IDEALISME : ASN JUGA MANUSIA YANG PUNYA HATI

0
1173
IDEALISME : ASN JUGA MANUSIA YANG PUNYA HATI
Abdussalam Bonde

Oleh : ABDUSSALAM BONDE (Ketua KNPI Kabupaten Bolmong)

ADA sebagian orang yang menganggap jika aktivis masuk menjadi Apartur Sipil Negara, maka seketika pula idealismenya hilang. Sehingga yang merasa mempunyai idealisme, disarankan untuk tidak masuk ke dalam dunia ASN yang anti idealisme.

Anggapan ini menurut saya keliru dan salah. Sebab jika kita bicara idealisme, maka kita akan menemukan berbagai interpretasi yang berbeda-beda dari setiap orang yang memberikan pandangan tersebut. Hal ini tergantung dari mana dan apa latar belakangnya. Maka tentu tidak heran jika idealisme dalam pandangan mahasiswa, pedagang, pengusaha, politisi dan ASN kemudian berbeda pula.

Idealisme pada diri manusia mucul dari proses interaksi yang cukup panjang; melalui internalisasi nilai-nilai pada institusi pendidikan, diskusi-diskusi, seminar-seminar, dan lain sebagainya. Proses Internalisasi ini dilakukan secara sadar maupun tidak; diawali dengan membaca, memahami, menghayati, dan melaksanakannya. Ketika nilai-nilai telah bersemayam dalam diri manusia, maka sekuat tenaga ia akan mengaktualisasikannya dalam perilaku sehari-hari. 

Maka mereka yang dengan teguh memegang nilai-nilai luhur, dan mengaplikasikanya dalam kehidupan sehari-hari dianggap sebagai orang yang idealis. Hal ini penting ditegaskan, bahwa idealisme akan selalu ada. Termasuk dalam lingkup Aparatur Sipil Negeri (ASN) yang menjalankan tugas pemerintahan yang mereka emban.

Idealisme sebenarnya memang terdapat di berbagai aspek kehidupan. Karena pengertian idealisme adalah suatu pemikiran, ide, dan logika yang menuju ke arah ideal. Pertanyaannya : siapa yang tidak ingin ideal? Atau siapa yang tak ingin kehidupan yang lebih baik? jika idealisme mati, maka sesungguhnya kehidupan pun ikut mati.

Pemerintahan melalui berbagai lembaga dan pembinaan ASN, selalu berusaha menciptakan idealisme birokrasi. Dalam setiap institusi pemerintahan, selalu dituntut untuk konsisten menjalankan regulasi baik undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan presiden dan peraturan lainnya. Dan itulah idealisme ASN, yakni konsisten pada regulasi.

ASN kini dituntut berpikir dan bertindak cepat. Mudah dan praktis dalam memberikan pelayanan sesuai peraturan dan prosedur yang benar. Kualitas pelayanan dapat dinilai dari kecepatan, ketepatan, kemudahan dan tidak berbelit-belit. Kecepatan dalam mendapatkan pelayanan apapun tetap dalam kerangka kontrol birokrasi yang baik dan dewasa. 

Sebagai ASN mari memupuk idealisme dan semangat bekerja, kepekaan sosial, memperkokoh persaudaraan dan penghayatan spirit Ikhlas Beramal sebagai landasan keluhuran kerja.

Idealisme itu akan selalu ada. Ia tak akan pernah hilang. Dimana saja dan kapan saja. Yakni bagi mereka yang selalu menghendaki kebaikan bersama. 

Sama seperti tafsir personal partai politik terhadap idealisme–yang selalu berpegang pada prinsip-prinsip partainya sendiri. Apakah hal itu salah? Tentu tidak. Karena memang idealisme selalu tergantung pada berbagai faktor. Dan setiap partai politik pasti akan selalu menganggap bahwa dialah yang paling ideal. Paling baik. Paling disukai. Bukan yang lain.

Olehnya itu, sebagai apapun kita, maka pandangan kita terhadap idealisme pasti akan selalu beda. Hingga bagi saya, substansi idealisme adalah segala pikir,  tindak tanduk dan sikap kita yang mencerminkan kebaikan bersama, dan untuk tujuan bersama. Jadi jangan ragu soal idealisme ASN, karena ASN juga manusia yang punya hati dan cita-cita. “NatuaDega’”.

Penulis Adalah Warga Desa Dolodua, Kabupaten Bolaang Mongondow

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here