Pemkab Bolmong Jaga Geliat Ekonomi di Tengah Pandemi Covid-19

0
400
Pemkab Bolmong Jaga Geliat Ekonomi di Tengah Pandemi Covid-19
Bupati Yasti Soepredjo Mokoagow dan Wakil Bupati Yanny R. Tuuk
Advertisement

BOLMORA.COM, ADVERTORIAL – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bolaang Mongondow (Bolmong) Sulawesi Utara (Sulut) menjaga geliat perekonomian di wilayah itu agar tetap terjadi pertumbuhan, walau di tengah pandemi Covid-19 melanda dunia.

Di tangan dingin Bupati Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong) Yasti Soepredjo Mokoagow (YSM) dan Wakil Bupati Yanny Ronny Tuuk potensi Kabupaten Bolmong yang memiliki luas wilayah 26 persen luas di Sulawesi Utara, serta daerah yang sangat kaya akan sumber daya alam diantaranya 70 ribu lahan perkebunan jagung, 24 ribu lahan pertanian, 50 ribu lahan kelapa dalam, 5000-an untuk tanaman holtikultura. Kemudian ada kopi sekitar 7000 hektar, coklat serta potensi bawah laut yang melimpah dengan bibir pantai kurang lebih 121.000 Km dan lain sebagainya, membuat YSM optimis membawa Bolmong bersaing dengan daerah lain.

Momen peringatan HUT Kabupaten Bolmong

Dalam pemerintahannya Yasti-Yanny mengajak Tahlis Gallang kembali ke Bolmong dengan menjabat sebagai Sekertaris Daerah (Sekda) setelah sebelumnya menjabat Sekda di dua daerah berbeda yakni Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel) dan Kota Kotamobagu.

Bupati Bolmong yang juga dijuluki Bunda Infrastruktur ini terus memperjuangkan pembangunan hingga pembukaan industri, dengan berhasil mendatangkan infestasi sebesar 160 Triliun untuk Kawasan Industri Mongondow, sasarannya adalah terbukannya lapangan pekerjaan bagi puluhan ribu putra putri Bolmong agar ekonomi masyarakat meningkat

Ditengah Pandemi Covid-19, orang nomor satu di Bolmong ini juga berhasil mencatat sejarah dengan berhasil meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) setelah sekian lama Bolmong terjebak Opini Disclaimer.

Bupati Bolmong Yasti Soepredjo saat menerima LHP dengan Opini WTP

Kerja keras Bupati Bolmong di tengah wabah pandemi Covid-19 namoaknya membuakan hasil. Terbukti pertumbuhan ekonomi di bolmong 2017 mencapai 6,19 persen angka ini terus naik hingga tahun 2020 yakni menjadi 7,2 persen. Yasti menargetkan di tahun 2022 naik kembali menjadi 7,51 persen.

Saat di wawancarai beberapa waktu lalu, Yasti mengaku pemerintah dan masyarakat Bolmong tidak begitu sulit mengatasi perekonomian. Dimana kata Yasti, pemerintah memberikan berbagai stimulus.  Terutama dibidang pertanian seperti bantuan bibit, bantuan pupuk kepada petani kami berikan.

“Selanjutnya, melakukan kampanye dan sosialisasi agar masyarakat tetap melaksanakan aktivitas berkebun. Misalnya, yang berprofesi nelayan tetap nelayan,” kata Yasti.

Bupati dan Sekda menyerahkan sekaligus mencoba alat pertanian

Seperti tak kehabisan akal, Yasti juga mengeluarkan kebijakan melalui Peraturan Bupati (Perbup) untuk optimalisasi lahan pertanian. Dimana kepala-kepala desa di Bolmong diminta untuk mendata semua lahan pertanian yang ada di masing masing desanya, para Kepala Desa ini diminta mendata lahan yang sudah di garap dan belum di garap. Untuk lahan yang belum digarab, pemerintah akan meminta mereka bercocok tanam, atau bisa dipinjamkan ke masyarakat lain untuk tanaman bulanan.

“Inilah yang mengakibatkan pertumbuhan ekonomi di Bolmong di masa pandemi naik dari 7 persen jadi 7,3 persen. Ini tertinggi di Sulut dan di atas rata-rata Nasional yang pada saat itu banyak daerah minus pertumbuhan ekonominya,” katanya.

Lanjutnya, Pemda Bolmong memberikan bantuan pada saat pandemi kurang lebih Rp30 Miliar untuk bibit dan pupuk kepada petani. Itu hanya mampu untuk 14.500 hektar lahan. Jika Pemkab Bolmong memberikan subsidi, karena bunga pinjaman kredit UMKM itu 6 persen, Rp 300 Miliar hanya Rp18 Miliar, Rp30 Miliar menghasilkan pertumbuhan ekonomi 7,3 persen di masa pandemi. Kalau kemudian Rp300 Miliar pinjaman dari perbankan dan subsidi bunga diberikan pemerintah daerah, bisa kita bayangkan berapa besar putaran uang disitu.

“Saya memberikan contoh 50.000 hektar lahan kita tanami jagung. Satu hektar lahan itu bisa menghasilkan 5 Ton jagung dengan harga 4000 per Kg. Kalau 4000 per 1 kg, didalam satu hektar itu ada 5 ton berarti masyarakat mendapatkan Rp20 juta per hektar kalau kita kali dengan 50.000 hektar ada Rp1 Triliun untuk 3 bulan masa tanam. Putaran ekonominya luar biasa, itu baru poin jagung, belum lagi padi,” kata Yasti.

Bupati saat menyerahkan bantuan berupa bibit jagung

Sementara untuk padi kata Yasti, Pemkab Bolmong telah bekerja sama dengan Universitas Samratulangi untuk mengembangkan padi jenis sulutan. Saat ini petani hanya mampu memproduksi padi 3 sampai 4 Ton gabah. Padi jenis sulutan ini mampu memproduksi 6 sampai 7 ton gabah. 

“Artinya terjadi intensifikasi pertanian yang luar biasa untuk padi,” ucap Yasti.

Memasuki tahun ke lima masa kepemimpinan Bupati Yasti, hampir semua janji politik dalam visi dan misi tercapai. Kendati belum semua, menuju tahun ke lima ini, banyak juga kemajuan dan keberhasilan yang dicapai terutama dalam bidang kesehatan, pendidikan dan pertanian serta sektor lainnya.

(Advertorial/Agung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here