BOLMORA.COM, BOLSEL — Walau luas lahan perkebunan dan pertanian di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel) tidak seluas daerah lainnya. Namun upaya pemerintah daerah dalam mendorong produksi komoditas pertanian dan perkebunan terus digenjot.
Salah satu fokus pemerintah daerah selama beberapa tahun terakhir ini, yaitu mendorong Kabupaten Bolsel sebagai lumbung cabai rawit Sulawesi Utara (Sulut).
Hal itu pun bisa terlihat dari total produksi cabai rawit di Bolsel sepanjang tahun 2018 hingga 2020 yang produksinya mengalami peningkatan yang cukup signifikan.
Berdasarkan data dari Dinas Pertanian (Distan) Bolsel, produksi cabai rawit di daerah yang berada di ujung selatan Sulut itu mampu menghasilkan 400 sampai 600 ribu kilo gram (kg) tiap tahunnya.
Kepala Distan Bolsel melalui Sekertaris Ronald Daun menyampaikan, Jika melihat dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Provinsi, komoditas utama yang didorong di rata-rata wilayah yang memiliki potensi pertanian dan perkebunan yakni jenis Pajale (Padi, Jagung dan Kedelai), Senin (02/08/2021).
“Di tengah mendorong komoditas Pajale, Pemkab Bolsel juga memberikan perhatian khusus kepada produksi cabai rawit di Bolsel. Kita ingin menjadikan Bolsel sebagai ikon cabai rawit di Sulut,” ujarnya.
Dikatakan, hasil panen sejak 2018 sampai 2020 memang sangat meningkat. 2018 hasil panen mencapai 402.900 Kg, tahun 2019 sempat menurun hasil panen hanya 384.330 kg.
“Sedangkan pada 2020 walaupun Bolsel dilanda bencana hasil panen meningkat drastis sampai 613.600 kg,” Jelasnya.
Di tempat yang sama, Kepala Bidang Ketahanan Pangan Yoyo Manoppo juga mengatakan, selama ini rica atau cabai rawit Gorontalo cukup tenar di pasaran, padahal menurutnya kebanyakan cabai dari sana merupakan cabai yang dikirim dari Bolsel.
“Banyakan rica di sana dari kecamatan Posigadan semua,” ungkapnya.
Lanjutnya, alasan utama cabai rawit dianggap komoditas yang layak didorong di Bolsel, karena suhu dan kontur tanah ada sangat cocok dengan tanaman cabai.
“Komoditas ini cukup menjanjikan, tinggal bagaimana kita mempertahankan harga pasar agar masyarakat lebih antusias lagi menanam cabai. Maka dari itu, perlu perananan lintas sektor,” imbuhnya.
Sekedar diketahui, bentuk dukungan Pemda untuk peningkatan produksi cabai rawit di Bolsel salah satunya dengan memberikan bantuan berupa pengembangan bibit unggul dan penyediaan sarana produksi pertanian.
Tercatat di tahun 2020 lalu, Pemda Bolsel melalui Distan setempat telah menyalurkan bantuan tersebut pada 25 kelompok petani cabai. Setiap kelompok menerima bantuan sebesar Rp.26.555.000,- yang diterima dalam bentuk bibit, pupuk dan sarana produksi.
(Nanda)
