Site icon Bolmora.com

Teruskan Usaha Orang Tua, Oling dan Adiknya Tekuni Pandai Besi Sejak 2009

Teruskan Usaha Orang Tua, Oling dan Adiknya Tekuni Pandai Besi Sejak 2009

Tampak pandai besi sedang membuat alat pertanian

BOLMORA.COM, KOTAMOBAGU – Untuk memenuhi kebutuhan para petani di Poyowa Besar dan sekitarnya, beberapa pandai besi di Desa Poyowa Besar 1 masih tetap menjadi andalan masyarakat modern.

Meski kini peralatan yang digunakannya sudah tergolong modern, namun tidak serta merta menghilangkan kesan tradisionalnya.

Dengan lengkingan hantaman besi yang menjadi khasnya, para pandai besi mulai beraksi menempa aneka besi menjadi ragam alat pertanian mulai parang, pisau, linggis hingga peralatan tajam lainnya.

Meski menjadi andalan dan telah ada sejak puluhan tahun kondisi bangunan tempat tukang besi sangat jauh dari kata modern dan mewah. Meski demikian hasil karya para pandai besi tersebut telah tersohor.

Satu di antaranya, usaha pandai besi milik Gupli Andu (37) atau yang akrab disapa Oling. pemilik usaha pembuatan parang ini menekuni usaha ini sejak tahun 2009.

“Awalnya usaha ini merupakan milik orang tuanya yang diteruskan oleh saya beserta adik,” ungkap Oling, Jumat (3/7/2020).

Menurutnya, seiring perkembangan zaman, beberapa alat dan teknik mulai berubah dan menginjak modernisasi. Namun tetap menjaga kualitas dan kepuasan konsumen.

“Seperti sekarang kami tidak memakai pompa angin manual lagi mas, sekarang kami mengandalkan kipas (blower) untuk membuat bara dari arang agar tetap menyala, biar nanti bisa dipakai untuk proses pembakaran besi sebelum dibentuk jadi model parang, pisau dan yang lainnya,” terangnya.

Menurutnya, para peminat yang datang ke tempat usahanya merupakan para langganan sejak usaha ini masih dijalankan oleh orang tuanya.

“Kami sudah punya pelanggan tetap baik dari Poyowa Besar sendiri maupun desa dan kelurahan tetangga lainnya,” ujar Oling.

Untuk soal harga, dirinya menjelaskan, hal itu sesuai ukuran dan bentuk parang atau sejenisnya yang dibuat.

“Rata-rata untuk harga parang Rp 200 ribu, itupun modelnya yang biasa dipakai. Tapi untuk model yang sedikit rumit harganya sedikit lebih tinggi. Untuk bahan baku, kami dapat dari tempat penjualan besi bekas di Molinow maupun Mongkonai, seperti besi per mobil, besi behel bekas. Sedangkan kayu untuk gagangnya dan sarung kita dapatkan di tukang-tukang kayu maupun dibawa langsung oleh para pelanggan,” jelas Oling.

Dalam sehari lanjut Oling dirinya mampu membuat 2 buah parang dan 5 buah pisau.

“Kendala yang sering dihadapi, terkait mati lampu, jadi blowernya dan gurinda tidak bisa dipakai. Terus bila musim penghujan, arang terkadang basah, terkadang besi untuk bahan baku sulit dicari sesuai pesanan konsumen,” ujarnya.

(Me2t)

Exit mobile version