkam antar Desa Pinonobatuan (Tambun) dan Dumoga sampai saat ini masih kerap terjadi, meski dalam skala kecil. Baku hantam antar kedua desa tidak lagi di jalan utama, tapi di pedalaman kampung.

Dari penuturan seorang warga Desa Dumoga yang ditemui, masyarakat setempat sering mengunakan panah wayer dari bahan kateter untuk membela diri dari Desa Tambun.

“Kateter membuat lontaran panah wayer menjadi lebih kencang, karena kateter bisa ditarik lebih panjang,” ujar seorang warga.

Dikatakan, warga juga sering mengunakan panah saat sedang terjadi tarkam.

 “Panah biasanaya kami gunakan bahan dari pipa, bahkan pagar besi,” ucapnya.

Ia juga menuturkan, sering kali warga membuat panah dan panah wayer dengan gotong royong.

“Biasanya laki-laki membuat pelurunya, wanita memasang tali pada bagian belakang panah wayer,” sebutnya. 

Untuk senapan angin, warga kebanyakan menggunakan jenis 4,5 dan 5,5. Senapan angin lebih banyak digunakan warga Tambun. Perang dengan senapan angin berlangsung layaknya perang di film-film. Baku tembak sering berlangsung dalam jarak 20 sampai 30 meter. Untuk mempermudah membidik lawan, dipakailah lampu sorot. Yang kena sorot bakal jadi sasaran tembak.

 “Salah satu adalah om saya. Dia kena tembak, tiga peluru bersarang di badannya,” ungkap dia.

Dalam kesempatan itu, para penembak biasanya adalah pemburu tikus atau hewan lainnya.

“Biasanya dikenal sebagai sniper tikus,” kata seorang warga lainnya.

Terjebak dalam lingkaran setan, umumnya warga mengaku ingin keluar dan hidup normal.

“Kami ingin hidup damai kembali,” kata beberapa warga lagi.

Akibat tarkam, warga tak fokus kerja. Sejumlah usaha rumah makan pun harus tutup jika baku hantam terjadi.

“Kalau situasi memanas, ya terpaksa tutup. Ini sangat merugikan,” ujar warga lainnya.

(Tim Redaksi)

Exit mobile version